SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (SMK Mutu) Malang menggelar Pengajian Ahad Pagi khusus guru, karyawan, dan keluarga di Titanium Auditorium Hall lantai 7, Ahad (4/10/2026). Kegiatan yang dimotori Tim Ismuba SMK Mutu ini mengusung tema Harmoni Cinta Kinerja & Keluarga Perindu Surga.
Pengajian menghadirkan Suhadi Fadjaray, motivator keluarga sekaligus penulis buku Parenthinking 4.B Amazing Character Building, sebagai keynote speaker. Selain menjadi ajang silaturahmi keluarga besar SMK Mutu, kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan rohani bagi guru dan karyawan.
Mengawali paparannya, Suhadi mengutip QS Al-Ghasyiyah ayat 3–4 tentang orang-orang yang bekerja keras tetapi berujung pada kepayahan dan siksa. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat agar aktivitas mendidik tidak hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga dilandasi keikhlasan, niat, dan etika moral.
“Kita berlindung kepada Allah agar proses mentransfer ilmu yang kita lakukan selama ini di sekolah maupun madrasah tidak berujung pada kebangkrutan spiritual,” tuturnya.
Guru Malaikat, Jangan Jadi Singa di Rumah
Suhadi menekankan bahwa pendidikan karakter anak bermula dari keluarga. Ibu merupakan madrasatul ula atau madrasah pertama, sedangkan ayah berperan sebagai pemimpin keluarga. Karena itu, pendidikan tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan.
“Anak yang bermasalah tumbuh dari keluarga yang bermasalah. 80 persen anak itu meniru dari apa yang dikerjakan orangtua, selebihnya 20 persen mereka mendengar,” paparnya.
Ia kemudian menyoroti pentingnya kebahagiaan ibu, terutama bagi ibu yang bekerja sebagai guru. Setelah seharian mengelola emosi di sekolah, seorang guru dapat mengalami kelelahan psikologis ketika pulang ke rumah.
Karena itu, Suhadi menyarankan adanya buffer time selama 10–15 menit sebagai masa transisi sebelum menjalankan aktivitas rumah tangga. Waktu tersebut dapat diisi dengan mandi, salat, atau minum teh bersama pasangan.
“Jangan sampai paradoks ‘malaikat’ di sekolah, ‘singa’ di rumah itu ada di dalam keluarga kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Suhadi menegaskan pentingnya kehadiran ayah. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga harus hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
“Silakan hormati gurumu, ustadzmu di pondok karena mereka adalah murobbi-mu, namun ayah tetap murobbi utama di keluarga,” imbuhnya.
Ia mengajak keluarga membangun tiga hal, yakni menyinkronkan energi rumah dan sekolah, menjaga koridor syariat di era digital, serta membentengi keluarga dari kelalaian ibadah dan berbagai distraksi zaman.
Menurut Suhadi, keluarga sakinah membutuhkan integrasi dan sinergi seluruh anggota keluarga. Kebahagiaan tidak datang secara kebetulan, tetapi harus diperjuangkan dan dinikmati bersama.
Menutup kajian, ia berpesan agar guru dan karyawan memandang anak sebagai amanah Allah SWT.
“Pandang anak sebagai ‘berlian’, maka di hari tua mereka akan memperlakukan kita sebagai ‘berlian’, bukan beban,” pungkasnya.
Ia menambahkan, anak yang dipandang sebagai berlian semestinya diasuh dengan cara yang “brilian”, penuh kesadaran dan keteladanan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments