Lapangan SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) tampak berbeda dari biasanya, Jumat (25/9/2026). Suasana lebih ramai ketika 16 calon formatur Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Spemutu berdiri di hadapan warga sekolah untuk menyampaikan visi dan misi mereka.
Satu per satu calon formatur menyampaikan gagasan, harapan, serta program yang akan mereka perjuangkan apabila terpilih menjadi bagian dari kepemimpinan PR IPM Spemutu. Warga sekolah menyimak penyampaian tersebut sebagai bagian dari rangkaian proses Musyawarah Ranting (Musyran) IPM.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para kader untuk belajar menyampaikan gagasan secara terbuka sekaligus melatih keberanian berbicara di depan publik. Tidak hanya sekadar menyampaikan visi dan misi, para calon juga menunjukkan cara mereka melihat kebutuhan dan potensi pelajar di lingkungan Spemutu.
Kepala Urusan Kesiswaan Spemutu, Beny S Firmansyah, S.Pd., mengatakan kegiatan penyampaian visi dan misi tersebut merupakan bagian penting dari proses pendidikan demokrasi di sekolah.
“Demokrasi itu tidak cukup hanya dipelajari melalui teori. Anak-anak perlu mengalami dan mempraktikkannya secara langsung. Mulai dari berani menyampaikan gagasan, mendengarkan gagasan orang lain, menghargai perbedaan pilihan, hingga belajar bertanggung jawab terhadap keputusan bersama,” ujarnya.
Menurut Beny, proses pemilihan formatur IPM menjadi pembelajaran nyata bagi siswa untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga kesiapan membawa aspirasi dan memberikan kontribusi bagi lingkungan.
“Ini adalah salah satu wujud pembelajaran yang nyata. Mereka belajar bahwa menjadi pemimpin harus memiliki visi, mampu berkomunikasi, siap menerima masukan, dan yang paling penting memiliki komitmen untuk menjalankan amanah,” tambahnya.
Ia berharap seluruh calon formatur dapat menjadikan proses Musyran sebagai pengalaman berharga, baik bagi mereka yang nantinya terpilih maupun yang belum mendapatkan amanah kepemimpinan.
Pembina PR IPM Spemutu, Yatik, S.Pd., menyampaikan bahwa penyampaian visi dan misi menjadi salah satu tahapan penting untuk melihat kesiapan kader dalam berorganisasi.
“Di sini anak-anak belajar menjadi dirinya sendiri. Mereka belajar menyampaikan apa yang mereka pikirkan, apa yang ingin mereka lakukan, dan bagaimana mereka membawa organisasi ke arah yang lebih baik,” ungkapnya.
Yatik menambahkan, proses tersebut diharapkan mampu melahirkan kader IPM yang tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab.
“Harapannya, siapa pun yang nanti mendapatkan amanah dapat menjadi representasi pelajar Spemutu, mampu bekerja sama, dan membawa IPM menjadi organisasi yang semakin hidup serta memberikan manfaat bagi warga sekolah,” katanya.
Berani Menyampaikan Gagasan
Salah satu calon formatur, Delisha Asyifa, mengaku penyampaian visi dan misi di hadapan warga sekolah menjadi pengalaman yang berkesan.
“Awalnya ada rasa gugup karena harus menyampaikan visi dan misi di depan banyak orang. Tetapi dari kegiatan ini saya belajar untuk lebih percaya diri dan berani menyampaikan gagasan yang saya punya,” tuturnya.
Menurut Delisha, menjadi calon formatur bukan hanya tentang terpilih atau tidak terpilih, tetapi juga kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan berkontribusi.
Sementara itu, M. Adam Hadianto, calon formatur lainnya, mengatakan kegiatan tersebut membuatnya semakin memahami arti sebuah kepemimpinan.
“Bagi saya, menyampaikan visi dan misi di depan warga Spemutu adalah pengalaman yang sangat berarti. Kami tidak hanya berbicara tentang program, tetapi juga belajar bagaimana meyakinkan orang lain melalui gagasan dan sikap yang kami tunjukkan,” ujarnya.
Ia berharap proses Musyran dapat menghasilkan kepemimpinan IPM yang mampu merangkul seluruh pelajar.
“Siapa pun yang nantinya terpilih, semoga bisa bekerja sama dan membawa IPM Spemutu menjadi organisasi yang lebih aktif, kreatif, dan memberikan manfaat bagi siswa,” pungkasnya.
Penyampaian visi dan misi 16 calon formatur tersebut menjadi salah satu bagian dari proses kaderisasi PR IPM Spemutu. Lapangan yang biasanya menjadi ruang aktivitas siswa pagi itu berubah menjadi ruang belajar demokrasi, tempat gagasan disampaikan, keberanian diuji, dan calon-calon pemimpin muda mulai belajar menerima amanah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments