Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemimpin, Kritik, dan Baju Umar Ra

Iklan Landscape Smamda
Pemimpin, Kritik, dan Baju Umar Ra
Ilustrasi

Untuk menghindari kritik; Jangan berkata apapun, jangan melakukan apapun, dan jangan menjadi apapun. Demikian, sebuah kalimat bijak yang sangat dikenal masyarakat. Intinya, di dunia ini, kritik adalah sesuatu yang niscaya. Kritik bisa tertuju kepada siapa saja dan dalam konteks apa pun.

Dalam Islam, kritik mendapat tempat. Bahkan, kita harus terus belajar kepada QS Al-´Ashr [103]: 1-3. Ini, sebuah Surat yang pendek, tapi pesannya sangat kuat. Bahwa, kita akan merugi, kecuali jika: Beriman, beramal shalih, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.

Makna saling menasihati itu, di dalamnya ada format kritik. Oleh karena itu, kita tak boleh ”panas” saat menerima kritik. Terlebih lagi, kita tak patut menyambut kritik dengan kata-kata penolakan yang ”keras”.

Secarik Catatan

Sedih, mendapati kenyataan, tentang adanya pemimpin yang sering merespons secara tak semestinya atas kritik kepadanya. Misalnya, umpatan ”nDasmu” sudah beberapa kali kita dengar dari seorang pemimpin yang mendapat kritik. Dari orang yang sama, juga keluar sejumlah istilah antara lain seperti ”goblok” dan ”Londo ireng”.

Tentang sebutan ”goblok”, bacalah ini: Ucapan Prabowo soal Pakar “Goblok” Dinilai Berpotensi Masuk Perbuatan Tercela (https://forumkeadilan.com/ 22 September 2026).

Bahwa, di HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta 18 September 2026, Prabowo berpidato. Awalnya berbicara soal upaya membawa Indonesia menjadi negara sejahtera sebelum menyinggung sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar.

Ia mengaku tak mempersoalkan kritik, tetapi menilai ada pakar yang melontarkan fitnah. “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Contoh lain, tentang ”Londo ireng”. Bacalah ini: Prabowo Harus Minta Maaf Sebut Wartawan Londo Ireng (https://aji.or.id/ 25 Juli 2026). Bahwa, pelabelan ”Londo Ireng” diungkapkan Prabowo dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta, 23 Juli 2026.

Dia mengatakan, “Londo ireng” masih ada hingga sekarang. Itu, dikaitkannya dengan pihak-pihak yang menurutnya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan Indonesia. Dia menyinggung wartawan, pengamat, dan LSM sebagai yang terus menyebarkan narasi negatif tentang Indonesia.

Sikap Al-Faruq

Lima belas abad yang lalu, ada pelajaran indah. Kala itu, Umar bin Khaththab Ra sedang memegang amanah sebagai khalifah. Siapa Umar Ra?

Umar Ra mendapat gelar Al-Faruq. Gelar itu dipandang pantas disematkan kepada Umar Ra karena mampu membedakan yang benar dan yang batil.
Suatu hari, Umar Ra berpidato di hadapan kaum Muslimin. Dia memakai baju yang tampak pas bagi badannya, yang tinggi dan besar.

Melihat hal itu, sikap kritis dari salah seorang yang hadir, muncul. Dia berpikir. Pertama, dia ingat bahwa kala itu baru saja ada pembagian bahan baju kepada seluruh warga masyarakat. Semua mendapat bahan dan dengan ukuran yang sama. Kedua, dia heran, dengan ukuran bahan baju yang diterima mustahil Umar Ra yang berbadan tinggi dan besar bisa menjahitnya dengan sempurna seperti yang dilihatnya sekarang. Dia punya kalkulasi, pasti ada kain tambahan. Dari mana itu?

“Kami tidak akan mendengarkanmu, wahai Umar, sebelum engkau menjelaskan tentang bajumu itu. Dari mana engkau mendapatkannya? Hal ini, karena kami tahu pembagian kain dari Baitul Mal hanya satu helai per orang, sementara tubuhmu tinggi dan besar. Mustahil bajumu itu berasal dari satu helai kain saja,” kata si orang itu.

Tentu, orang yang mengritisi itu punya dasar berpikir. Dia khawatir ada ketidakadilan dalam praktik pembagian bahan baju. Dia khawatir Umar Ra mengambil lebih dari haknya.

Mendengar ucapan (lebih tepat: kritik) itu, Umar Ra tidak marah. Umar Ra tidak menganggapnya sebagai penghinaan. Hal yang dia rasakan, dia perlu segera memberikan penjelasan apa adanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Umar Ra lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar Ra. Dimintanya sang putra untuk menjelaskan tentang hal yang menjadi sebab munculnya pertanyaan kritis itu.

Abdullah bin Umar Ra pun, menjelaskan. Bahwa, atas kondisi bahan baju yang pasti tidak cukup jika dibuat untuk Umar Ra – sang ayah, maka Abdullah Ra mengalah. Bahan baju yang menjadi bagiannya, diberikan kepada sang ayah. Dari dua bahan itulah, baju untuk Umar Ra dibuat. Lalu, ketika dipakai, menimbulkan tandatanya bagi seseorang.

Setelah jelas bahwa tidak ada penyimpangan dalam pembagian bahan baju, berkatalah orang yang mengritisi itu: “Sekarang kami akan mendengar dan taat kepadamu, wahai Amirul Mukminin.”

Tampak, di fragmen di atas, respons Umar Ra yang sangat indah. Dia sabar. Sebagai khalifah (pemimpin),dia membuka ruang kritik. Dia berkenan diuji di depan umum. Dia respons dengan baik masyarakat yang mempertanyakan performanya (dalam artian luas).

Perhatikan, Umar Ra pada kesempatan pertama segera memberi penjelasan secara terbuka atas pertanyaan yang masuk. Dengan adanya keterangan yang jujur, akan hilang prasangka. Sebaliknya, akan tetap terjaga kepercayaan kepadanya.

Pesan Kiai

Dulu, Umar Ra Al-Faruq sangat menghargai kritik yang masuk. Kini, di negeri ini, seorang ulama secara terbuka menyatakan bahwa dirinya siap dikritik.

Pada 19 September 2026, ada yang menarik di Pondok Modern Darussalam Gontor. Ini, terkait pidato pimpinannya yaitu KH Hasan Ahmad Sahal, di acara Resepsi Kesyukuran100 Gontor.

KH Hasan, yang dikenal kritis, dengan bahasa terjaga memberi ingat agar terutama pemimpin tak alergi dengan kritik. Bahasa yang digunakan KH Hasan sederhana, mudah dimengerti.

”Jika makanan saya, pakaian saya, kendaraan saya, dan rumah saya lebih dari yang dinikmati atau dimiliki santri, silakan protes saya. Silakan kritik dan demo saya,” tegas KH Hasan.

Pidato di atas, istimewa. Hal ini, karena disampaikan di forum yang dihadiri banyak tokoh, termasuk Presiden RI.

Menunduk, Menunduk!

Sangat berharap, pemimpin berhenti mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Kata-kata pemimpin yang diucapkan berulang-ulang dan selalu dimuat media massa akan berpengaruh kepada masyarakat. Terlebih, sekarang, tak hanya media massa yang menyiarkannya, tapi lewat media sosial hal itu juga viral.

Sesuatu yang terjadi berulang-ulang, sangat dikhawatirkan, akan dianggap sebagai hal yang benar oleh masyarakat. Bukankah, yang melakukan pemimpin? Di sini, terlihat bahaya itu!

Semoga Allah membimbing kita. Mudah-mudahan Allah menguatkan kita untuk selalu di Jalan Kebaikan. Terakhir, sangat kita inginkan, Allah meridahai semua amal shalih kita, aamiin.

Revisi Oleh:
  • Satria - 25/09/2026 13:28
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu