Tidak banyak yang tersisa dari jejak Achmad Jais. Hanya sebuah plakat marmer yang menempel di dinding rumah tua di Gang Plampitan VIII, Surabaya. Namun dari plakat sederhana itu terbuka kisah panjang tentang seorang tokoh pergerakan yang ikut membangun kesadaran kebangsaan Indonesia, aktif di Muhammadiyah, dan mengabdikan warisan keluarganya untuk perjuangan dakwah yang terus berlangsung hingga hari ini.
Plakat marmer tersebut berukuran sekitar 15 x 25 sentimeter. Tulisan di atasnya sederhana: milik Muhammadiyah. Sementara di bagian depan, pernah terpasang papan bertuliskan Sekretariat Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur.
Rumah itu bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah saksi sejarah yang menghubungkan perjuangan kemerdekaan, gerakan dakwah, dan amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir hingga kini.
Rumah itu dahulu milik Achmad Jais, seorang aktivis Muhammadiyah sekaligus tokoh pergerakan nasional yang namanya mungkin tidak sepopuler dr. Soetomo, tetapi memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa.
Kini, jejak kepemilikan rumah itu masih dikenang oleh keluarga besar Achmad Jais.
“Betul, rumah itu diwakafkan kepada Muhammadiyah,” ujar Siti Aisyah, istri Achmad Koesnan, saat ditemui PWMU.CO, Senin (8/6/2026).
Perempuan yang kini berusia 84 tahun itu, masih mengingat cerita keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, Achmad Jais memiliki dua anak, yakni Maska dan Achmad Koesnan. Koesnan sendiri merupakan anak dari keponakan yang kemudian diasuh dan dibesarkan sebagai anak sendiri.
Rumah yang kini menjadi aset Muhammadiyah itu sebelumnya ditempati oleh Maska.
Menurut penuturan keluarga, sebelum wafat, Maska meninggalkan sebuah wasiat yang sederhana namun bermakna besar.
“Yuk Maskah sebenarnya punya satu anak, tetapi lebih dulu dipanggil Allah. Sebelum meninggal dunia, beliau berwasiat agar rumahnya diwakafkan kepada Muhammadiyah,” tutur Siti Aisyah.
Wasiat itulah yang kemudian menjadikan rumah tersebut bagian dari amal usaha persyarikatan. Dalam perjalanan berikutnya, rumah itu pernah digunakan sebagai pusat aktivitas Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur sebelum sekretariat dipindahkan ke kawasan Kertomenanggal, Surabaya.
Di rumah sederhana itu, berbagai agenda dakwah, pemberdayaan perempuan, dan gerakan sosial pernah dirancang. Sebuah bukti bahwa perjuangan tidak selalu lahir dari gedung megah, tetapi sering kali bermula dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi semangat pengabdian.
Bukan Sekadar Penjahit
Nama Achmad Jais kerap muncul dalam cerita lisan masyarakat Surabaya lama. Sebagian orang mengenalnya sebagai penjahit yang melayani kalangan Belanda. Namun, menurut pegiat sejarah Surabaya Kuncarsono Prasetyo, gambaran tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan sosoknya.
“Banyak yang menyebut dia penjahit baju orang Belanda. Tapi dia bukan penjahit biasa. Lebih dari itu, dia adalah pendiri Indonesische Studieclub bersama dr. Soetomo dan beberapa tokoh lain yang kemudian melahirkan gerakan kebangsaan,” ungkap Kuncar.
Di balik profesinya sebagai penjahit, Achmad Jais adalah seorang intelektual pergerakan yang aktif membangun kesadaran nasional pada masa kolonial. Dia berada dalam lingkaran tokoh-tokoh yang percaya bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pendidikan, organisasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai anggota kelompok perjuangan dr. Soetomo, Achmad Jais ikut terlibat dalam dinamika organisasi yang kelak menjadi fondasi tumbuhnya nasionalisme Indonesia modern.
Pada 21 Juli 1924 berdiri Indonesische Studieclub (IS), sebuah organisasi yang dipelopori oleh dr. Soetomo bersama sejumlah tokoh pergerakan. Organisasi ini menjadi ruang diskusi dan pendidikan politik bagi kaum bumiputra yang ingin memperjuangkan kemajuan bangsa.
Achmad Jais termasuk salah satu penggerak penting di dalamnya. Dari rahim organisasi tersebut lahir gagasan-gagasan besar tentang kemandirian bangsa, peningkatan kualitas pendidikan, dan perbaikan kesejahteraan rakyat.
Semangat itu kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang lebih luas melalui berdirinya Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).
Menurut Kuncarsono Prasetyo, PBI tidak hanya berfokus pada perjuangan politik semata. Organisasi ini juga menaruh perhatian besar pada bidang sosial dan ekonomi masyarakat.
Di tengah situasi kolonial yang menempatkan pribumi dalam posisi terpinggirkan, gagasan tersebut tergolong progresif. Para tokohnya percaya bahwa kemerdekaan harus dibangun di atas masyarakat yang cerdas, mandiri, dan bermartabat.
Aktivis Muhammadiyah yang Berani Berpikir Maju
Selain dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, Achmad Jais juga merupakan kader Muhammadiyah yang aktif.
“Beliau itu Muhammadiyah banget,” ujar Etty Koesnan, putri Achmad Koesnan.
Kedekatan Achmad Jais dengan Muhammadiyah tidak hanya tampak dari aktivitas organisasinya, tetapi juga dari cara berpikirnya yang progresif. Ia termasuk tokoh yang berani mengkritik praktik-praktik keagamaan yang menurutnya tidak lagi menjawab kebutuhan umat.
Salah satu kisah yang sering disebut adalah keberaniannya menyampaikan kritik kepada para khatib di Masjid Peneleh. Saat itu ia mempertanyakan penggunaan bahasa Arab secara penuh dalam khutbah yang tidak dipahami mayoritas jamaah.
Baginya, dakwah harus mampu menyentuh dan dipahami masyarakat. Pesan agama tidak cukup hanya disampaikan, tetapi juga harus dimengerti.
Pandangan tersebut sejalan dengan semangat pembaruan Islam yang menjadi ciri gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.
Dalam catatan yang dikutip oleh Ruslan Abdulgani, Achmad Jais dikenal sebagai sosok yang berani menentang pemikiran Islam yang terlalu konservatif dan mendukung gerakan kebangsaan yang dipimpin dr. Soetomo.

Mengungsi demi Keselamatan Keluarga
Masa revolusi kemerdekaan membawa babak baru dalam kehidupan Achmad Jais dan keluarganya. Situasi Surabaya yang mencekam setelah agresi militer Belanda memaksa banyak keluarga meninggalkan rumah mereka.
Achmad Jais termasuk salah satunya. Demi keselamatan keluarga, ia mengungsi ke wilayah Mojokerto. Di tengah situasi perang yang tidak menentu, keselamatan keluarga menjadi prioritas utama.
Di tanah pengungsian itulah ia menghabiskan masa-masa akhir kehidupannya.
“Pak Jais dimakamkan di sekitar Gedeg, Mojokerto,” kenang Siti Aisyah.
Setelah keadaan berangsur kondusif, istri dan anak-anaknya kembali ke rumah keluarga di Plampitan. Rumah yang pernah menjadi tempat berkumpul keluarga pejuang itu kemudian menjalani takdir baru sebagai aset wakaf Muhammadiyah.
Nama Achmad Jais mungkin tidak banyak ditemukan dalam buku-buku sejarah nasional. Ia tidak memiliki gelar pahlawan nasional, tidak pula namanya menghiasi jalan-jalan utama kota.
Namun jejak perjuangannya tetap hidup. Dia hadir dalam sejarah pergerakan kebangsaan bersama dr. Soetomo. Ia hidup dalam tradisi pembaruan Islam Muhammadiyah. Dan ia terus dikenang melalui rumah wakaf yang hingga kini masih menjadi bagian dari perjuangan dakwah.
Di tengah hiruk-pikuk Surabaya modern, rumah sederhana di Gang Plampitan VIII itu seakan mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar yang namanya tercetak tebal dalam buku sejarah.
Ada pula sosok-sosok seperti Achmad Jais—yang bekerja dalam sunyi, berjuang tanpa sorotan, tetapi meninggalkan warisan yang manfaatnya terus mengalir melampaui zamannya.
Sebuah rumah, sebuah wakaf, dan sebuah nama yang layak kembali dikenang oleh generasi hari ini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments