Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jatuh Boleh, Berhenti Jangan: Teruslah Berjalan Menuju Allah

Iklan Landscape Smamda
Jatuh Boleh, Berhenti Jangan: Teruslah Berjalan Menuju Allah
Foto: Pexels

Ada orang yang suatu hari tiba-tiba merasa ingin berubah. Bukan karena hidupnya sudah sempurna. Justru mungkin karena ia merasa terlalu lama berjalan jauh. Terlalu banyak kesalahan yang dilakukan.

Terlalu sering menunda salat. Terlalu mudah marah. Terlalu larut dalam kesibukan dunia. Atau terlalu lama menyimpan luka hingga lupa bahwa ada Allah yang selalu membuka pintu ampunan.

Suatu malam, ia duduk sendirian. Ponsel diletakkan. Rumah mulai sepi. Tidak ada siapa-siapa yang melihat ketika air matanya jatuh.

Dalam keheningan itu, muncul sebuah kesadaran sederhana: “Saya ingin kembali kepada Allah.”

Mungkin dari situlah hidayah mulai mengetuk pintu hati. Ketika hidayah itu datang, jangan buru-buru merasa sudah menjadi manusia yang baik.

Jangan pula merasa perjalanan sudah selesai. Hidayah adalah awal dari perjalanan panjang untuk mendekat kepada Allah. Teruslah berjalan.

Ketika mulai merasakan manisnya iman, teruslah mendekat kepada-Nya. Berusahalah untuk istiqamah meskipun langkah kita belum sempurna.

Sebab, perjalanan menuju Allah bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mau terus berjalan.

Allah menyukai hamba-Nya yang terus bertaubat. Allah menyukai hamba yang berusaha mendekat kepada-Nya. Allah menyukai orang yang perlahan-lahan meninggalkan hal-hal yang dibenci-Nya.

Karena itu, jangan malu jika hari ini kita masih sering jatuh.

Yang perlu dikhawatirkan bukanlah ketika kita jatuh, melainkan ketika kita jatuh lalu memilih untuk tidak bangkit lagi.

Bayangkan seseorang yang sedang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali. Lututnya mungkin terluka. Tubuhnya lelah. Tetapi ia tidak mengatakan, “Karena saya pernah jatuh, maka saya tidak akan berjalan lagi.”

Ia bangkit. Begitu pula perjalanan spiritual manusia. Ada hari ketika kita begitu bersemangat beribadah. Salat terasa nikmat. Membaca Al-Qur’an terasa menenangkan. Zikir terasa menguatkan. Kita ingin memperbaiki semuanya sekaligus.

Namun, beberapa waktu kemudian, semangat itu menurun. Salat mulai terburu-buru. Al-Qur’an kembali jarang dibaca. Doa terasa hambar. Kesibukan dunia perlahan mengambil ruang yang sebelumnya kita berikan kepada Allah.

Pada titik seperti itu, jangan menyerah. Kembalilah. Mungkin kita tidak bisa langsung melakukan banyak hal. Tidak apa-apa. Mulailah lagi dari yang paling sederhana. Perbaiki salat. Perbanyak istigfar.

Baca Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat. Bersedekah meskipun sedikit. Minta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Tinggalkan satu kebiasaan buruk yang selama ini sulit dilepaskan.

Sedikit demi sedikit. Sebab, perjalanan menuju Allah memang tidak selalu berupa langkah besar. Kadang-kadang ia hanya berupa keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Jangan pernah meremehkan langkah kecil yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Jalan hijrah adalah jalan menuju kebaikan dan, dengan rahmat Allah, menuju surga-Nya. Namun, jalan itu tidak selalu mudah.

Ada ujian. Ada godaan. Ada cibiran. Ada rasa bosan. Ada kegagalan. Bahkan ada saat ketika kita merasa ingin kembali kepada kehidupan lama.

Seseorang yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, misalnya, bisa saja suatu ketika kembali tergoda. Orang yang dahulu gemar menghabiskan malam dengan hal-hal yang tidak bermanfaat mungkin kembali melakukannya. Orang yang sudah berusaha menjaga lisannya bisa kembali terpancing marah.

Itu manusiawi. Namun, jangan jadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk kembali sepenuhnya ke masa lalu. Jatuh sekali bukan berarti seluruh perjalanan menjadi sia-sia.

Allah mengingatkan: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS Al-‘Ankabut: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan. Ada perjalanan yang harus ditempuh. Ada ujian yang harus dihadapi. Ada keteguhan yang harus dibuktikan.

Karena itu, jangan merasa aneh ketika setelah memutuskan untuk berubah justru datang berbagai ujian.

SMPM 5 Pucang SBY

Bisa jadi, setelah mulai rajin beribadah, kita diuji dengan kesibukan. Setelah mulai menjaga diri dari maksiat, kita diuji dengan lingkungan. Setelah mulai belajar ikhlas, kita diuji dengan kekecewaan. Setelah mulai memperbaiki diri, kita diuji dengan masa lalu.

Semua itu tidak selalu berarti Allah menjauhkan kita. Bisa jadi justru Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih kuat.

Yang paling penting adalah menata hati. Sebab, hijrah bukan hanya soal pakaian. Bukan sekadar mengubah penampilan. Bukan hanya mengubah unggahan di media sosial. Bukan pula sekadar mengganti lingkungan pergaulan.

Hijrah yang sesungguhnya juga menyangkut perubahan hati. Dari sombong menjadi rendah hati. Dari mudah menghakimi menjadi gemar memahami. Dari suka menyakiti menjadi belajar menjaga perasaan. Dari mengejar pujian manusia menjadi berusaha mencari rida Allah.

Ada orang yang penampilannya berubah, tetapi lisannya masih gemar menyakiti. Ada yang rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi masih sulit memaafkan. Ada yang tampak begitu religius di hadapan banyak orang, tetapi hatinya masih dipenuhi iri dan kesombongan.

Karena itu, perubahan lahir perlu disertai perubahan batin. Sebab, perjalanan menuju Allah pada akhirnya adalah perjalanan menata hati.

Hati manusia memang mudah berubah. Hari ini kuat, besok lemah. Hari ini menangis dalam doa, besok mungkin kembali lalai. Hari ini berjanji meninggalkan dosa, suatu ketika bisa saja tergelincir lagi. Tetapi selama hati masih ingin kembali kepada Allah, jangan berhenti.

Ada orang yang merasa tidak pantas berdoa karena terlalu banyak dosa. Ada yang malu kembali ke masjid setelah sekian lama meninggalkan salat. Ada yang merasa dirinya terlalu kotor untuk memohon ampun. Padahal, justru ketika merasa jauh, saat itulah kita perlu mendekat.

Jangan menunggu menjadi baik untuk kembali kepada Allah. Kembalilah kepada Allah agar kita diberi kekuatan untuk menjadi lebih baik.

Perjalanan itu mungkin panjang. Kadang kita berlari. Kadang berjalan. Kadang tertatih. Kadang bahkan hanya mampu duduk sambil mengumpulkan tenaga. Tidak mengapa. Yang penting jangan memilih arah sebaliknya.

Ada ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Imam Syafi’i: “Jika kamu ada di jalan yang benar menuju Allah, berlarilah. Jika itu berat untukmu, berlari-lari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jika kamu tidak bisa, merangkaklah, tetapi jangan pernah berhenti atau berbalik arah.”

Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan kita. Sebab, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama dalam menjalani perjalanan spiritual. Ada yang sejak muda sudah dekat dengan masjid. Ada yang baru menemukan jalan pulang ketika usianya tidak lagi muda.

Ada yang tumbuh dalam keluarga religius. Ada pula yang harus mencari jalan sendiri setelah melewati begitu banyak kesalahan. Ada yang bisa menangis dalam doa. Ada yang bahkan belum mampu merasakan kekhusyukan. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali.

Jangan membandingkan perjalanan iman kita dengan perjalanan orang lain. Yang penting adalah hari ini kita sedikit lebih baik daripada kemarin.

Jika kemarin kita jarang salat, hari ini jangan tinggalkan salat. Jika kemarin kita mudah marah, hari ini belajarlah menahan diri. Jika kemarin kita gemar membicarakan keburukan orang lain, hari ini cobalah menjaga lisan.

Jika kemarin kita jauh dari Al-Qur’an, hari ini bukalah kembali meskipun hanya beberapa ayat. Jika kemarin kita pernah melakukan kesalahan, hari ini jangan lelah meminta ampun. Dan jika besok kita kembali jatuh, bangkitlah lagi.

Jangan lelah berjalan menuju Allah. Tidak harus selalu berlari. Tidak harus selalu kuat. Tidak harus selalu sempurna. Kadang kita hanya perlu satu langkah kecil untuk kembali.

Satu istigfar. Satu salat yang dijaga. Satu dosa yang ditinggalkan. Satu air mata dalam doa. Satu keputusan untuk tidak mengulangi kesalahan.

Barangkali bagi manusia itu terlihat kecil. Tetapi bisa jadi, di sisi Allah, langkah kecil itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup kita.

Maka, teruslah berjalan. Jika mampu berlari, berlarilah. Jika lelah, berjalanlah. Jika tidak sanggup berjalan, merangkaklah.

Tetapi jangan berhenti. Dan yang paling penting, jangan pernah berbalik arah. Sebab, sejauh apa pun kita pernah berjalan meninggalkan Allah, pintu untuk kembali kepada-Nya selalu terbuka.

Jangan pernah lelah pulang kepada Allah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 03/08/2026 08:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu