Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekolah Kreatif Baratajaya Menjadi Rujukan Sekolah Inklusif

Iklan Landscape Smamda
Sekolah Kreatif Baratajaya Menjadi Rujukan Sekolah Inklusif
Suasana ruang rapat Sekolah Kreatif Baratajaya saat menerima kunjungan studi tiru dari SDM 10 dan SDM 17 Surabaya. (Ahmad Mahmud/PWMU.CO)
pwmu.co -

Tidak ada usaha yang instan, inilah kisah keberhasilan SD Muhammadiyah 16 Surabaya mengembangkan pendidikan inklusif. Selama lebih dari dua dekade menjadikan mengusung sekolah pendidikan inklusif kini menjadi rujukan bagi sekolah lain, Jumat (31/7/2026).

Rombongan dari SD Muhammadiyah 10 Surabaya dan SD Muhammadiyah 17 Surabaya melakukan studi tiru untuk mempelajari pengelolaan sekolah inklusif serta manajemen shadow teacher di sekolah yang dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya.

Tepat pukul 09.30 WIB rombongan datang dan disambut langsung Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd. Kegiatan diawali dengan touring class untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran di masing-masing kelas.

Saat mendampingi rombongan berkeliling, Ely mengisahkan perjalanan panjang sekolah dalam membangun sistem pendidikan inklusif sejak 2002.

“Dulu waktu mengawali juga tidak mudah, Ustaz. Setiap orang pasti meragukan apa yang kami lakukan. Tapi setelah melihat langsung, mereka tahu bagaimana kami melayani siswa inklusi,” ujar Ely.

Menurut Ely, membangun sekolah inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi juga menumbuhkan budaya sekolah yang menerima setiap anak dengan segala keunikannya.

Selama observasi, Ely didampingi Wakil Kepala Sekolah Suyono, S.Si mengajak rombongan memasuki setiap kelas. Para tamu tidak hanya berdialog dengan guru kelas dan shadow teacher, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa berkebutuhan khusus.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Kepala SD Muhammadiyah 10 Surabaya, Khoirul Anam, M.Pd.I.

“Alhamdulillah, dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, siswa berkebutuhan khusus di sini mampu berinteraksi dengan sangat baik. Bagi saya, itu merupakan prestasi yang luar biasa,” ungkapnya.

Khoirul Anam hadir bersama sekitar sepuluh peserta yang terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta beberapa perwakilan guru kelas.

Kegiatan touring class sempat dihentikan sementara untuk pelaksanaan salat Jumat. Setelah itu, agenda dilanjutkan pukul 12.30 WIB di ruang rapat dengan sesi diskusi mengenai pengelolaan pendidikan inklusif.

Diskusi dibuka oleh Suyono wakil kepala sekolah dan dilanjutkan oleh Khoirul Anam yang mengajukan pertanyaan mengenai sistem manajemen sekolah inklusif, mulai dari konsep pengelolaan hingga strategi pendampingan siswa berkebutuhan khusus.

Sekolah Inklusif

Menanggapi hal tersebut, Penggagas Sekolah Kreatif sekaligus anggota Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), Heru Tjahyono, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang keliru memahami konsep sekolah inklusif.

“Sekolah kita memiliki deferensiasi bahwa sekolah inklusif tidak harus identik dengan adanya anak berkebutuhan khusus. Selama ini terlanjur muncul anggapan bahwa sekolah inklusi pasti hanya berbicara tentang ABK,” jelas Heru.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia menegaskan bahwa makna inklusif jauh lebih luas.

“Sekolah inklusif memuat keberagaman peserta didik. Ada siswa reguler, ada siswa berkebutuhan khusus, bahkan ada siswa dengan kebutuhan yang sangat spesifik. Bagian itulah yang masih jarang dipahami banyak orang.”

Heru juga mengingatkan bahwa perjalanan Sekolah Kreatif Baratajaya sebagai sekolah inklusif tidak selalu berjalan mulus.

“Ketika memulai pada tahun 2002, keputusan itu menjadi kontroversi di masyarakat. Mengawali memang tidak mudah, tetapi kami memilih tetap konsisten dengan misi melayani semua anak.”

Suasana diskusi semakin hidup ketika salah satu peserta menanyakan mekanisme screening penerimaan siswa berkebutuhan khusus serta pengelolaan shadow teacher.

Koordinator Inklusi, Ida Afifah, S.Pd, menjelaskan bahwa hingga saat ini sekolah memiliki 110 siswa berkebutuhan khusus yang didampingi oleh 68 shadow teacher.

“Saat ini kami memiliki 68 shadow teacher dan 110 siswa berkebutuhan khusus. Jumlah itu tentu tidak sedikit. Berbagai macam karakteristik dan kebutuhan ada di sini. Semua adalah amanah. Berawal dari keikhlasan menerima setiap anak apa pun kondisinya. Misi kita mulia sehingga keyakinan itu harus dibangun sejak awal,” tutur Ida.

Ia juga berbagi pengalaman selama mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

“Berbagai tantangan sudah saya rasakan. Pernah diadu fisik, dilempar benda, bahkan sampai diludahi. Itulah bagian dari perjuangan. Pendamping harus memiliki kesabaran, ketulusan, dan konsistensi dalam mendampingi anak-anak.”

Berbagai pertanyaan teknis terus mengalir, mulai dari pola kerja shadow teacher, pembagian tugas, sistem koordinasi, hingga mekanisme penggajian. Seluruh pertanyaan dijawab secara terbuka oleh Ida Afifah bersama Suyono berdasarkan pengalaman SD Muhammadiyah 16 Surabaya selama mengelola pendidikan inklusif.

Kegiatan studi tiru tersebut menjadi ajang berbagi praktik baik sekaligus memperkuat kolaborasi antar sekolah Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan inklusif. Bagi SD Muhammadiyah 16 Surabaya, perjalanan yang dahulu dipenuhi keraguan kini justru menjadi inspirasi dan rujukan bagi sekolah-sekolah lain yang ingin menghadirkan layanan pendidikan tanpa diskriminasi bagi setiap anak. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu