Gemuruh tepuk tangan, sorak kagum, dan wajah-wajah penuh kebanggaan memenuhi Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Kamis malam (30/7/2026). Bukan sekadar pertunjukan, Panggung Ekspresi (PX) 2026 SDMT Ponorogo menjadi perayaan besar atas keberanian anak-anak untuk tampil, berkarya, dan menunjukkan potensi terbaik mereka di hadapan ribuan pasang mata.
Istimewanya, gelaran spektakuler tersebut turut dihadiri Bunda Lisdyarita. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Ponorogo itu semakin menambah semarak panggung yang menampilkan ratusan siswa dengan beragam talenta dan kreativitas.
Sejak awal acara, suasana telah terasa berbeda. Panggung seolah berubah menjadi ruang tanpa batas bagi anak-anak untuk berekspresi. Drama kolosal yang megah, tarian yang enerjik, penampilan band, Habsy, hingga beragam pertunjukan lainnya silih berganti memukau penonton.
Sebanyak 436 siswa kelas 4, 5, dan 6 tampil dalam PX 2026. Menariknya, seluruh siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berada di atas panggung. Tidak ada seleksi, tidak ada yang hanya menjadi penonton.Semua tampil sesuai dengan bakat, minat, dan potensi masing-masing.
Ruang Tumbuh
Kepala SDMT Ponorogo, Jainal Abidin, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata.
“Sering kali kita menuntut prestasi anak hanya berdasarkan nilai maupun kemampuan akademik. Padahal, di masa mendatang anak-anak harus menguasai banyak keterampilan. Mereka harus berani berbicara di depan publik dan berani mengekspresikan dirinya,” ungkapnya.
Menurutnya, PX 2026 merupakan bagian dari ikhtiar sekolah untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih luas bagi seluruh siswa.
“Panggung Ekspresi ini adalah bagian dari upaya memberikan ruang kepada seluruh siswa untuk berani tampil dan berekspresi. Karena setiap anak memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang harus diberikan kesempatan untuk tumbuh,” lanjutnya.
Di atas panggung, anak-anak tidak hanya sedang menampilkan sebuah pertunjukan. Mereka sedang belajar tentang keberanian. Mereka belajar mengatasi rasa gugup, bekerja sama, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Di sinilah PX SDMT 2026 menjadi lebih dari sekadar pentas seni, tapi menjadi panggung pendidikan kehidupan.
Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, SH, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Panggung Ekspresi 2026 SDMT Ponorogo. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang penting bagi tumbuh kembang anak, sekaligus menjadi momentum bagi orang tua untuk semakin dekat dengan buah hati.
Bunda Lisdyarita secara khusus mengajak para wali murid, terutama para ayah, untuk meluangkan lebih banyak waktu bersama anak-anak.
“Fenomena saat ini, sosok ayah sangat dirindukan oleh anak-anak. Setidaknya luangkan waktu, walaupun hanya sekadar mengantar anak ke sekolah atau menemaninya belajar. Sosok ayah sangat penting bagi anak,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang sekolah dan nilai. Ada kehadiran, perhatian, dan waktu yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
PX 2026 SDMT Ponorogo tidak hanya menyisakan kemeriahan pertunjukan, tapi juga meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam: setiap anak memiliki panggungnya sendiri. Tugas orang dewasa bukan memilih siapa yang boleh tampil, melainkan memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk menemukan keberanian, menunjukkan potensi, dan percaya bahwa dirinya berharga.
Dan di Expotorium UMPO, 436 anak telah membuktikannya. Mereka berani tampil, mereka berani berekspresi. Dan ribuan penonton menjadi saksi bahwa masa depan sedang tumbuh di atas panggung. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments