Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Tokoh Muhammadiyah Interupsi Khatib yang Khotbah Jum’at

Iklan Landscape Smamda
Kisah Tokoh Muhammadiyah Interupsi Khatib yang Khotbah Jum’at
Masjid Jami’ Peneleh, tempat Achmad Jais mengiterupsi khotbah Jum’at yang full bahasa Arab (Foto: dok/PWMU.CO)

Kisah ini begitu melegenda di kawasan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya. Dikenal sebagai salah satu penggerak Muhammadiyah awal, dia melakukan aksi yang tidak biasa. Dia melakukan interupsi terhadap khatib yang sedang membacakan khotbah Jum’at.

Bangkit dari duduknya sebagai jamaah, berdiri menyela dan memprotes sang khatib. Aksi yang dilakukan di Jum’atan Masjid Jami’ Peneleh itu salah satunya dipicu oleh metode khotbah. Sejak awal dimulai, materi khotbah yang disampaikan dirasanya tidak bisa dipahami jamaah.

Sosok yang melakukan interupsi itu adalah Achmad Jais. Tokoh yang sejak tahun 2002-an diabadikan sebagai nama jalan protokol yang melintasi kampung Peneleh dan Plampitan.

“Jadi cerita Pak Jais menginterupsi khatib saat khotbah Jum’at itu sangat terkenal di kalangan masyarakat Peneleh,” kata pegiat Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, (07/06/2026).

Daam catatan sejarah Indonesia, pada tahun 1920-an hingga 1930-an, khotbah Jum’at di berbagai masjid masih menggunakan bahasa Arab. Full. Sejak awal hingga akhir. Sejak awal khotbah pertama hingga khotbah kedua berakhir.

Sementara jamaah yang hadir, mayoritas menggunakan bahasa Suroboyo-an dan atau bahasa Melayu. Sehingga banyak masyarakat yang Jumatan tidak tahu apa yang disampaikan oleh khatib.

Ketenaran cerita Achmad Jais di Masjid Jam’ Peneneh itu bisa dimaklumi. Sebab, saat itu masih sedikit tempat ibadah di kawasan Peneleh yang digunakan untuk Jum’atan. Lainnya masih dalam bentuk suara atau mushalla, yang tidak digunakan untuk Jum’atan.

Cerita itu pula yang kemudian diabadikan Roeslan Abdulgani dalam  buku “Masa Kecilku di Surabaya” tentang sosok Achmad Jais. Seorang yang berani menantang para pemuka agama di Masjid Peneleh untuk tidak khotbah dalam bahasa Arab. Sebab, khotbah semacam ini tidak dimengerti masyarakat setempat.

“Pak Jaiz (Jais, red) juga masyhur sebagai orang yang berani menentang aliran Islam kolot…” begitu tulis Roeslan. Keberanian Achmad Jais ini juga diakui oleh Siti Aisyah, istri dari anak angkatnya yang bernama Achmad Koesnan.

Hingga kini, belum ditemukan data asal-usul Achmad Jais dengan jelas. Diperkirakan ia masuk ke Surabaya sekitar tahun 1920-an, menikah dengan gadis setempat dan tinggal di Plampitan.

SMPM 5 Pucang SBY

Di kampung ini dia dikenal sebagai penjahit. Dengan profesinya itu, dia bisa berinteraksi dengan tentara Belanda yang sedang menjahitkan baju di rumahnya. “Posisi ini justru memberinya akses pada informasi strategis terkait apa yang akan dilakukan oleh Belanda,” terang pengelola Rumah Sejarah Roeslan Abdulgani, Djarot Indraedhi, (03/05/2026).

Informasi yang didapatkan Achmad Jais itu kemudian disalurkan kepada para pejuang Indonesia. Yang tentu saja sangat membantu dalam mengantisipasi langkah-langkah kolonial. Perannya mungkin tidak terlihat di medan perang, tetapi sangat krusial dalam perjuangan.

Perang 10 November 1945 membawa babak baru dalam perjalanan hidup Achmad Jais. Belanda yang terus merengsek memasuki Surabaya memaksanya dan pejuang lain untuk mundur ke luar kota.

Jalur pengungsian membawa Achmad Jais ke wilayah Mojokerto. Di tanah pengungsian itulah ia menghabiskan masa-masa akhir kehidupannya. Dia dimakamkan di sekitar Gedeg, Mojokerto, sebelum akhirnya Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia pada akhir 1949.

***

Tulisan lain tentang Achmad Jais: Jejak Achmad Jais: Pejuang Kemerdekaan, Aktivis Muhammadiyah, dan Wakaf yang Terus Hidup di Plampitan

Tulisan tentang perjuangan agar khotbah Jum’at tidak disampaikan dalam bahasa Arab: Pelopor Khotbah Tidak Full Arab, Begini Perjuangan Muhammadiyah Situbondo 1929

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 09/06/2026 16:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu