Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan yang masih dihadapi sebagian masyarakat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dr Muhamad Ibrahim Sengaji terus berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dan mudah dijangkau. Kini, ia dipercaya memimpin Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende sebagai direktur.
Posisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah ia rintis sejak menempuh pendidikan kedokteran. Pria yang akrab disapa Baim itu merupakan mahasiswa Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang memiliki tekad membangun layanan kesehatan di daerah asalnya.
Lahir di Larantuka, Flores Timur, pada 4 Maret 1990, Baim menempuh pendidikan dasar di SD Katolik Kemiri Boru. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Wulanggitang dan SMA Darul Ulum Jombang sebelum menempuh pendidikan dokter di Universitas Muhammadiyah Malang.
Keinginannya menjadi dokter tidak ditempuh dengan mudah. Saat menjalani masa koas, ia pernah menghadapi kesulitan ekonomi. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama pendidikan, Baim menjalani tugas sebagai marbot masjid.
Setiap hari ia membersihkan masjid sekaligus mengumandangkan azan. Dari aktivitas tersebut, ia memperoleh fasilitas makan yang sangat membantu keberlangsungan studinya.
“Waktu itu saya hanya berpikir bagaimana bisa terus bertahan dan menyelesaikan pendidikan. Apa pun yang bisa dilakukan secara halal akan saya lakukan,” kenang Baim, Senin (1/6/2026).
Pengalaman hidup sederhana itu membentuk ketangguhan dirinya. Di tengah berbagai keterbatasan, ia tetap menyimpan cita-cita menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan yang mudah diakses masyarakat masih cukup besar, termasuk di Kabupaten Ende yang hingga kini belum memiliki rumah sakit maupun klinik berbasis Islam.
Inspirasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut semakin kuat ketika ia menjalani pendidikan profesi di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Di sana, ia melihat bagaimana sebuah klinik dapat berkembang menjadi rumah sakit besar yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Pada 2016, Baim bahkan mengunggah foto di media sosial pribadinya sebagai simbol tekad untuk suatu hari berdiri di depan rumah sakit Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur.
Meski sempat dianggap terlalu tinggi oleh sebagian orang, mimpi itu terus ia pegang. Berbagai tantangan mulai dari persoalan lokasi, keterbatasan sumber daya hingga pendanaan pernah dihadapi dalam upaya mewujudkan layanan kesehatan yang dicita-citakan.
Sebelum dipercaya memimpin Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende, Baim juga menorehkan pengalaman di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur. Ia pernah menjalani program internship di RSUD Ngada, menjadi dokter PTT di sejumlah puskesmas, serta bertugas dalam Program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Berbagai pengalaman tersebut membuatnya memahami secara langsung tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat di daerah.
“Banyak masyarakat yang membutuhkan akses layanan kesehatan yang lebih dekat dan berkualitas. Pengalaman itu semakin menguatkan tekad saya untuk berkontribusi di daerah sendiri,” ujarnya.
Selain aktif sebagai dokter dan direktur klinik, Baim juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan dakwah. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PDM Sikka dan Ketua Lazismu PDM Ende.
Baginya, pelayanan kesehatan bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Prinsip tersebut tercermin dalam moto hidup yang terus dipegangnya, yakni “Menjadi Cahaya di Timur Indonesia, Mengabdi untuk Kemanusiaan, Berdakwah Melalui Pelayanan”.
Perjalanan dr Muhamad Ibrahim Sengaji menjadi gambaran bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari keterbatasan dan perjuangan panjang. Dari seorang mahasiswa kedokteran yang pernah menjadi marbot masjid untuk bertahan hidup, kini ia berada di garis depan pelayanan kesehatan masyarakat di tanah kelahirannya.





0 Tanggapan
Empty Comments