Rumah Tahfidz bukan sekadar tempat belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi ikhtiar menghadirkan amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir sekaligus membentuk generasi yang berakhlak Qurani.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi Matahari Terbit yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng di Masjid Istiqomah, Jalan Jojoran III Nomor 146 Surabaya, Ahad (2/8/2026). Kajian bertema “Menata Bekal, Menjemput Husnul Khatimah” menghadirkan Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Ust. Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM., sebagai pemateri.
Kajian tidak hanya mengajak jamaah memperbanyak ibadah secara personal, tetapi juga menekankan pentingnya membangun kebaikan secara kolektif melalui pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan generasi.
Semangat tersebut mendapat dukungan dari Ketua RW 12 yang menyambut baik keberadaan Rumah Tahfidz di lingkungan masyarakat. Rumah Tahfidz diharapkan menjadi ruang pembelajaran Al-Qur’an sekaligus tempat membentuk karakter generasi yang dekat dengan nilai-nilai Islam.
Ketua PCM Gubeng, Ust. Drs. Sulaiman, M.A., menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh pihak yang terus mendukung gerakan dakwah serta pendidikan Al-Qur’an di wilayahnya.
Dalam kajiannya, Ust. Sholihin mengajak jamaah memahami makna syukur secara lebih mendalam. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui ucapan alhamdulillah, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan, pemanfaatan harta, dan sikap hati.
Ia menjelaskan empat bentuk syukur, yaitu syukur bil qauli, bil fi’li, bil mali, dan bil qalbi.
Syukur bil qauli diwujudkan melalui ucapan yang baik. Syukur bil fi’li tercermin dalam perilaku yang semakin baik. Syukur bil mali dilakukan dengan memanfaatkan harta di jalan yang benar, termasuk melalui infak dan sedekah. Adapun syukur bil qalbi diwujudkan dengan hati yang merasa cukup dan tidak dikuasai sifat tamak.
Dari sinilah pentingnya sedekah jariyah mendapat penekanan. Ust. Sholihin mengingatkan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, terdapat tiga amal yang pahalanya terus mengalir, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Menurutnya, Rumah Tahfidz menjadi ruang yang mempertemukan ketiga amal tersebut. Harta yang diinfakkan untuk pendidikan Al-Qur’an dapat menjadi sedekah jariyah, ilmu yang dipelajari akan terus memberikan manfaat, sementara anak-anak yang tumbuh dalam pendidikan agama diharapkan menjadi generasi saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
“Kalau ingin kaya, berdaganglah dengan Allah,” pesan Ust. Sholihin kepada jamaah.
Melalui pesan tersebut, jamaah diajak memandang harta bukan semata-mata sebagai sesuatu yang dikumpulkan, melainkan amanah yang dapat diubah menjadi investasi akhirat melalui berbagai amal kebajikan.
Ia juga menegaskan bahwa membangun generasi tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci dalam membentuk karakter dan kebiasaan baik anak.
Karena itu, Program Infak Pembebasan Rumah Tahfidz menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama. Jamaah diajak berinfak sesuai kemampuan dengan nominal mulai Rp10.000. Nilai tersebut mungkin sederhana, tetapi jika dilakukan secara bersama-sama dan dikelola untuk kemaslahatan umat, akan menjadi kekuatan besar bagi pengembangan pendidikan Al-Qur’an.
Di akhir kajian, Ust. Sholihin mengingatkan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia menyinggung istilah “Jarkoni”, yakni iso ujar ora iso nglakoni—pandai berbicara, tetapi tidak mampu mengamalkan.
Sebaliknya, ia mengajak jamaah menjadi pribadi yang iso ujar, iso nglakoni—mampu menyampaikan sekaligus mengamalkan ilmu yang dimiliki.
Pesan tersebut menjadi cerminan gerakan Muhammadiyah berkemajuan yang tidak hanya menghadirkan gagasan, tetapi juga aksi nyata melalui penguatan pendidikan, pemakmuran masjid, pemberdayaan masyarakat, dan pembinaan generasi.
Dari Masjid Istiqomah, jamaah diajak merenungkan bahwa pertanyaan tentang kematian bukan sekadar kapan seseorang akan pergi, melainkan jejak kebaikan apa yang akan ditinggalkan.
Rumah Tahfidz menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan itu: ruang untuk menanam amal hari ini agar manfaatnya terus mengalir bagi generasi dan menjadi bekal menuju husnul khatimah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments