Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjawab Problem Umat dengan Literasi dan Aksi

Iklan Landscape Smamda
Menjawab Problem Umat dengan Literasi dan Aksi
(Syahirul Alem/PWMU.CO)
Oleh : Syahirul Alem MPI Kudus & Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus

Tantangan dakwah persyarikatan telah melampaui batas-batas mimbar dan retorika, melainkan kerja-kerja nyata yang memberdayakan. Melalui literasi dakwah sosial, masyarakat akar rumput perlu pembekalan kemampuan membaca realitas, memecahkan masalah ekonomi rumah tangga, dan menguatkan ketahanan sosial. Ini merupakan peta jalan di mana ilmu agama dan amal sosial melebur menjadi solusi nyata pada jamaah akar rumput.

Akses literasi dakwah sosial pada aspek penguatan wawasan dan pola pikir pada akar rumput saat ini masih belum sinergis dengan berbagai problem aktual dan urgen.

Pada basis akar rumput, kebanyakan dakwah aksi sosial masih familiar dengan kebutuhan nilai-nilai syar’i melalui kajian rutin yang kebanyakan para generasi tua yang mendominasi.

Itulah yang menjadi problematika mendasar lemahnya dakwah sosial pada akar rumput. Jarang sekali ada generasi muda yang potensial literat mengurusi gerakan persyarikatan pada basis akar rumput.

Padahal sangat membutuhkan potensi dan energi jiwa mudanya supaya gerakan persyarikatan pada basis akar rumput lebih dinamis.

Kenapa demikian? Karena pada basis akar rumput, literasi dakwah sosial belum berfungsi sebagai lentera transformatif. Dakwah yang literatif mendorong terciptanya kelompok-kelompok masyarakat yang peduli lingkungan dan tanggap terhadap sesama.

Gerakan ini sebagai wujud Islam hadir sebagai rahmat yang menyapa langsung kebutuhan umat paling bawah. Berpijak pada teologi Al-Ma’un sebagai pondasi literasi dakwah sosial, gerakan ini terbukti efektif sejak awal berdirinya persyarikatan.

Muhammadiyah kini telah berkembang secara global dan tersebar di berbagai wilayah. Namun, persebaran cabang maupun ranting belum sepenuhnya merata.

Karena itu, membutuhkan peran dakwah literatif sebagai strategi dakwah berbasis literatur. Dakwah literatif mendorong gerakan aktual yang ramah sosial dan efektif menjawab problem masyarakat akar rumput.

HPT sebagai Panduan Dakwah Sosial

Meneguhkan literasi dakwah di akar rumput berarti membangun kesadaran kritis masyarakat agar mandiri secara intelektual maupun sosial. Dengan pendekatan ini, dakwah sosial berubah menjadi gerakan advokasi, pendidikan alternatif, dan filantropi yang gerakannya langsung oleh pengurus untuk jamaah.

Tantangannya, bagaimana Fikih Muhammadiyah yang merupakan produk Himpunan Putusan Tarjih (HPT) ini pada basis akar rumput bisa menerimanya.

Strategi penerapan HPT Muhammadiyah sebagai wujud literasi dakwah sosial dapat melalui penerjemahan nilai-nilai fatwa ke dalam bahasa keseharian, keteladanan amaliah, dan pemberdayaan masyarakat secara langsung.

Sehingga mampu menjadikannya panduan praktis yang solutif untuk problem kemiskinan, kesenjangan, dan kesehatan di tingkat akar rumput.

Penerapan konkret HPT sebagai literasi dakwah sosial di basis akar rumput dalam bentuk mendorong literasi muamalah dengan meluruskan praktik ekonomi riba dan pendampingan sertifikat halal.

Pada tataran akar rumput, ini wujudnya berupa pendampingan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM), dan koperasi jamaah untuk menciptakan kemandirian finansial.

Sosialisasi tuntunan bersuci dan tata cara ibadah (fikih) dalam HPT dengan mengedepankan kampanye lingkungan dan kesehatan.

Di komunitas lokal, penerapannya melalui gerakan bersih masjid, Jumat Berkah, serta pemanfaatan air bersih bekas wudhu supaya tidak terbuang percuma.

Literasi dakwah sosial dalam bentuk kajian fikih keluarga juga menyasar edukasi terhadap hak-hak perempuan dan perlindungan anak.

Nilai-nilai ini penerapannya melalui bina keluarga sakinah di tingkat Pimpinan Ranting (PRM), penyuluhan kesehatan reproduksi, serta pendampingan sosial bagi kelompok rentan.

Ranting sebagai Pusat Aksi dan Literasi

Selain itu, membutuhkan keseimbangan serta terobosan bagaimana sebuah gerakan dakwah juga harus sensitif dengan persoalan isu-isu lingkungan.

Ketika akar rumput sedang mengalami problem sampah, maka dakwah Muhammadiyah pada akar rumput juga terlibat sebagai solusi masalah sampah, baik secara edukasi maupun juga aksinya.

Pimpinan ranting maupun cabang harus peka dengan tantangan maupun hambatan dakwah pada lingkungan masing-masing.

Mengurusi persyarikatan tidak hanya sebatas pertemuan berorganisasi, namun juga kajian-kajian secara literatif terkait dengan referensi kemuhammadiyahan.

Peningkatan skill berupa kemahiran menulis dan juga ketekunan berliterasi dalam membaca merupakan bukti tangguhnya SDM persyarikatan. Tidak hanya pada tingkat pusat maupun wilayah saja yang penuh dengan para profesor maupun juga doktor.

Namun, pengurus di tingkat akar rumput juga perlu memperkaya wawasan melalui bacaan dan mendorong generasi muda membuat konten video edukatif dan kreatif.

SMPM 5 Pucang SBY

Konten video yang literatif merupakan konten video edukatif dan inspiratif, bukan sebatas hiburan saja, seperti bagaimana gerakan ranting bisa menginisiasi contoh gerakan kamar mandi bersih pada setiap rumah tangga karena kebersihan itu sebagian dari iman.

Termasuk bagaimana ranting ini memberikan contoh gerakan penghijauan dan gerakan menanam sayur-mayur di lingkungan rumah masing-masing sebagai wujud ketahanan pangan lokal.

Pada era media sosial, segala sesuatunya bisa dipelajari, baik melalui YouTube maupun TikTok, membuat referensi dakwah pada lingkungan akar rumput makin variatif.

Pendekatan visual dan audio-visual: mengubah materi dakwah yang berat (fikih atau tasawuf) menjadi format yang lebih ringan seperti infografis atau video pendek (Reels/TikTok) agar masyarakat awam mudah memahaminya.

Bahasa lokal yang merakyat: penggunaan bahasa daerah atau bahasa sehari-hari untuk menciptakan kedekatan emosional antara pendakwah dan jamaah akar rumput.

Kolaborasi komunitas: menggunakan media sosial untuk mengorganisir kegiatan sosial langsung di lapangan, seperti penggalangan dana, bakti sosial, dan edukasi lingkungan.

Dakwah yang Menyejahterakan dan Berkelanjutan

Karena tujuan dari dakwah itu sendiri adalah kesejahteraan batin maupun lahir. Dalam Surat An-Nahl ayat 125 Allah SWT berfirman, “Serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Memecahkan persoalan dengan cara-cara yang hikmah akan membuat ketenangan batin seseorang akan tercapai.

Dakwah literatif adalah juga bagian dari dakwah pencerahan hidup sekaligus juga dakwah yang menyejahterakan lahir. Sedangkan dakwah yang memberikan kesejahteraan materi seperti dakwah ekonomi maupun dakwah Lazismu.

Sedangkan kakwah filantropi juga bagian dari dakwah literasi karena sosialisasi dalam zakat, infak maupun sedekah secara otomatis menggunakan bahasa literatif.

Dan dakwah silaturahim pada tataran akar rumput merupakan instrumen vital dalam dakwah literatif, terutama terkait dengan peta lingkungan.

Sehingga dari situ para pimpinan ranting tahu problem dakwah dalam koridor lingkungan keluarga. Karena tidak sedikit simpatisan di akar rumput juga menghadapi tantangan keluarga.

Semisal dari keluarga murni Muhammadiyah tidak menjadi problem, namun lain lagi jika berasal dari kader AUM yang sebelumnya kurang mengenal Muhammadiyah.

Tentu ini sangat riskan jika berdakwah secara fundamental. Dibutuhkan kajian-kajian yang menyejukkan hati sehingga dakwah Muhammadiyah bisa diterima di lingkungan sekitar.

Minimal gerakan dakwah Muhammadiyah tidak menimbulkan kecurigaan warga setempat. Itulah pentingnya dakwah literatif pada lingkungan akar rumput yang notabene merupakan ujung tombak dakwah Muhammadiyah.

Optimalisasi kegiatan masjid pada tingkat akar rumput tidak hanya pada masjid persyarikatan, tapi masjid tempat pelayanan publik pada area ranting setempat seperti masjid instansi.

Posisi dakwah literatif harus siap menjawab berbagai tantangan lingkungan setempat supaya dakwah literasi sosial efektif dan dinamis.

Para pendakwah harus mampu memosisikan diri sebagai dinamisator bagaimana seharusnya lingkungan itu bisa seimbang sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang dipedomani persyarikatan Muhammadiyah.

Berbagai penyimpangan, baik yang disadari maupun tidak disadari, menjadi lahan garapan bagi para pendakwah untuk memberikan pencerahan.

Untuk itu, bekal literasi harus diperkuat, apalagi pada era artificial intelligence (AI) seperti saat ini bisa digunakan untuk mencari sumber referensi, sehingga berbagai problematika sosial mampu dicari solusinya, baik melalui dalil aqli dan naqli.

Dakwah adalah ujung tombak persyarikatan. Oleh karena itu, setiap kader persyarikatan pada tingkat akar rumput harus senantiasa siap untuk berdakwah sesuai kemampuannya masing-masing.

Kader yang cerdas akan terus belajar serta mencermati perkembangan lingkungannya untuk memperkuat posisi dakwah persyarikatan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/09/2026 16:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu