Muhammadiyah mendapat sinyal kuat untuk menjadi mitra strategis Pemerintah Qatar dalam mengembangkan berbagai program kerja sama. Tidak hanya pendidikan dan kesehatan, peluang kolaborasi juga terbuka di bidang ketenagakerjaan, sosial-keagamaan, hingga penyelenggaraan forum internasional tentang isu-isu strategis dunia Islam.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Duta Besar Qatar untuk Indonesia, Sultan bin Mubarak Saad Al Dosari, di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (3/8/2026).
Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, mengatakan Pemerintah Qatar pada prinsipnya menginginkan hubungan kerja sama yang lebih erat dengan Muhammadiyah dalam berbagai bidang.
Menurut Syafiq, salah satu peluang yang dibahas adalah penyelenggaraan forum internasional yang mengangkat berbagai persoalan dunia Islam.
“Selain itu juga dibahas kemungkinan kerja sama dalam penyelenggaraan forum seminar yang membahas berbagai persoalan dunia Islam,” ujar Syafiq.

Ia menilai, peluang kerja sama tersebut sejalan dengan semangat ta’awun, yakni saling membantu dan menguatkan untuk menghadirkan kemaslahatan bersama. Kerja sama lintas negara, kata dia, bukan sekadar membangun hubungan kelembagaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat peradaban umat.
Peluang kolaborasi itu berpotensi segera ditindaklanjuti. Syafiq menyampaikan adanya rencana kunjungan Menteri Agama dan Wakaf Qatar ke Indonesia.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membicarakan lebih rinci bentuk kerja sama yang bisa direalisasikan antara Muhammadiyah dan Pemerintah Qatar.
“Dubes Qatar turut menyampaikan informasi bahwa akan ada kunjungan Menteri Agama dan Wakaf Qatar. Dengan mengundang Muhammadiyah, maka hal ini akan kami anggap sebagai tindak lanjut dari pertemuan hari ini. Barangkali nanti akan ada pembicaraan yang lebih detail mengenai berbagai bentuk kerja sama antara Muhammadiyah dan negara Qatar,” ungkapnya.
Sementara itu, Sultan bin Mubarak Saad Al Dosari menyebut peluang kerja sama dengan Muhammadiyah cukup luas. Selain pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan, terdapat sejumlah program sosial-keagamaan yang dinilai dapat dikembangkan bersama.
Salah satunya adalah distribusi Mushaf Al-Qur’an Qatar dan kurma pada bulan Ramadan.
“Kami juga memiliki beberapa program yang bisa menjadi program bersama, seperti pembagian Mushaf Al-Qur’an Qatar dan distribusi kurma pada bulan Ramadan. Tentu selama ini kami juga bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia,” ujar Dubes Qatar.
Ada hal menarik dalam kunjungan Sultan ke Kantor PP Muhammadiyah. Ia mengungkapkan, Muhammadiyah menjadi organisasi Islam pertama yang dikunjunginya sejak mulai menjalankan tugas sebagai Duta Besar Qatar untuk Indonesia pada 2025.
“Saya adalah Duta Besar Qatar yang baru di Indonesia sejak 2025, dan Muhammadiyah adalah organisasi Islam pertama yang saya kunjungi setelah mulai bertugas,” katanya.
Sebelum bertemu jajaran PP Muhammadiyah, Sultan terlebih dahulu bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia kemudian mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum melanjutkan agenda ke Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.
Pilihan tersebut menunjukkan perhatian Qatar terhadap Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam besar di Indonesia.
“Kami mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang sangat besar,” tambahnya.
Pertemuan itu menjadi pintu masuk bagi penguatan hubungan Muhammadiyah dan Pemerintah Qatar. Dengan cakupan kerja sama yang semakin luas—mulai pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial-keagamaan hingga forum internasional—kemitraan tersebut berpeluang membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Lebih dari itu, kerja sama Muhammadiyah dan Qatar dapat memperluas jejaring organisasi Islam Indonesia di tingkat global sekaligus membuka ruang baru bagi pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan gagasan untuk menjawab berbagai persoalan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments