Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PCIM Maroko Perkuat Kaderisasi Mahasiswa Indonesia lewat Silsilah Ilmiah

Iklan Landscape Smamda
PCIM Maroko Perkuat Kaderisasi Mahasiswa Indonesia lewat Silsilah Ilmiah
Forum akademik-keislaman yang dihadiri kader Muhammadiyah di Maroko. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko memperkuat tradisi keilmuan dan kaderisasi mahasiswa Indonesia melalui Silsilah Ilmiah 2026. Forum akademik-keislaman yang digelar pada 19–21 Juli 2026 ini memadukan Baitul Arqam dan Musyawarah Tarjih sebagai ruang pembinaan ideologi, pengembangan intelektual, dan penguatan kapasitas kader Muhammadiyah.

Kegiatan berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat dan Hayy Jami’ Dauli dengan pendampingan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Mengusung tema “Berkader untuk Berkhidmat, Berjuang untuk Umat,” Silsilah Ilmiah dirancang untuk membentuk kader yang memiliki integritas, keluasan wawasan, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan merespons persoalan umat melalui tradisi keilmuan Islam yang berkemajuan.

Pembukaan kegiatan di KBRI Rabat dihadiri jajaran PCIM Maroko, perwakilan MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KBRI Rabat, serta mahasiswa Indonesia peserta Silsilah Ilmiah.

Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan sinergi antara Persyarikatan, pemerintah, dan komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam membangun sumber daya manusia.

Ketua Pelaksana Silsilah Ilmiah 2026, Usamah Bin Zein B. Semeer, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen PCIM Maroko untuk melahirkan kader yang tidak hanya memiliki pemahaman keislaman yang kokoh, tetapi juga mampu berpikir ilmiah dengan metodologi Muhammadiyah.

Menurutnya, Baitul Arqam menjadi ruang pembinaan ideologi sekaligus pembentukan karakter kader.

Sementara Musyawarah Tarjih menjadi laboratorium intelektual untuk membangun tradisi diskusi, pengkajian, dan perumusan jawaban atas persoalan keagamaan secara kolektif.

Kaderisasi sebagai Investasi Gerakan

Ketua PCIM Maroko, M. Faisal Maulana, menegaskan kaderisasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan gerakan Muhammadiyah.

Dalam sambutannya, Faisal mengutip pandangan sosiolog Iran, Ali Syariati, mengenai empat faktor yang dapat mendorong perubahan masyarakat, yakni tokoh besar, kebetulan, sistem, dan sumber daya manusia.

Muhammadiyah, kata dia, memilih memperkuat faktor sumber daya manusia melalui kaderisasi yang sistematis dan terstruktur.

“Muhammadiyah berupaya memperkuat faktor sumber daya manusia melalui kaderisasi yang terstruktur. Salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Baitul Arqam sebagai ruang pembinaan kader,” ujarnya.

Faisal mengatakan Silsilah Ilmiah menjadi langkah awal membangun sistem kaderisasi berkelanjutan di lingkungan PCIM Maroko.

Dari forum ini diharapkan lahir kader-kader tarjih yang mampu mengembangkan tradisi keilmuan Muhammadiyah sekaligus menghadirkan jawaban atas persoalan umat berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Mewakili Ketua MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Azaki Khoirudin, menekankan pentingnya Baitul Arqam sebagai proses ideologisasi dalam pembentukan kader Persyarikatan.

Menurutnya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan yang memiliki sistem nilai, sistem pemikiran, dan sistem organisasi. Karena itu, ketiga aspek tersebut perlu dipahami secara utuh oleh setiap kader.

“Kader Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami prinsip ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah secara normatif, tetapi juga harus mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan melalui pendekatan yang rasional sekaligus fungsional,” ungkapnya.

Azaki juga mengapresiasi langkah PCIM Maroko membangun tradisi keilmuan di kalangan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Menurutnya, ikhtiar tersebut penting untuk melahirkan kader yang mampu meneruskan semangat tajdid yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.

KBRI Dorong Mahasiswa Perluas Wawasan

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan KBRI Rabat. Mewakili Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko dan Republik Islam Mauritania, Sutarwindargo, selaku Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya, mengapresiasi inisiatif PCIM Maroko dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia mahasiswa Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan prestasi akademik. Kemampuan membangun kepemimpinan, memperluas wawasan, memperkuat jejaring, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

“Manfaatkan masa studi di Maroko untuk memperkaya ilmu pengetahuan, bahasa, budaya, serta pengalaman kepemimpinan yang kelak akan memberikan manfaat bagi bangsa dan umat,” pesannya.

Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian agenda yang mencakup pembinaan ideologi, kepemimpinan, penguatan pemahaman Manhaj Tarjih, penguatan peran PCIM, diskusi ilmiah, hingga Musyawarah Tarjih sebagai ruang latihan ijtihad kolektif.

Rangkaian tersebut dirancang untuk mempertemukan tiga dimensi penting dalam kaderisasi, yakni penguatan spiritual, intelektual, dan organisatoris.

Melalui Silsilah Ilmiah 2026, PCIM Maroko menegaskan komitmennya membangun ruang kaderisasi yang relevan dengan tantangan zaman.

Perpaduan ideologi, tradisi keilmuan, dan kepemimpinan diharapkan menjadi fondasi lahirnya kader Muhammadiyah yang berkemajuan, berintegritas, serta siap berkhidmat bagi Persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 31/07/2026 21:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu