Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Syukur 40 Tahun, Ponpes Al-Ishlah Gelar Budaya dan Melekan IKPI Hadirkan 75 Seniman Jidor

Iklan Landscape Smamda
Syukur 40 Tahun, Ponpes Al-Ishlah Gelar Budaya dan Melekan IKPI Hadirkan 75 Seniman Jidor
Gelar Budaya oleh IKPI. (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Sebagai wujud syukur 40 tahun perjalanan, Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan menggelar Gelar Budaya dan Melekan Ikatan Keluarga Ponpes Al-Ishlah (IKPI), Kamis (24/9/2026) malam.

Acara yang dipusatkan di Tribun Barat Lapangan basket atau tepat di depan Kantor MA Al-Ishlah itu berlangsung khidmat dan meriah. Dengan backdrop berlogo 4 Dasawarsa dan panggung permanen menghadap ke Timur, kegiatan ini menghadirkan 7 grup kesenian Jidor terbaik dari Sendangagung dan Sendangduwur.

Sebanyak 75 personil seniman jidor dari Grup Surya Nada, Pemuda Bersinar, Rono Joyo, Gema Nusa Budaya, Roso Buwono, Warna Baru, dan Golden Star tampil bergantian di hadapan sekitar 200 anggota IKPI dan dewan guru. Alunan tabuhan rebana, jidor, gendang dan gendung khas pesisir Lamongan menggema, menjadi daya tarik tersendiri bagi pondok yang kini telah memiliki 2000 santri tersebut.

Pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih yang mendalam kepada masyarakat.

“40 tahun Pondok Al-Ishlah dari barongan atau pohon bambu dengan 10 santri jadi bangunan seperti ini dan memiliki 2000 santri, ini tidak lepas dari dukungan warga Sendangagung dan Sendangduwur,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Kiai Dawam menegaskan, komitmen pondok untuk terus merawat tradisi lokal. Menurutnya, kesenian jidor adalah identitas budaya warga Sendangagung dan Sendangduwur yang harus dijaga.

SMPM 5 Pucang SBY

“Dan pesantren ini sangat mengapresiasi dan turut melestarikan budaya jidor, musik khas warga Sendangagung dan Sendangduwur, di sana-sana sudah hampir tidak ada, tapi di sini dimainkan anak SMPM 12 Paciran dan MA Al-Ishlah,” imbuhnya.

Perayaan 4 Dasawarsa ini menjadi bukti bahwa Al-Ishlah tumbuh bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, namun juga sebagai penjaga kebudayaan. Sinergi antara pesantren, alumni yang tergabung dalam IKPI, dan seniman tradisi menjadi kunci kekuatan pesantren yang berawal dari barongan bambu hingga menjadi pesantren besar di Pantura Lamongan.

Acara melekan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, sebagai simbol rasa syukur atas empat dasawarsa pengabdian Al-Ishlah untuk umat. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 25/09/2026 15:38
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu