Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Polandia, Dosen UMM Bawa Pulang Cerita tentang AI dan Masa Depan Digitalisasi Kampus

Iklan Landscape Smamda
Dari Polandia, Dosen UMM Bawa Pulang Cerita tentang AI dan Masa Depan Digitalisasi Kampus
Adjar Yusrandi Akbar (dua dari kiri) di Lublin University of Technology, Polandia. Foto: Istimewa

Masa depan digitalisasi kampus tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan manusia untuk menggunakannya. Hal itu dirasakan Adjar Yusrandi Akbar, S.Pd., M.Sc., dosen sekaligus Kepala Urusan Pengelolaan Data dan Informasi Sumber Daya Manusia (SDM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setelah mengikuti Erasmus+ International Credit Mobility (ICM) KA171 Project Training Mobility di Lublin University of Technology, Polandia, pertengahan Juni 2026.

Bagi Adjar, perjalanan ke Polandia bukan sekadar kesempatan menginjakkan kaki di Eropa. Ia datang membawa rasa ingin tahu tentang bagaimana perguruan tinggi di negara lain memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sistem informasi, dan teknologi digital untuk membangun tata kelola kampus yang lebih adaptif.

Ia juga pulang dengan satu kesadaran: tidak semua teknologi harus langsung dibawa ke kampus. Tetapi cara berpikir, budaya belajar, kolaborasi, dan keberanian berinovasi bisa dimulai dari mana saja.

Kesempatan tersebut tidak datang begitu saja. Adjar harus melewati proses seleksi yang cukup ketat. Ia mengirimkan motivation letter, rekam jejak pekerjaan, hingga sertifikasi kemampuan bahasa Inggris.

Dari sekitar 20 pendaftar, Adjar menjadi satu-satunya peserta dari UMM yang terpilih mengikuti program tersebut.

Erasmus+ sendiri merupakan program pendanaan Uni Eropa yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi internasional melalui berbagai skema mobilitas, mulai dari student mobility, teaching mobility, hingga training mobility.

Adjar mengikuti skema terakhir. Program ini memberi kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk belajar langsung mengenai praktik pengelolaan sistem informasi, infrastruktur digital, hingga perkembangan teknologi yang diterapkan dalam lingkungan perguruan tinggi di Eropa.

“Program Erasmus memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar langsung dari praktik yang diterapkan di perguruan tinggi luar negeri. Selain mengikuti pelatihan, kami juga membangun jejaring, bertukar pengalaman, dan melihat berbagai inovasi yang bisa menjadi inspirasi untuk dikembangkan di UMM,” ujar Adjar.

Di Lublin University of Technology, pengalaman belajar tidak berhenti pada ruang pelatihan. Adjar berjumpa dengan peserta dari berbagai negara. Ada delegasi dari Prancis, Italia, Portugal, Jepang, Turki, Slovenia, hingga Maroko.

Pertemuan lintas negara itu menjadi ruang belajar tersendiri. Masing-masing peserta membawa pengalaman dan perspektif berbeda mengenai perkembangan teknologi di negara asalnya.

Di sana pula Adjar mendapat paparan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam berbagai bidang. Mulai dari riset, industri, robotika, hingga optimalisasi sistem informasi perguruan tinggi.

Teknologi tidak lagi ditempatkan sebatas alat bantu. Ia telah menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, melakukan riset, dan mengambil keputusan.

Dari Polandia, Dosen UMM Bawa Pulang Cerita tentang AI dan Masa Depan Digitalisasi Kampus
Foto: Istimewa

Tidak Semua Harus Dibawa Pulang

Ada satu hal yang menarik dari pengalaman Adjar. Ia tidak melihat teknologi di Eropa sebagai sesuatu yang harus ditiru mentah-mentah.

Menurutnya, setiap perguruan tinggi memiliki konteks, kebutuhan, dan sumber daya yang berbeda. Karena itu, teknologi yang berjalan baik di satu negara belum tentu dapat langsung diterapkan di Indonesia.

“Kami memang belum bisa menerapkan seluruh teknologi yang mereka miliki karena konteks dan sumber daya yang berbeda. Namun, budaya belajar, kolaborasi di laboratorium, literasi digital, serta semangat berinovasi merupakan hal yang sangat mungkin diadaptasi di UMM,” jelasnya.

Justru pada titik inilah pengalaman Erasmus+ menjadi penting.

Adjar tidak hanya melihat perangkat atau sistem digital yang digunakan perguruan tinggi di Polandia. Ia juga mengamati bagaimana sebuah ekosistem dibangun.

Bagaimana orang terbiasa belajar hal baru. Bagaimana kolaborasi menjadi bagian dari budaya akademik. Bagaimana laboratorium menjadi ruang bertemunya gagasan dan teknologi. Serta bagaimana literasi digital menjadi kebutuhan yang terus berkembang.

Hal-hal semacam itu, menurut Adjar, lebih penting untuk dibawa pulang.

Sebab digitalisasi kampus bukan semata-mata persoalan membeli perangkat lunak terbaru atau membangun sistem informasi yang canggih. Di balik teknologi, ada manusia yang harus siap menggunakannya, mengembangkannya, dan terus belajar mengikutinya.

Pulang dengan Misi Digitalisasi UMM

Pengalaman di Polandia kemudian menemukan relevansinya dengan pekerjaan Adjar di UMM.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebagai Kepala Urusan Pengelolaan Data dan Informasi SDM, ia bersentuhan langsung dengan kebutuhan pengelolaan data dan sistem informasi. Karena itu, perkembangan teknologi yang ia pelajari selama Erasmus+ memiliki hubungan erat dengan upaya mempercepat digitalisasi tata kelola kampus.

Bagi Adjar, transformasi digital harus diarahkan untuk membuat pengelolaan perguruan tinggi menjadi semakin efektif, terintegrasi, dan mampu merespons kebutuhan zaman.

Di titik tersebut, AI menjadi salah satu teknologi yang tidak bisa lagi diabaikan.

Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari transformasi. Yang tidak kalah penting adalah kesiapan sumber daya manusia.

Internasionalisasi perguruan tinggi, menurut Adjar, juga tidak boleh dipahami hanya sebagai aktivitas mengirim mahasiswa, dosen, atau tenaga kependidikan ke luar negeri.

Lebih dari itu, internasionalisasi adalah proses membangun cara pandang global.

“Kita perlu melihat internasionalisasi bukan sekadar mengirim sivitas akademika ke luar negeri, tetapi juga membangun perspektif global yang terbuka terhadap perkembangan dunia,” katanya.

UMM, menurut Adjar, memiliki modal besar untuk terus memperkuat posisi di tingkat internasional. Modal itu perlu diikuti dengan kesiapan individu dan institusi untuk terus belajar.

“UMM memiliki modal yang besar untuk bersaing di tingkat internasional. Yang perlu dilakukan adalah terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun mental yang siap belajar, dan berani mengambil kesempatan ketika peluang itu datang,” tegasnya.

Dari Polandia, Adjar membawa pulang pesan yang sederhana, tetapi penting: kesempatan global akan lebih mudah diraih ketika seseorang memiliki kesiapan.

Kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu pintu masuk. Tetapi kemampuan itu perlu disertai kemauan untuk berinteraksi, membangun jejaring, berkolaborasi, dan belajar dari pengalaman orang lain.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan untuk tidak ragu membuka diri terhadap pengalaman internasional.

Dunia pendidikan tinggi bergerak semakin terbuka. Batas geografis semakin mudah ditembus oleh teknologi dan kolaborasi. Kampus tidak lagi hanya bersaing dengan perguruan tinggi di kota atau negara sendiri, tetapi juga dituntut mampu membaca perkembangan global.

Pengalaman Erasmus+ di Polandia membuat Adjar melihat hal tersebut dari jarak yang lebih dekat.

Ia melihat teknologi yang berkembang, bertemu orang-orang dari berbagai negara, berdiskusi tentang perguruan tinggi, sekaligus belajar bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat.

Ada budaya belajar yang harus dirawat. Ada kolaborasi yang harus dibangun. Ada literasi digital yang harus terus ditingkatkan. Dan ada keberanian untuk mencoba.

Pada akhirnya, perjalanan ke Polandia bukan sekadar perjalanan Adjar sebagai individu.

Ia menjadi bagian dari ikhtiar membawa perspektif baru ke UMM—tentang bagaimana kecerdasan buatan dan transformasi digital dapat mendukung tata kelola kampus, sekaligus bagaimana sebuah perguruan tinggi harus terus membuka diri terhadap dunia.

“Pengalaman internasional bukan hanya untuk pengembangan karier individu, melainkan investasi penting untuk terus membawa nama institusi semakin unggul di kancah global,” pungkasnya.

Dari Lublin, Polandia, Adjar membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman. Ia membawa gagasan: digitalisasi kampus bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kesiapan manusia untuk terus belajar menghadapi masa depan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 03/08/2026 14:47
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu