Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 51, 52 dan sebagian 53.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 22
***
Halaman 51
Setelah pertemuan dengan K.H. Ahmad Dahlan itu, Saeroji bersama-sama dengan H.M. Akuwan dan H. Sidik merintis berdirinya Muhammadiyah di Kepanjen. Pada 21 Desember 1921 Muhammadiyah Kepanjen resmi berdiri dengan status cabang melalui Surat Keputusan Hoofdbestuur Muhammadiyah No.7/1921.
Pengurus pertama adalah H.M. Akuwan (Pemuka), Mc. Suratin (Pemuka Muda), M. Marto Utomo (Juru Surat I), M. Abd. Mukhtar (Juru Surat II), dengan anggota-anggota: M. Saeroji, M. Notodiharjo, H. Nursyahid, R. Mattazis, M. Karno, dan R. Abdullah Asfari. Sedangkan pengurus Aisyiyah adalah Ny. H.M. Akuwan sebagai Pemuka, Ny. Mujayyanah (Juru Surat) dan Ny. M. Munaji (Juru Uang).(31) Berdirinya Muhammadiyah Kepanjen diikuti pula dengan berdirinya Aisyiyah.
Blitar. Ada dua versi tentang berdirinya Muhammadiyah Blitar, sebagaimana dituturkan oleh dua orang tua (sesepuh), yaitu H. Salim dan H. Sumardi. Menurut H. Salim, Muhammadiyah Blitar berdiri sekitar 1921, sedangkan menurut H. Sumardi, Muhammadiyah Blitar baru berdiri pada 1928.(32) Menurut H. Salim, tokoh-tokoh yang mengemudikan Muhammadiyah Blitar pada awal berdirinya adalah H. Tamar, Kasan Mukmin, H.A. Muhammad (ayahanda H. Salim), Noto Ilham, Kasan dan Abdulrahim.(33)
Menurut H. Sumardi, tokoh-tokoh yang menjadi penggerak Muhammadiyah Blitar pada awal berdirinya adalah Mangun Suryo, Hadi Wasito, Parto Mukri (ayahanda H. Sumardi) dan Noto Ilham.(34) Yang menarik dari dua sumber itu adalah bahwa berdirinya Muhammadiyah Blitar tidak lepas dari sentuhan tokoh bernama Abu Suja’, baik sebagai muballigh maupun guru.
Sumberpucung. Dalam kunjungannya ke Sumberpucung, K.H. Ahmad Dahlan berkenalan dengan Kepala Stasiun Kereta Api
Halaman 52
bernama Aspari. Kepala Stasiun ini tertarik dengan pribadi dan penampilannya. Pada kesempatan lain Aspari dengan cara menyamar bertandang ke rumah K.H. Ahmad Dahlan di Jogjakarta, untuk membuktikan apakah kesannya itu benar-benar asli atau hanya pulasan belaka.
Setelah bertamu dan memperoleh pelayanan yang sangat ramah dan baik yang tidak diduganya, ia pun berbulat tekad untuk menerima dan berusaha mendirikan Muhammadiyah di tempatnya. Berdirinya Muhammadiyah di Sumberpucung menjadi kenyataan pada 1922.(35)
Ponorogo. Pada 1922 Muhammadiyah berdiri di Ponorogo. Jauh sebelum berdirinya Muhammadiyah di tempat ini, telah terjadi proses interaksi dua arah (pihak). Di Ponorogo, hadir dua orang pendatang, yaitu seorang muballigh dari Solo bernama Kyai Bisri dan seorang pedagang dari Jogjakarta bernama Turki, yang sering shalat di langgar Wetan Pasar.(36)
Keduanya memberi informasi tentang adanya organisasi Muhammadiyah yang dipimpin oleh K.H. Ahmad Dahlan di Jogjakarta. Informasi ini menarik perhatian Kasan Muhammad dan dua orang pemuda asli Ponorogo bernama Karso Diwiryo (menantu Kasan Muhammad) dan Ali Diwiryo. Pada 1922, K.H. Ahmad Dahlan berkunjung ke Ponorogo atas undangan CSI. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kasan Muhammad dan kedua
Halaman 53
orang pemuda aktivis pengajian pemuda “Wetan Pasar” itu. Mereka berkeinginan untuk mendalami seluk-beluk mendirikan Muhammadiyah. Akhirnya mereka mengutus Karyo Diwiryo menemui K.H. Ahmad Dahlan di Jogjakarta.(37)
K.H. Ahmad Dahlan memberi petunjuk dan syarat-syarat untuk mendirikan sebuah ranting Muhammadiyah. Kedua pemuda itu bekerja keras untuk mengumpulkan orang-orang yang sepaham, paling tidak 20 orang, dan kemudian mereka memilih tujuh orang untuk menjadi pengurus. Muhammadiyah Ponorogo akhirnya resmi berdiri pada 22 Pebruari 1922 dengan Surat Ketetapan dari Hoofdbestuur Muhammadiyah No. 22/1922.(38)
Selanjutnya pada 1927 Ranting Muhammadiyah Ponorogo berubah statusnya menjadi cabang, berdasarkan Surat Keputusan Hoofdbestuur Muhammadiyah No.087/PD/68-71.(39)
Dari uraian di atas, para tokoh yang berusaha keras untuk mendirikan Muhammadiyah di Surabaya, Kepanjen, Blitar, Sumberpucung dan Ponorogo pada 1921 dan 1922, dapat disebut sebagai tokoh perintis (al-sabiqun al-awwalun) berdirinya Muhammadiyah di Jawa Timur.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments