Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung, Kota Surabaya, menggelar Kajian Ahad Pagi di Pondok Pesantren KH Mas Mansyur, Balas Klumprik, Ahad (4/10/2026). Kegiatan menghadirkan Dr. H. Mahsun Jayadi, M.Ag., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya periode 2015–2020 sebagai narasumber.
Mengangkat tema Muhammadiyah-Ku: Berdakwah, Berjuang, dan Bahagia, kajian diikuti jajaran PCM dan PCA Wiyung, pimpinan organisasi otonom, pimpinan serta anggota ranting Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, kepala sekolah, guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), pengelola LKSA KH Mas Mansyur dan ’Aisyiyah, takmir masjid dan mushala, serta simpatisan Muhammadiyah Wiyung.
Ketua PCM Wiyung H. Suri Marzuki, SE., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Mahsun Jayadi. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk rutin mengikuti kajian Ahad Pagi sekaligus mendukung program PCM Wiyung BerGema (Bergerak dan Maju).
“Harapan kami mari kita dukung agar program kerja PCM Wiyung bisa terlaksana dengan baik, di antaranya kepengurusan E-KTAM,” ujarnya.
Memaknai Muhammadiyah-Ku
Mahsun Jayadi mengawali kajian dengan mengajak peserta memaknai kata “-ku” dalam istilah Muhammadiyah-Ku. Menurutnya, ungkapan tersebut menunjukkan sense of belonging atau rasa memiliki.
“Bukan saya yang punya Muhammadiyah, tetapi saya merasa dimiliki oleh Muhammadiyah,” tuturnya.
Selain rasa memiliki, Muhammadiyah-Ku juga mengandung sense of responsibility, yakni rasa tanggung jawab menjaga nama baik persyarikatan, serta expressions of love sebagai bentuk kecintaan terhadap Muhammadiyah.
Menurut Mahsun, ber-Muhammadiyah merupakan pilihan untuk menjadikan dakwah dan perjuangan sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT. Tiga hal yang perlu dihidupkan adalah berdakwah, berjuang, dan bahagia.
Ia menjelaskan, berdakwah merupakan identitas dasar Muhammadiyah sebagai gerakan amar makruf nahi munkar. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga dakwah bil hal melalui tindakan nyata, seperti membangun masjid, rumah tahfidz, pesantren, klinik, panti asuhan, LAZISMU, MDMC, dan berbagai amal sosial lainnya.
“Berdakwah di Muhammadiyah artinya mengajak pada kebaikan dengan cara memajukan hidup orang lain,” jelasnya.
Sementara itu, perjuangan membutuhkan keikhlasan dan pengorbanan. Ia mengingatkan pesan KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Berjuang, lanjutnya, berarti siap memberikan tenaga, waktu, pikiran, bahkan harta tanpa merasa paling berjasa. Perjuangan tersebut merupakan amal kolektif yang harus dilandasi tauhid.
Adapun kebahagiaan merupakan hasil dari dakwah dan perjuangan yang dilakukan dengan benar. Menurut Mahsun, kebahagiaan warga Muhammadiyah bukan semata-mata berupa materi atau pujian, melainkan kepuasan spiritual karena dapat membantu orang lain dan menjadikan hidup lebih bermakna. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments