Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Direktur Smamita: Kolaborasi Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Direktur Smamita: Kolaborasi Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan
Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman Edwin Yogi Laayrananta, MIKom dalam kegiatan Parenting bersama wali siswa di Hall Smamita lantai 2. Foto: Satrio/PWMU.CO
pwmu.co -

Ratusan wali murid baru kelas X SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) mengikuti kegiatan Parenting yang dirangkaikan dengan pemaparan program sekolah di Hall Smamita Lantai 2, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

Selain dihadiri jajaran pimpinan sekolah, kegiatan tersebut menghadirkan dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dita Kurnia Sari, M.Pd., sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia mengajak para orang tua untuk mengenali sekaligus mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki setiap anak.

Pada kesempatan itu, Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Edwin Yogi Laayrananta, M.I.Kom., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas sekolah, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga.

Menurutnya, pendidikan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh seluruh pihak yang terlibat.

“Pendidikan adalah amanah. Setiap anak adalah titipan yang kami jaga dengan tanggung jawab sepenuh hati,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa orang tua merupakan mitra utama sekolah dalam mendidik anak. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak mungkin dicapai apabila hanya mengandalkan peran sekolah.

“Mari kita berjalan bersama, melangkah beriringan, saling mendukung demi masa depan terbaik putra-putri kita,” tambahnya.

Pendidikan Harus Adaptif terhadap Perubahan Zaman

Edwin juga mengajak para orang tua memahami perubahan besar yang sedang terjadi di dunia pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan sehingga dunia pendidikan harus mampu beradaptasi.

Ia menjelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 menghadirkan otomatisasi, konektivitas, dan sistem cerdas yang mengubah cara manusia bekerja. Sementara itu, konsep Society 5.0 menempatkan teknologi sebagai solusi berbagai persoalan sosial dengan manusia sebagai pusatnya.

Di sisi lain, perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital menuntut generasi muda memiliki pola pikir baru, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Kita tidak cukup hanya mempersiapkan anak agar memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi juga membekali mereka dengan karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan daya adaptasi terhadap perubahan,” jelasnya.

Pendekatan Berbasis Data untuk Memahami Potensi Siswa

Sebagai bentuk keseriusan dalam mendampingi peserta didik, Smamita menerapkan pendekatan berbasis data sejak awal siswa memasuki sekolah.

Seluruh siswa baru mengikuti psikotes dan pemetaan minat sebagai dasar penyusunan program pembinaan. Melalui pemetaan tersebut, sekolah memperoleh gambaran mengenai kemampuan intelektual (IQ), gaya belajar, karakter, hingga daya juang setiap peserta didik.

“Hasil pemetaan ini menjadi dasar personalisasi program pembinaan sehingga pendampingan kepada setiap siswa dapat dilakukan secara lebih tepat sesuai kebutuhannya,” ungkap Edwin, yang juga menjabat Ketua Majelis Kader PCM Sepanjang.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi, tantangan pendidikan tidak lagi sebatas mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter yang kuat serta ketahanan mental peserta didik.

Hasil Awal Pemetaan Psikologi Siswa

Edwin memaparkan hasil awal pemetaan psikologi siswa kelas X. Pada aspek kemampuan intelektual, sebanyak 43 persen siswa berada pada kategori rata-rata, 10 persen di atas rata-rata, 16 persen di bawah rata-rata, dan 31 persen pada kategori rata-rata bawah.

Berdasarkan gaya belajar, tipe auditori mendominasi dengan persentase 50 persen, disusul visual 31 persen, dan kinestetik 19 persen.

Sementara itu, pada aspek Adversity Quotient (AQ), sebanyak 58 persen siswa berada pada kategori Campers, yakni siswa yang cenderung merasa cukup pada kondisi tertentu. Sebanyak 21 persen termasuk kategori Climbers, yaitu siswa yang memiliki semangat tinggi dalam menghadapi tantangan. Adapun 21 persen lainnya berada pada kategori Quitters, yang masih memerlukan pendampingan agar lebih tangguh menghadapi berbagai kesulitan.

Menurut Edwin, data tersebut menjadi pijakan sekolah dalam menyusun strategi pembinaan yang lebih efektif, terarah, dan sesuai dengan karakter setiap peserta didik.

Tiga Filosofi dan Tujuh Peran Guru

Dalam membangun budaya sekolah, Smamita mengembangkan tiga filosofi utama sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik.

Pertama, guru adalah pendidik, bukan sekadar pengajar. Kedua, belajar dapat dilakukan di mana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ketiga, budaya Core Values Respect menjadi nilai yang dihidupi seluruh warga sekolah.

Untuk mewujudkan filosofi tersebut, setiap guru menjalankan tujuh peran utama, yakni sebagai teladan, pembimbing, motivator, inspirator, coach, murabbi, dan pengajar.

Budaya Respect

Budaya Respect diwujudkan melalui lima nilai utama, yaitu Religious, Smart, Positive, Creative, dan Respect yang terus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Menurut Edwin, karakter tidak dibentuk melalui ceramah semata, melainkan melalui kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten.

“Dari kebiasaan yang baik akan lahir karakter yang kuat. Dari karakter yang kuat akan tumbuh prestasi, dan dari prestasi akan terbangun masa depan yang gemilang,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 03/08/2026 08:28
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu