Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tak Hiraukan Usia, Seniman Tua Tetap Semangat Tabuh Jidor di Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah

Iklan Landscape Smamda
Tak Hiraukan Usia, Seniman Tua Tetap Semangat Tabuh Jidor di Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah
Seniman sepuh tetap ampuh memainkan jidor di Gelar Budaya dan Melekan IKPI dalam rangka Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Tak hiraukan usia, para seniman tua tetap semangat memainkan musik tradisional jidor di Gelar Budaya dan Melekan IKPI dalam rangka Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan, Kamis (24/9/2026) malam.

Malam itu menjadi ajang reuni bagi para penabuh jidor senior. Seperti terlihat dalam foto, mereka duduk bersila di atas karpet hijau Tribun Barat Lapangan Basket, dengan bedug hijau toska dan rebana di pangkuan, tetap fokus menjaga irama. Di antaranya hadir H. Kismantoro, H. Milkan, H. Muhit, H. Hudiyanto, Sariyanto, Nadhim, Naryoso, Sucipto, Panut Supodo, dan Sutaji.

Meski rambut telah memutih dan tenaga tak sekuat dulu, semangat mereka tak kalah dengan anak muda. Dentuman jidor dan rebana tetap kompak, bersahutan dengan vokal sholawat yang menggema hingga larut malam.

Kismantoro, seniman asal Lebak Tengah Sendangagung mengaku sudah lebih dari 10 tahun tidak memukul rebana. Namun kecintaannya pada jidor tak pernah luntur. Ia masih sering menikmati irama jidor lewat YouTube di HP.

“In sya Allah durung lali (tidak lupa), jidor selalu di hati meskipun sudah tidak memukul lebih dari 10 tahun, dalam moment 40 tahun Ponpes Al-Ishlah tetap saya usahakan hadir, apalagi diundang Pak Dawam ra isa nolak,” ujar pria yang tampil dengan baju batik putih bermotif di barisan depan itu.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia mengaku tangannya masih gatal untuk kembali menabuh.

“Masih tetap tergiur mengangkat dan memukul rebana, tetapi faktor usia kadang capek saat malam hari dan gak sekuat dulu. Senang melihat semangat anak muda main jidor, pemuda Muhammadiyah dan NU menerjuni seni langka ini, layak diacungi jempol,” pungkasnya.

Gelar Budaya yang menampilkan 75 personil dari 7 grup jidor Sendangagung dan Sendangduwur ini memang menjadi panggung pertemuan lintas generasi. Dari maestro sepuh hingga santri SMPM 12 Paciran dan MA Al-Ishlah, semua melebur dalam satu irama. Bukti bahwa musik jidor, warisan pesisir Pantura yang hampir punah di banyak tempat, masih berdetak kuat di Kampung Damai Al-Ishlah. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 25/09/2026 16:25
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu