Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Suatu Hari Kita Akan Berjalan Pelan

Iklan Landscape Smamda
Suatu Hari Kita Akan Berjalan Pelan
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO

Di sudut Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), beberapa orang berkumpul.

Tidak banyak. Sebagian besar wartawan. Mereka sedang menjalankan tugas jurnalistik.

Saya memperhatikan yang lain. Bukan yang sedang menjadi pusat perhatian. Justru mereka yang berjalan pelan. Usianya rata-rata sudah di atas 60 tahun. Ada yang lebih.

Mereka hilir mudik di arena muktamar. Tas menempel di bahu. Satu tangan menggenggam gelas minum, tangan lainnya sibuk dengan ponsel. ID card menggantung di leher. Sebagian mengenakan batik bermotif Muhammadiyah.

Ada yang berjalan dengan tongkat. Ada yang langkahnya sudah tidak lagi panjang. Pelan. Sangat pelan. Sesekali berhenti. Bukan karena ingin istirahat.

Mungkin karena mencari seseorang. Mencari teman lama. Mencari kawan seperjuangan. Mencari wajah yang pernah begitu akrab puluhan tahun silam.

Di arena Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah itu, mereka seperti sedang mencari masa lalu.

Muktamar berlangsung pada 18–20 November 2022. Edutorium KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu pusat kegiatan.

Ribuan orang datang. Ada peserta. Ada penggembira. Ada pimpinan. Ada anggota. Ada tamu. Ada wartawan.

Ada pula mereka yang mungkin tidak lagi punya jabatan apa-apa. Tetapi tetap datang. Tetap ingin merasakan denyut Muhammadiyah.

Saya dan beberapa kawan kemudian saling pandang. Kami mempunyai dugaan yang sama.

Jangan-jangan orang-orang sepuh itu dahulu adalah orang penting di Muhammadiyah.

Mungkin pernah menjadi ketua pimpinan daerah. Pimpinan cabang. Bisa juga pimpinan ranting.

SMPM 5 Pucang SBY

Atau pengurus majelis. Atau pimpinan amal usaha Muhammadiyah. Ada pula yang pernah menduduki jabatan penting di luar Muhammadiyah.

Dulu mereka pasti sangat dihormati. Duduknya di depan. Namanya disebut. Pendapatnya ditunggu.

Kalau ada acara Muhammadiyah, mereka sering diundang. Bukan sekadar hadir. Tetapi diminta memberikan sambutan. Membuka acara. Menjadi narasumber. Memberikan tausiah. Menjadi panelis. Menjadi penentu.

Bahkan kadang menjadi orang yang menentukan siapa yang akan memimpin.

Telepon mereka dulu mungkin tidak pernah sepi. Undangan datang silih berganti. Ada rapat. Ada pengajian. Ada musyawarah. Ada pelantikan. Ada milad. Ada peresmian sekolah. Ada peletakan batu pertama rumah sakit. Ada pertemuan tokoh.

Nama mereka ada di banyak tempat. Wajah mereka dikenal. Orang-orang menghampiri. Menyalami.Meminta foto. Meminta nasihat. Meminta bantuan.

***

Begitulah kehidupan ketika seseorang sedang berada di puncak.Orang-orang melihatnya. Orang-orang membutuhkan. Orang-orang menghormati. Tetapi waktu punya cara sendiri untuk mengubah semuanya.

Di Muktamar itu saya melihat sesuatu yang mungkin sering luput dari perhatian. Orang-orang tua itu masih ada. Tetapi dunia sudah tidak terlalu memperhatikan mereka.

Mereka tidak lagi menjadi pusat kerumunan. Tidak banyak yang menghampiri. Tidak banyak yang meminta pendapat. Tidak banyak yang mencari.

Mereka berkumpul dengan teman-teman seusianya. Duduk bersama. Mengambil kue dan cemilan bersama. Bercerita. Tertawa. Mengenang masa lalu.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 02/08/2026 22:59
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu