Pengalaman belajar lintas negara menjadi bekal berharga bagi Afif Afandi, mahasiswa Pascasarjana Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, setelah mengikuti Educational Leadership and Management Colloquium and Workshop (EDU-LEAD) Malaysia–Indonesia 2026 yang berlangsung di Malaysia pada 20–24 Juli 2026.
Program yang mempertemukan mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan dari Indonesia dan Malaysia tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperdalam wawasan tentang kepemimpinan pendidikan, manajemen sekolah, penelitian, serta penguatan jejaring akademik di kawasan Asia Tenggara.
“Saya sangat bangga dan bersyukur dapat mengikuti program ini. Banyak pengalaman berharga, ilmu baru, serta perspektif internasional yang saya peroleh selama berada di Malaysia. Kegiatan ini membuka cara pandang saya tentang kepemimpinan pendidikan, budaya akademik, dan pentingnya kolaborasi antarbangsa dalam memajukan dunia pendidikan,” ujar Sekretaris Lazismu Lamongan tersebut.
Menimba Ilmu dari Institusi Pendidikan Terkemuka Malaysia
Selama lima hari, delegasi Indonesia mengikuti berbagai agenda akademik dan kunjungan ke sejumlah institusi strategis di Malaysia, di antaranya Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Putrajaya, Institut Aminuddin Baki Cawangan Genting Highlands (IABCGH), Sekolah Kebangsaan Wangsa Maju R10 Kuala Lumpur, hingga Universiti Malaya (UM).
Di IABCGH, peserta mengikuti colloquium dan workshop bersama para pensyarah Malaysia yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari kepemimpinan sekolah, peningkatan kualitas guru, tata kelola lembaga pendidikan, hingga tantangan pendidikan di era digital.
Mantan Ketua PW IPM Jawa Timur periode 2008–2010 itu menilai forum tersebut menjadi kesempatan langka untuk berdialog langsung dengan para pakar pendidikan Malaysia.
“Kami tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berdiskusi, bertanya, serta saling bertukar pengalaman. Dari sana saya belajar bahwa pemimpin pendidikan bukan sekadar administrator, melainkan sosok yang mampu menggerakkan perubahan dan memberdayakan seluruh potensi sumber daya manusia,” tuturnya.
Terpesona dengan Budaya Disiplin Sekolah Malaysia
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Afif adalah saat melakukan lawatan penandaarasan ke Sekolah Kebangsaan Wangsa Maju R10 Kuala Lumpur. Ia menyaksikan secara langsung budaya disiplin peserta didik, sistem administrasi yang tertata, keterlibatan orang tua, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemegahan fasilitas, tetapi lebih banyak dibangun melalui budaya yang kuat.
“Saya melihat bahwa kekuatan utama sekolah terletak pada budaya disiplin, keteladanan guru, manajemen yang tertata, serta kerja sama seluruh warga sekolah. Hal-hal sederhana seperti ketepatan waktu, kebersihan, dan penghargaan terhadap proses belajar ternyata memberikan dampak besar terhadap kualitas pendidikan,” katanya.
Menguatkan Nilai Keislaman dan Keilmuan
Selain agenda akademik, peserta juga memperoleh penguatan nilai spiritual melalui kunjungan ke Masjid Putra Putrajaya dan Masjid Bandar Seri Putra. Delegasi Indonesia berdialog dengan pengelola masjid dan tokoh pendidikan Islam mengenai pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman.
Wawasan peserta semakin diperkaya melalui diskusi bersama Dato Prof. Emeritus Dr. Riza Atiq yang mengangkat tema Jejak Ulama Nusantara dan STEM dalam Al-Qur’an. Diskusi tersebut memberikan perspektif baru mengenai integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai spiritual dalam pendidikan modern.
Afif menilai sesi tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan harus dibangun di atas fondasi akhlak yang kuat.
“Hikmah terbesar yang saya rasakan adalah ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan. Pendidikan ideal harus mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter,” ujarnya.
Termotivasi Menulis di Jurnal Internasional
Rangkaian kegiatan ditutup di Universiti Malaya melalui Bengkel Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan di Akademi Pengajian Islam dan Akademi Pengajian Melayu. Peserta memperoleh pembekalan mengenai strategi publikasi artikel pada jurnal internasional bereputasi serta peluang kolaborasi riset antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia.
Bagi Afif, pengalaman tersebut menjadi motivasi besar untuk semakin aktif melakukan penelitian dan menghasilkan karya ilmiah.
“Saya menyadari bahwa mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya menyelesaikan perkuliahan. Kami juga memiliki tanggung jawab menghasilkan karya ilmiah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan,” ungkapnya.
Membawa Inspirasi untuk Pendidikan Indonesia
Sekembalinya ke Indonesia, Afif bertekad menerapkan berbagai pengalaman yang diperoleh selama mengikuti EDU-LEAD 2026 dalam praktik pendidikan di tanah air.
Menurutnya, ada sejumlah pelajaran penting yang layak diadaptasi, mulai dari budaya disiplin di sekolah, kepemimpinan yang melayani, kolaborasi antar lembaga, penguatan pendidikan karakter, hingga semangat belajar sepanjang hayat.
“Kami pulang bukan hanya membawa oleh-oleh dari Malaysia, tetapi juga membawa ilmu, inspirasi, jejaring persahabatan, serta semangat baru untuk memajukan pendidikan Indonesia. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus belajar, membuka diri terhadap pengalaman internasional, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments