Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 75

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 75

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 220 s/d sebagian 224.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 74

***

Halaman 220

  1. Kabupaten Bojonegoro.

Beberapa nama yang ikut berperan dalam periode kritis selama Orde Lama, di antaranya Said Marzuqi, Sidiq Muhtadi, Tom Sumarno, Qomari Maksum, Nuruddin Singohandono, Wajihuddin, Supangat, Sosro Prawiro, Machfud Mucharrom, Gatot Prawirodigdo, Achmad Dja’far, H. Muhammad Idris, dan Mukri Rizki.

Peran Bupati Bojonegoro Tamsitejosasmito yang memberikan peluang, dorongan dan bantuan bagi pengembangan Muhammadiyah di Bojonegoro pada 1960-an itu besar sekali. Tamsi yang berasal dari Gresik ini dahulunya kader HW dan mantan guru HIS Muhammadiyah. Persahabatan Bupati Tamsi dengan Ustadz Masyhudi, perintis Muhammadiyah Bojonegoro, memberikan kontribusi besar bagi pengembangan amal usaha di wilayah ini.

Pada periode ini H. Maskun, juga memberikan andil signifikan dalam pengembangan Persyarikatan; terlebih setelah Maskun dipercaya sebagai Kepala Kanwil Depag Jawa Timur pada 1980-an.

Periode Machfud Mucharrom (1965-1968), aktivitas Muhammadiyah masih berjalan dari rumah ke rumah karena belum

Halaman 221

memiliki kantor permanen. Tetapi secara kelembagaan berkembang cukup baik dengan bertambahnya beberapa cabang baru, seperti Sumberejo, Kapas, Balen, Sugihwaras, Baureno, Kanor, Kedungadem, Ngraho, Kepohbaru, Kalitidu, Padangan, dan Kota Bojonegoro.

Kegiatan yang menonjol adalah pengajian-pengajian yang diarahkan pada peneladanan sunnah Rasulullah dan bersatu dalam menjalankan syariat Islam. Penyelenggaraan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan seperti di Jl. Teuku Umar hingga kini terus berlanjut, sedangkan yang digelar di lapangan Alun-alun kota Bojonegoro tak berlanjut akibat kurangnya kader yang mengawasi dan memprakarsai. {114}

Periode A. Hazim Amin (1978-1981). Pada periode ini dibentuk beberapa Majelis, seperti Tabligh, Pendidikan dan Pengajaran (Manpendapda), Pembina Kesejahteraan Ummat (PKU), dan Wakaf. Saat itu membawahi 11 ranting, yaitu Bojonegoro Kota, Baureno, Sumberejo, Kanor, Kedungadem, Sugihwaras, Balen, Kapas, Kalitidu, Padangan, dan Ngraho.

Pada saat yang sama juga tumbuh ranting-ranting di setiap cabang. Sebelum 1978 kegiatan terpusat di BKIA (sekarang RS Aisyiyah) di Jl. Masjid 22 (sekarang Jl. KH Hasyim Asy’ari) Bojonegoro. Kemudian mulai 1978 pindah ke rumah M.A. Bajasut. Sampai 1982 pusat kegiatan organisasi pindah lagi di SMU Muhammadiyah 1.

Konsolidasi organisasi terus dilakukan, terutama di level pimpinan cabang dan ranting. Turba dari satu cabang ke cabang lainnya guna menggelorakan semangat organisasi dan stamina perjuangan. Berbagai aktivitas pembinaan SDM secara internal maupun dengan mengirim utusan ke luar, seperti mengikuti perkaderan di Gresik, yaitu Kasnari, Sunhad, Suryanto (Balen), Alim Salamun (Kapas), dan Sutarjo (Kedungadem).

Mereka diberi amanat mengembangkan sekolah Muhammadiyah. Pengembangan sumber daya keuangan dilakukan dengan mengaktifkan dermawan anggota setiap bulan, pengefektifan dana sekolah dan BKIA, serta dari zakat, infaq dan shadaqah. Periode Mochammad Bayasut (1985-1990), bersamaan dengan Muktamar ke-41 di Surakarta (1985), yang diharuskan oleh UU No. 8 tahun 1985 untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Saat itu banyak pihak yang sulit memperkirakan bagaimana

Halaman 222

implikasinya jika Muhammadiyah menerima atau menolak penerapan azas tunggal itu mengingat sebelumnya Persyarikatan keagamaan ini jelas-jelas menggunakan Islam sebagai azasnya. Muktamar ke-41 menyesuaikan diri dengan UU tersebut, tetapi dengan menambahkan kalimat “bersumberkan pada al-Qur’an dan As-Sunnah”. Hal ini mudah dimengerti konstituen dan tidak sampai memadamkan semangat perjuangan, bahkan makin menggelora.

Saat Musyda periode 1985-1990 yang bersamaan dengan peringatan Milad Muhammadiyah ke-77 pada 11 September 1987, Muhammadiyah melakukan show of force. Selain menyelenggarakan kegiatan ceramah yang diisi PWM Jatim, juga diadakan serangkaian pertunjukan pawai drum band terdiri 4 unit yaitu; dari Perguruan Muhammadiyah Babat, Dengok, Blimbing, dan Sendang Lamongan.

Penampilan kegiatan itu berhasil memukau perhatian masyarakat Bojonegoro. Selain itu, pawai pelajar-pelajar dari seluruh institusi Muhammadiyah yang berkembang di kawasan Bojonegoro mengubah persepsi warga Bojonegoro dengan mengatakan, bahwa “Potensi Muhammadiyah perlu diperhitungkan,”

Periode A. Kasnari Hadi Santoso (1985-1990/1991-1995/1995-2000). Pada periode pertama kepemimpinan Kasnari berbagai langkah konsolidasi kelembagaan dan kepemimpinan dilakukan secara cepat. Ini dikarenakan Persyarikatan mulai membutuhkan perhatian dan pengabdian yang serius, sementara jumlah amal usaha juga makin berkembang, baik secara kualitas maupun kuantitas.

SMPM 5 Pucang SBY

Periode Sjarwani Ichsan (2000-2005). Dalam periode ini beberapa amal usaha, seperti SPBU Syirkah Amanah dan pemancar radio Swara Madani FM berdiri. Periode ini dimulai dengan melembagakan visi dan misi Muhammadiyah sebagai perwujudan penerapan ajaran Islam bersumber Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Perkembangan Cabang dan Ranting, sampai 2002 memiliki 15 Cabang (tiga dalam proses), dan 121 Ranting. {115} Cabang Bojonegoro Kota didirikan Masyhudi (mantan Pengurus Masyumi, anggota DPRD Bojonegoro) pada 1963 di Kauman, Bojonegoro. Kini PCM Kota Bojonegoro memiliki 14 ranting.

Cabang Gondang semula adalah PCM Bubulan, karena Kecamatan Gondang merupakan kecamatan baru. PCM Gondang berdiri pada 19 Dzulhijjah 1919 H/6 April 1999 M. Para pendirinya

Halaman 223

antara lain Drs. H. Muslih Al-Ghomri guru SDN di Desa Pajeng. Ia selama 12 tahun berdakwah dengan cara-cara Muhammadiyah. Tokoh lainnya ialah Drs. Moh. Mun’im, seorang pengawas PLKB wilayah Bubulan dan Gondang. Ia telah berkali-kali mengunjungi tokoh Muhammadiyah di Bojonegoro.

Pada 1959 di Kecamatan Kapas gerakan ini pertama kali muncul di dukuh Sepat, desa Duyungan (sekarang masuk Kecamatan Sukosewu). Ketika itu ketuanya adalah Kyai Nursalim. Tokoh lain yang ikut berperan adalah Mashudi, Mahfud Muharrom, dan SU. Bajasut.

Ide yang pertama kali dikenalkan oleh tokoh-tokoh tersebut pada masyarakat adalah gerakan pemurnian tauhid dan upaya memerangi TBC. Kini memiliki 4 ranting: Semenpinggir, Plesungan, Kedaton, dan Kapas. {116}

Pada 1953, di Kecamatan Sukosewu paham modernis ini pertama kali muncul di dukuh Sepat dan dukuh Mojoroto, desa Duyungan (dulu Kecamatan Kapas), dikenalkan Edris dan diteruskan Nursalim. Namun secara resmi cabang Sukosewu baru berdiri 2001. Untuk periode 2000-2005, Ridwan S. Ag (Ketua) dan Sudarko A.Ma. (Sekretaris).

Kini memiliki ranting-ranting di Sukosewu, Klepek, Semenkidul, Duyungan, Jumput, Pacing dan Sidodadi. Kecuali Sidodadi, di semua ranting tersebut telah memiliki amal usaha dan juga diadakan pengajian rutin baik di masjid maupun di rumah pimpinan secara bergiliran.

Pada 1947, Muhammadiyah masuk ke Sumberejo melalui kegiatan khitanan dan penyantunan anak yatim. Tokoh-tokoh yang memiliki andil adalah H. Sahlan, H.Basuni, Subkhi Ali, H. Abdullah Siddiq, H. Abdullah Hamid, H. Nurhadi, H. Slamet, H. Thohir, dan didukung tenaga muda seperti Jaelan, Helmi, dan Maksum. Cabang ini termasuk yang paling menonjol.

Masuknya paham Muhammadiyah ke Kepoh Baru tak bisa dilepaskan dari bubarnya Masyumi. Banyak aktivis Masyumi yang kemudian terjun ke dunia pendidikan. Sebelum itu, juga guru-guru yang berasal dari Jogjakarta pada 1959 telah mendirikan Madrasah Muhammadiyah di Desa Mudung dan kepanduan HW. Salah seorang guru yang terkenal ialah Sumaryono dari Klaten.

Paham Muhammadiyah pertama kali dikenalkan Kyai Toha dari Desa Mudung, H. Darmin dan K. Toha dari Desa Sumberagung. Pada

Halaman 224

1970-an Muhammadiyah Kepohbaru masih bergabung dengan Cabang Baureno yang dipimpin Israwan dari Gunungsari.

Pada masa Orde Baru tidak sedikit sekolah Muhammadiyah yang diambil alih oleh GUPPI, akibatnya Muhammadiyah pun ikut redup. Namun pada awal 1980-an beberapa madrasah tersebut mulai bergiat lagi. Pada 1991, Muhammadiyah Kepohbaru mulai memisahkan diri dari Cabang Baureno dan membentuk cabang sendiri, dengan ketua Ngadino dari Desa Mudung. {117}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 15:09
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu