“Artikel Ibu sudah published.”
Kalimat sederhana itu saya baca berulang kali pada Kamis (30/7/2026). Meski singkat, kalimat tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan hampir tujuh bulan dalam proses menulis, merevisi, belajar, dan menerima berbagai masukan hingga sebuah artikel ilmiah akhirnya diterbitkan.
Saya pun tersenyum. Benar adanya, menulis bukanlah tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan tulisan, melainkan siapa yang bersedia terus belajar, memperbaiki, dan membuka diri terhadap kritik.
Perjalanan ini bermula ketika Direktorat Guru Pendidikan Dasar Kemendikdasmen membuka Call for Papers OJS Didaktika 2026 pada awal Januari.
Saat itu saya memiliki keyakinan sederhana bahwa inovasi pembelajaran STEAMS yang selama ini diterapkan di kelas tidak seharusnya berhenti sebagai dokumentasi sekolah atau sekadar bahan presentasi.
Saya percaya, praktik pembelajaran yang baik layak didokumentasikan agar dapat menginspirasi guru lain.
Bukan untuk mencari pengakuan, tetapi karena mungkin suatu saat ada guru di sudut lain Indonesia yang menghadapi persoalan serupa, kemudian menemukan tulisan ini dan berkata, “Oh… ternyata saya bisa mencoba cara ini.”
Bukankah ilmu memang seharusnya demikian? Mengalir dan memberi manfaat.
Proses seleksi demi seleksi saya lalui, mulai dari pengiriman artikel, pendampingan daring pada April 2026, hingga mengikuti Bimbingan Teknis Penulisan Artikel Ilmiah secara luring di Yogyakarta.
Pada momen itulah saya merasa kembali menjadi mahasiswa.
Buku catatan selalu terbuka.
Laptop hampir tidak pernah benar-benar ditutup.
Berbagai pertanyaan terus bermunculan.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika mendapat bimbingan dari Dr. Moh. Salimi dari Universitas Sebelas Maret.
Beliau tidak hanya mengoreksi tulisan, tetapi juga mengajarkan cara berpikir sebagai seorang peneliti.
Ketika saya bertanya apakah analisis cukup menggunakan N-Gain, beliau menjelaskan dengan sangat sederhana.
“Jika penelitian ingin membuktikan efektivitas pembelajaran, jangan hanya menunjukkan bahwa nilainya naik. Tunjukkan pula apakah perbedaannya signifikan, seberapa besar peningkatannya, dan sekuat apa pengaruh perlakuannya.”
Penjelasan tersebut mengubah cara pandang saya terhadap statistik penelitian.
Saya belajar bahwa data bukan sekadar angka, melainkan cerita yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Melalui proses itu saya memahami pentingnya melengkapi penelitian dengan uji normalitas, paired sample t-test, N-Gain, hingga effect size (Cohen’s d).
Beliau juga memberikan penjelasan yang hingga kini masih saya simpan dalam catatan.
“t-test menjawab apakah ada perbedaan. N-Gain menunjukkan seberapa besar peningkatannya. Effect size menjelaskan seberapa kuat pengaruh pembelajaran.”
Penjelasan sederhana tersebut menjadi titik balik dalam memahami analisis data penelitian.
Pelajaran berharga lainnya datang ketika saya mencoba menggunakan hasil validasi modul sebagai dasar validasi instrumen penelitian.
Saat itu saya mengira keduanya dapat saling menggantikan.
Ternyata tidak.
Saya mendapat penjelasan bahwa validasi perangkat pembelajaran berbeda dengan validasi instrumen penelitian.
Instrumen penelitian harus memiliki bukti validitas dan reliabilitasnya sendiri karena menjadi dasar dalam menghasilkan data yang sahih.
Dari proses tersebut saya menyadari bahwa terkadang seseorang tidak kekurangan semangat untuk meneliti.
Ia hanya belum bertemu dengan guru yang mampu menjelaskan hal-hal rumit menggunakan bahasa yang sederhana.
Seluruh proses belajar itu akhirnya bermuara pada terbitnya artikel berjudul “STEAMS-Driven Green Innovation to Strengthen Critical Thinking in Elementary Education” pada Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar, Volume 10 Nomor 2 Tahun 2026 yang terakreditasi Sinta 2.
Penelitian tersebut melibatkan 79 siswa kelas IV SD Muhammadiyah Manyar dengan mengintegrasikan pendekatan STEAMS, Design Thinking, Deep Learning, serta proyek Aqua Farming Green Innovation untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Nilai rata-rata meningkat dari 66,72 menjadi 88,64, dengan N-Gain sebesar 0,63 dan Effect Size (Cohen’s d) sebesar 2,51, yang menunjukkan pengaruh pembelajaran berada pada kategori sangat kuat.
Namun, bagi saya, hasil terbesar dari perjalanan ini bukanlah angka-angka statistik tersebut.
Yang paling berharga adalah proses belajar yang menyertainya.
Saya semakin yakin bahwa menulis bukan sekadar memenuhi kewajiban publikasi ilmiah.
Menulis adalah cara mengabadikan pemikiran.
Boleh jadi suatu hari usia kita berakhir, tetapi tulisan akan terus berjalan. Ia berpindah dari satu guru kepada guru lainnya, dari satu sekolah ke sekolah berikutnya, hingga menjadi inspirasi yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Terima kasih kepada Direktorat Guru Pendidikan Dasar Kemendikdasmen yang telah menghadirkan ruang belajar melalui Bimbingan Teknis OJS Didaktika.
Terima kasih kepada Dr. Moh. Salimi beserta seluruh reviewer yang telah membimbing dengan penuh kesabaran.
Terima kasih kepada keluarga besar SD Muhammadiyah Manyar yang selalu menjadi tempat terbaik untuk terus belajar dan bertumbuh.
Semoga publikasi ini bukan menjadi akhir dari perjalanan menulis.
Semoga justru menjadi awal untuk terus berbagi ilmu, menginspirasi, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi pendidikan Indonesia.






0 Tanggapan
Empty Comments