Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 49, 50 dan sebagian 51.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 21
***
Halaman 49
Berangkat dari kekagumannya kepada K.H. Ahmad Dahlan dan didorong oleh gelora jiwanya sebagai pejuang dan intelektual muda, pada 1920 K.H. Mas Mansur menerima ajakan K.H. Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah di Surabaya. Maka dengan didukung oleh beberapa orang tokoh yang menerima paham pembaharuan, antara lain H. Ali, H. Azhari Rawi, H. Ali Ismail dan Kyai Usman, Muhammadiyah dapat berdiri di Surabaya.(23)
Tentang berdirinya Muhammadiyah di Surabaya ini, K.H. Ahmad Dahlan berkata kepada kawan-kawannya di Jogjakarta bahwa ‘sapu kawat Jawa Timur’ sudah ada di tangannya.(24) Jika sosok, pikiran, sikap dan kiat K.H. Mas Mansur diibaratkan sebagai “sapu kawat” agaknya tidak berlebihan. Sebab, pertama, dalam rentang waktu 1921–1927 ia sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya telah berhasil membentuk Groep (Ranting) Muhammadiyah di Gresik, Jombang dan Mojoagung.
Kedua, pada 1926 Surabaya sudah sanggup menjadi tuan rumah Kongres Muhammadiyah ke-15. Ketiga, dalam rentang waktu 1921–1942, K.H. Mas Mansur telah menduduki tiga jabatan bertingkat dalam struktur Muhammadiyah, yaitu Ketua Cabang Surabaya, Konsul H.B. Daerah Surabaya, dan Ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah. Hamka menyatakan bahwa di antara pemimpin-pemimpin yang menjadi jiwa dan tenaga kuat Muhammadiyah sepeninggal K.H. Ahmad Dahlan adalah K.H. Fachruddin di Jogjakarta, K.H. Mas Mansur di Surabaya, K.H. Mukhtar Bukhari di Solo, dan K.H. Abdul Mu’thi di Madiun.(25)
Era pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu tahap perintisan, tahap persebaran, tahap perluasan. Era pertumbuhan yang sebenarnya adalah sejak pertama kali Muhammadiyah berdiri di Jawa Timur sampai berakhirnya masa Penjajahan Belanda di Indonesia (1942). Sejak masa Pendudukan Tentara Jepang (1942–1945), masa Perang
Halaman 50
Kemerdekaaan (1945–1949) sampai dengan Muktamar Palembang (1950-1956), Muhammadiyah mengalami stagnasi. Pada rentang waktu antara 1942–1956, Muhammadiyah di Jawa Timur hanya bertambah di dua tempat, yaitu Bojonegoro pada 1947 dan Lamongan pada 1951.
- Tahap Perintisan
Tahap perintisan ini berarti bahwa benih paham pembaharuan yang disebarkan K.H. Ahmad Dahlan telah mulai tumbuh di Jawa Timur. Benih itu tumbuh pertama kali di Surabaya dan Kepanjen, kemudian Blitar, Sumberpucung dan Ponorogo.
Surabaya. Muhammadiyah Surabaya berdiri pada 1 Nopember 1921. Karena dinilai telah memenuhi syarat sebagai cabang, maka dengan Surat Ketetapan H.B. Muhammadiyah No.4/1921, Muhammadiyah Surabaya langsung berstatus cabang, dengan H. Mas Mansur sebagai Ketua, dibantu oleh H. Ali, H. Azhari Rawi, H. Ali Ismail dan Kyai Usman.(26) Setelah resmi menjadi ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, K.H. Mas Mansur meninggalkan Nahdlatul Wathan pada 1922.(27)
Untuk meneguhkan eksistensi Muhammadiyah, terutama pada saat-saat menghadapi kesulitan, di Surabaya dibentuk suatu ikatan kader tangguh yang siap menjadi pelopor dan tulang punggung gerakan Muhammadiyah. Ikatan itu terkenal dengan nama “Wali 20”. Mereka itu, antara lain, Wondowijoyo, Wondoamiseno, Dokter Moh. Suwandhie, H. Moh. Urip, Pak Jaminah, Ciptorejo, H.A. Rahman Usman, Ajarsunyoto dan M. Saleh Ibrahim.(28)***
Beberapa orang yang pernah memimpin Muhammadiyah Cabang Surabaya, antara lain, KH. Mas Mansur, H. Abdurahman Usman, H. Abdul Hadi, Bey Arifin, H. M. Anwar Zein dan H. Usman Muttaqin.(29)
Perjalanan K.H. Ahmad Dahlan terus berlanjut. Selain berkunjung ke Surabaya, ternyata ia juga mengunjungi beberapa tempat lain di Jawa Timur. Tempat-tempat yang pernah dikunjungi dan membuahkan hasil, antara lain, Kepanjen, Banyuwangi, Sumberpucung, Ponorogo dan Madiun.
Kepanjen. K.H. Ahmad Dahlan dalam perjalanan dakwahnya singgah di kota kecil Kepanjen dan Sumberpucung, daerah Malang
Halaman 51
bagian selatan. Dua tempat itu disinggahinya, boleh jadi, karena ada pedagang-pedagang batik yang berasal dari Kotagede, Jogjakarta, sehingga mudah menjalin hubungan persahabatan sesamanya. Selain itu, di kedua tempat itu ada jalur kereta api Jogjakarta Malang dan Surabaya lewat selatan. Di Kepanjen, yang dituju adalah rumah seorang pedagang batik bernama Saeroji. Sebelum menerima kunjungan K.H. Ahmad Dahlan, pedagang batik ini belum mengenal Muhammadiyah.(30)
***
***: Dari pemeriksaan Redaksi PWMU.CO terhadap naskah dimaksud, di antara “Wali 20” tidak terdapat nama Wondoamiseno dan dokter Moh Suwandhie. Wali 20 selain Mas Mansur sendiri, adalah Wisatmo, Kiai Utsman (Kaliasin), Wondowidjojo (saudara Menteri Dalam Negeri 1947/Wondoamiseno), Tjiptoredjo (Genteng), Mas Gentong, Hardjodipuro, M. Saleh Ibrahim, Mas Idris, Soemoredjo, Abd. Barry, HA. Rachman Utsman, M. Saleh Tjilik, HM. Orip Temenggungan, Jaminah (Genteng), Sariman, Andjarsunjoto, M. Badjuri, Soeroatmodjo, dan Martodjojo.
(Tulisan ini bukan bagian dari buku “Menembus Benteng Tradisi”)
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments