Hari keempat lempar jumrah sekaligus hari terakhir mabit di Mina menjadi penutup yang indah bagi jamaah KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, strategi keberangkatan kali ini disusun lebih matang agar seluruh jamaah dapat kembali ke markaz tepat waktu sebelum diberangkatkan menuju Makkah.
Informasi dari syarikah menyebutkan bahwa seluruh jamaah harus sudah siap dijemput pada pukul 10.00 waktu Arab Saudi. Artinya, paling lambat pukul 08.00 seluruh jamaah sudah harus kembali ke tenda di Mina.
Setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, pimpinan rombongan memutuskan keberangkatan menuju Jamarat dilakukan pukul 03.00 dini hari.
Keputusan itu disambut jamaah dengan penuh kesiapan. Sebagian besar memilih beristirahat lebih awal agar memiliki tenaga yang cukup untuk perjalanan terakhir menuju Jamarat.
Menjelang pukul 02.00 dini hari, suasana tenda mulai hidup.
Ada yang mandi.
Ada yang berwudhu.
Ada yang menyiapkan bekal.
Ada pula yang menikmati secangkir kopi hangat sebelum memulai perjalanan.
Tepat pukul 02.30, jamaah telah berkumpul di depan gerbang markaz. Barisan dirapikan. Perlengkapan diperiksa kembali. Bendera rombongan disiapkan di posisi terdepan.
Meski langit masih gelap, semangat jamaah tetap menyala.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 03.00, gerbang dibuka dan rombongan mulai bergerak menuju Jamarat.
Keluar dari markaz, jamaah berjalan ke arah kanan lalu berbelok kiri di ujung jalan. Jalur yang dipilih kali ini berbeda dengan rute pada hari sebelumnya.
Rombongan tidak lagi menggunakan jalur yang banyak memutar. Sebaliknya, dipilih rute yang lebih langsung menuju kawasan Jamarat.
Sesampainya di area flyover, jamaah tidak naik ke atas jembatan. Mereka hanya menyusuri sisi kanan jalan, kemudian berbelok kiri di dekat mulut flyover dan memutar arah untuk masuk ke jalur utama menuju Jamarat.
Suasana jalan masih relatif lengang. Hanya sedikit jamaah yang memilih berangkat pada waktu dini hari.
Di atas langit Mina, bulan tampak menggantung terang.
Bentuknya hampir bulat sempurna.
Maklum, saat itu sudah memasuki 13 Dzulhijjah, hari terakhir Tasyrik.
Bulan seakan menjadi teman perjalanan yang setia menemani langkah para jamaah menuju Jamarat.
Begitu memasuki terowongan Mina, suasana terasa nyaman.
Lampu penerangan menyala terang sepanjang lorong. Kipas-kipas raksasa yang terpasang di langit-langit terus berputar, mengalirkan udara sejuk meski ribuan orang masih berlalu-lalang.
Setelah keluar dari terowongan kedua, kompleks Jamarat tampak jelas di depan mata.
Lampu-lampu sorot membuat kawasan itu terang benderang seperti siang hari.
Masih ada jamaah yang beraktivitas, tetapi sebagian besar hanya beristirahat atau menunggu waktu pagi.
Area lempar jumrah sendiri relatif lengang.
Jamaah KBIHU Jabal Nur dapat langsung menuju Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah tanpa harus berdesakan.
Tidak ada antrean panjang.
Tidak ada dorong-dorongan.
Tidak ada ketegangan seperti hari-hari sebelumnya.
Semua terasa lebih mudah.
Semua berjalan lancar.
Penulis bahkan masih memiliki ruang yang cukup untuk mengambil foto jamaah yang sedang melaksanakan lontar jumrah.
Satu per satu tujuh kerikil dilemparkan sambil mengucapkan:
“Bismillahi Allahu Akbar.”
Setelah selesai, para jamaah menengadahkan tangan, memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan agar seluruh rangkaian ibadah hajinya diterima Allah SWT.
Di tengah kesibukan mengabadikan momen para jamaah, penulis tidak menyadari bahwa waktu Subuh telah tiba.
Di salah satu sudut dekat Jumrah Aqabah, jamaah dari berbagai negara mulai menggelar salat Subuh berjamaah.
Penulis segera mencari tempat untuk bergabung.
Awalnya sempat berpikir untuk berwudhu menggunakan air minum kemasan yang dibawa. Namun karena waktu sangat terbatas, pilihan akhirnya jatuh pada tayamum.
Tangan ditepukkan pada tas paspor yang berdebu.
Kemudian mengusap wajah.
Menepukkan tangan kembali.
Lalu mengusap kedua tangan.
Selesai.
Praktis dan cepat.
Penulis pun segera bergabung dalam saf salat berjamaah.
Sayangnya, satu rakaat sudah terlewat.
Meski demikian, ada rasa syukur karena masih dapat mengikuti salat Subuh berjamaah di kawasan Jamarat pada hari terakhir pelaksanaan lempar jumrah.
Usai salat Subuh, rombongan kembali berkumpul dan memulai perjalanan pulang menuju Mina.
Langkah kaki terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat.
Ada rasa lega yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Empat hari berturut-turut berjalan puluhan kilometer, menembus lautan manusia, menghadapi panas Mina, dan menyelesaikan seluruh rangkaian lempar jumrah akhirnya berhasil dituntaskan.
Kini hanya tersisa satu rangkaian utama yang menanti setelah kembali ke Makkah, yakni Tawaf Ifadah sebagai penyempurna ibadah haji.
Perjalanan pulang berlangsung santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Tidak ada yang tergesa-gesa.
Ketika rombongan mencapai ujung terowongan, cahaya pagi mulai menyinari langit Mina.
Fajar telah datang.
Namun kali ini para jamaah menikmati setiap langkah dengan perasaan yang berbeda.
Perasaan lega.
Perasaan syukur.
Perasaan bahagia karena salah satu tahapan terberat dalam ibadah haji telah berhasil dilalui.
Di tengah perjalanan pulang, sebagian jamaah menyempatkan diri mampir ke salah satu gerai Bin Dawood.
Kentang goreng hangat dan sambosa menjadi pilihan favorit untuk mengganjal perut setelah berjalan kaki sejak dini hari.
Harganya pun cukup bersahabat, sekitar 20 riyal untuk satu paket.
Lumayan untuk merayakan selesainya tugas besar di Mina.
Karena pagi itu, bukan hanya perut yang terasa kenyang.
Tetapi juga hati yang penuh rasa syukur.





0 Tanggapan
Empty Comments