Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Asembagus, Kabupaten Situbondo, melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Masjid Mujahidin menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng., sebagai khatib dan imam Shalat Jumat, Jumat (31/7/2026). Ratusan jamaah memadati masjid untuk mengikuti rangkaian ibadah sekaligus menyimak pesan-pesan keislaman yang disampaikan.
Dalam khutbahnya, Prof. Sasmito Djati mengangkat tema “Hilal” sebagai pintu masuk untuk mengajak jamaah memahami keterkaitan antara ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ia mengawali khutbah dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 tentang fungsi hilal sebagai penanda waktu bagi manusia dan pelaksanaan ibadah haji.
Menurutnya, hilal merupakan pancaran cahaya bulan yang berasal dari pantulan sinar matahari.
“Hilal itu pada prinsipnya pancaran cahaya yang dilepaskan oleh bulan dari sinar matahari,” terangnya. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa Allah menciptakan sistem waktu yang sangat teratur sebagai pedoman kehidupan manusia. Penjelasan itu kemudian dikaitkan dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 78 mengenai waktu-waktu pelaksanaan shalat yang juga ditentukan berdasarkan peredaran matahari.
Prof. Sasmito menjelaskan bahwa kehidupan manusia modern saat ini sesungguhnya telah memanfaatkan hukum-hukum alam yang berkaitan dengan cahaya dan gelombang. Ia menyinggung teori relativitas Albert Einstein sebagai gambaran bahwa pemahaman manusia tentang ruang dan waktu terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan.
“Ketika kita sudah menggunakan hukum panjang gelombang dan sinarnya, maka ruang dan waktu itu maknanya sudah berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menurutnya, tidak boleh menjauhkan manusia dari nilai-nilai keimanan. Justru di tengah derasnya arus informasi tanpa batas, iman menjadi benteng utama yang harus terus dijaga.
Ia menceritakan pengalamannya ketika menerima pesan dari seorang sahabat di Thailand yang menyampaikan belasungkawa atas tragedi kerusuhan sepak bola di Malang beberapa waktu silam. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah menjadikan informasi menyebar begitu cepat melampaui batas negara.
“Dalam situasi seperti itu, apa yang menjadi benteng kita? Setiap Jumat para khatib selalu mengingatkan melalui Surah Ali Imran ayat 102 agar kita tetap bertakwa kepada Allah dan menjaga keimanan hingga akhir hayat,” tuturnya.
Pendidikan Akidah yang Kokoh
Selanjutnya, Prof. Sasmito mengajak para orang tua untuk memberikan pendidikan akidah yang kokoh kepada anak-anak. Ia mengutip nasihat Luqman kepada putranya dalam Surah Luqman ayat 13. Menurutnya, panggilan penuh kasih “yaa bunayya” mencerminkan metode pendidikan Islam yang mengedepankan kelembutan, kasih sayang, dan kedekatan emosional dalam menanamkan tauhid.
“Mendidik anak dengan menyebut ya bunayya, menyangkut metodologi cara pendekatan dengan penuh kasih sayang sebagai cara menyampaikan pada anak tersebut. Sehingga anak-anak kita agar terselamatkan dari perubahan-perubahan yang sangat cepat,” jelasnya.
Menutup khutbah, Prof. Sasmito mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan hati yang teguh menghadapi derasnya arus informasi dan berbagai tantangan kehidupan modern. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keluarga, khususnya generasi muda, dengan pemahaman akidah yang benar agar tetap istiqamah di jalan Islam.
“Kasihi anak-anak kita, selamatkan anak-anak kita dengan aqidah yang benar dengan pemahaman yang benar itu akan menyelamatkan. Kita yakin bahwa islam adalah alternatif kebenaran tunggal yang tidak bisa terbantahkan,” pesannya.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seyogianya semakin menguatkan keimanan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments