Kadang menunjuk seseorang dari kejauhan.
“Itu dulu pengurus.”
“Dulu dia ketua.”
“Dulu dia kepala sekolah.”
“Dulu dia jadi direktur rumah sakit .”
Dulu. Kata itu terasa dominan.
Dulu. Seolah-olah sebagian besar kebanggaan hidup mereka telah menjadi sejarah.
Tetapi ada satu hal yang menarik. Mereka tetap datang. Tidak ada jabatan. Tidak ada panggung. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada pengeras suara yang memanggil nama mereka.
Namun mereka tetap hadir. Tetap memakai atribut Muhammadiyah. Tetap ingin bertemu sesama warga Muhammadiyah. Tetap mengikuti muktamar. Tetap ingin menjadi bagian dari perjalanan persyarikatan.
Di situlah saya melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada jabatan. Kecintaan. Jabatan bisa selesai. Pengaruh bisa berkurang. Popularitas bisa hilang. Tetapi semangat bermuhammadiyah tidak harus ikut pensiun.
Saya dan kawan-kawan kemudian bergurau. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi kami akan seperti mereka. Kalau Allah masih memberi umur panjang.
Datang ke muktamar. Berjalan pelan. Bertemu teman-teman yang juga sudah tua. Mencari tempat duduk. Mencari kawan. Mencari orang yang masih mengenali wajah kita.
Mungkin tidak ada lagi yang meminta kami memberikan sambutan. Tidak ada lagi yang meminta pendapat. Tidak ada lagi yang memanggil untuk duduk di barisan depan. Bisa jadi tidak ada yang melirik. Dan itu tidak apa-apa.
Bukankah memang begitu hukum kehidupan?
Hari ini dipanggil. Besok dilupakan. Hari ini dihormati. Besok dilewati begitu saja.
Hari ini berada di depan. Besok mungkin hanya menjadi penonton.
***
Maka, jangan terlalu bangga ketika sedang berada di atas. Jangan mudah merasa paling penting. Jangan merasa organisasi tidak bisa berjalan tanpa kita. Jangan merasa jabatan adalah milik kita.
Jabatan itu pinjaman. Kedudukan itu sementara. Kekuasaan juga sementara. Bahkan perhatian manusia pun sementara.
Ketika kita menjadi ketua, banyak orang datang. Ketika kita menjadi pengurus, banyak orang menyapa.
Ketika kita memiliki kewenangan, banyak orang meminta bantuan. Tetapi ketika masa jabatan selesai, satu per satu akan pergi. Itu bukan penghinaan. Itu hukum alam. Itu juga pengingat.
Jangan sampai ketika menjadi pimpinan kita berubah menjadi orang yang pogah. Jangan menjadi sombong. Jangan adigang-adigung-adiguna.
Jangan mentang-mentang punya jabatan lalu merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebab jabatan akan berakhir. Yang tersisa adalah bagaimana kita menggunakan jabatan itu.
Untuk meninggalkan kebaikan. Atau meninggalkan luka. Untuk dikenang karena manfaat. Atau dikenang karena kesombongan.





0 Tanggapan
Empty Comments