Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahasa Inggris dan Kompas Nilai Islam

Iklan Landscape Smamda
Bahasa Inggris dan Kompas Nilai Islam
Oleh : Ro’ifah Dosen Umsura

Bahasa Inggris sering kali dipandang sebagai bahasa untuk membuka pintu dunia. Dengan menguasainya, seseorang dapat mengakses lebih banyak informasi, berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, hingga memperluas peluang pendidikan dan pekerjaan. Karena itu, bahasa Inggris menjadi salah satu pelajaran penting di sekolah.

Namun, ada pertanyaan yang patut menjadi renungan: ketika peserta didik belajar bahasa Inggris, apakah mereka hanya sedang belajar bahasa?

Pertanyaan ini penting karena pendidikan sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan mengetahui dan menggunakan kata.

Pendidikan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan kehidupan.

Pembelajaran bahasa Inggris seharusnya tidak hanya membantu peserta didik menjadi good English speakers, tetapi juga menjadi manusia yang mampu berbahasa secara bijak.

Bahasa Inggris dapat menjadi ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai pendidikan Islam: penghormatan terhadap sesama, kesantunan, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan hidup berdampingan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberagaman manusia bukan alasan untuk saling merendahkan. Dalam QS Al-Hujurat ayat 13, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.

Lita’arafu—saling mengenal—menjadi pesan yang sangat relevan dalam pembelajaran bahasa asing. Belajar bahasa Inggris merupakan proses ta’aruf secara global.

Melalui bahasa Inggris, siswa dapat mengenal kehidupan masyarakat di berbagai negara. Mereka dapat membaca isu tentang perubahan iklim, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, perdamaian, maupun keberagaman budaya. Akan tetapi, mengenal dunia tidak berarti harus kehilangan identitas diri.

Justru sebaliknya. Semakin luas seseorang mengenal dunia, semakin penting ia memiliki pijakan nilai.

Nilai Islam sebagai Kompas Pembelajaran

Di sinilah pendidikan agama Islam dapat memberikan arah. Bahasa Inggris membuka jendela untuk melihat dunia, sementara nilai Islam membantu menentukan bagaimana seharusnya bersikap ketika melihat dunia.

Ketika siswa membaca teks tentang persoalan sampah plastik, pembelajaran tidak harus berhenti pada kosakata seperti waste, pollution, atau environment.

Guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Ketika membaca teks tentang kemiskinan, siswa tidak hanya mempelajari poverty, donation, atau community, tetapi juga dapat merefleksikan kepedulian sosial dan pentingnya membantu sesama.

Ketika membahas keberagaman budaya, siswa dapat belajar cultural awareness sekaligus memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Mereka belajar mengatakan, “I respect your culture”, bukan sekadar karena tuntutan kemampuan komunikasi, tetapi karena menghargai manusia lain merupakan kehidupan yang beradab.

SMPM 5 Pucang SBY

Persoalannya, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah masih berorientasi pada kebahasaan seperti kosakata, tata bahasa, pemahaman teks, dan tugas.

Padahal, pendidikan akan menjadi lebih bermakna ketika pertanyaan “Apa yang dipelajari?” berlanjut dengan “Untuk apa pengetahuan itu digunakan?”

Pertanyaan kedua inilah yang sering kali menentukan arah pendidikan.

Guru, Teknologi, dan Arah Pendidikan

Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan berbahasa Inggris bahkan semakin mudah diperoleh melalui berbagai aplikasi digital.

Teknologi dapat membantu menerjemahkan, memperbaiki tata bahasa, menghasilkan teks, bahkan melakukan percakapan.

Tetapi teknologi tidak secara otomatis mengajarkan kebijaksanaan, empati, tanggung jawab, dan akhlak.

Peran guru tetap penting. Guru bahasa Inggris tidak harus berubah menjadi guru agama.

Sebaliknya, guru dapat menghadirkan nilai melalui konteks pembelajaran yang dipilih, pertanyaan yang diajukan, cara berdiskusi, dan perilaku yang diteladankan.

Maka, belajar bahasa Inggris semestinya tidak hanya membuat peserta didik semakin mampu membaca dunia.

Mereka juga perlu dibantu untuk membaca dirinya sendiri: siapa dirinya, apa nilai yang diyakininya, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan untuk apa kemampuan yang dimilikinya digunakan.

Bahasa Inggris membuka pintu menuju dunia yang luas. Nilai Islam memberikan kompas agar perjalanan itu tidak kehilangan arah.

Sebab pendidikan yang baik bukan hanya tentang melahirkan generasi yang mampu berkata, “I can speak English.” Lebih jauh dari itu, pendidikan perlu membantu mereka sampai pada kesadaran: “I know who I am, I respect others, and I know what I should do with what I know.”

Membaca dunia melalui bahasa Inggris, pada akhirnya, semestinya menjadi jalan untuk semakin mengenal diri, semakin menghargai sesama, dan semakin bijak menjalani kehidupan.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/09/2026 08:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu