Hari ketiga pelaksanaan lempar jumrah pada 12 Dzulhijjah 1447 H menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi jamaah KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo. Jika pada dua hari sebelumnya mereka harus berjuang menembus padatnya arus jamaah di kawasan Jamarat, kali ini suasana justru terasa jauh lebih lengang.
Sejak pagi, seluruh jamaah telah mempersiapkan diri dengan lebih baik. Pengalaman pada hari-hari sebelumnya menjadi bekal penting untuk mengatur pergerakan rombongan agar tetap tertib dan aman.
Jamaah lansia serta ibu-ibu ditempatkan di bagian depan agar lebih mudah dipantau. Sementara jamaah laki-laki berada di bagian belakang. Bendera KBIHU Jabal Nur dikibarkan di posisi terdepan sebagai penanda rombongan agar tidak terpecah di tengah jutaan jamaah yang berada di Mina.
Arahan diberikan sejak pagi. Barisan dirapatkan. Semangat terus dibangun. Namun keberangkatan menuju Jamarat baru diizinkan sekitar pukul 09.00 waktu Arab Saudi.
Kesabaran kembali menjadi bagian penting dalam perjalanan ibadah tersebut.
Sekitar pukul 08.30 waktu setempat, seluruh jamaah telah berkumpul dan berbaris di depan gerbang markaz. Meski raut kelelahan masih terlihat, semangat mereka tetap terjaga setelah melewati rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina selama beberapa hari terakhir.
Saat gerbang dibuka, rombongan mulai bergerak menuju Jamarat. Jalur yang ditempuh kali ini berbeda dari biasanya. Setelah keluar dari markaz, rombongan beberapa kali berbelok mengikuti rute yang tidak lazim digunakan.
Awalnya, jalur tersebut menimbulkan tanda tanya. Namun setelah perjalanan berlanjut, tujuan strategi itu mulai terlihat. Rombongan diarahkan mencari titik putar balik agar dapat memasuki jalur menuju Jamarat tanpa harus berpapasan dengan arus jamaah yang telah selesai melaksanakan lontar jumrah.
Strategi sederhana tersebut terbukti efektif dan membuat perjalanan lebih lancar.
Suasana berbeda mulai terasa ketika rombongan memasuki terowongan Mina. Jika biasanya tiga jalur pejalan kaki dipenuhi jamaah dari berbagai negara, kali ini kondisinya jauh lebih longgar.
Sebagian jalur bahkan terlihat kosong, sementara beberapa area ditutup oleh petugas. Eskalator yang biasanya digunakan untuk membantu pergerakan jamaah juga tampak tidak difungsikan.
Rombongan terus berjalan tertib hingga keluar dari terowongan dan mendekati kompleks Jamarat. Di titik inilah perbedaan paling mencolok terlihat.
Kawasan yang biasanya dipadati jamaah kini terasa lebih lapang. Jamaah dapat memilih posisi untuk melempar jumrah tanpa harus berdesakan atau mengantre panjang.
Tidak ada dorongan dari belakang.
Tidak ada kepadatan yang menguras tenaga.
Kelompok-kelompok kecil jamaah bergantian melaksanakan lontar jumrah dengan tertib.
Dalam suasana yang lebih nyaman tersebut, jamaah KBIHU Jabal Nur berhasil menyelesaikan lontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah dengan lancar.
Rasa penasaran mengenai kondisi Jamarat yang lebih lengang akhirnya terjawab. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya jamaah yang memilih nafar awal.
Sebagian besar kelompok haji telah menyelesaikan rangkaian lempar jumrah lebih cepat. Setelah melaksanakan lontar jumrah dan menunggu pergantian hari hijriah, mereka kembali melempar jumrah untuk hari berikutnya sebelum meninggalkan Mina menuju Makkah.
Dengan berkurangnya jumlah jamaah yang bertahan di Mina, kepadatan di kawasan Jamarat pun menurun secara signifikan.
Meski demikian, jamaah KBIHU Jabal Nur sejak awal memilih menjalani nafar tsani. Pilihan tersebut membuat mereka tetap melanjutkan mabit di Mina hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.
Artinya, masih ada satu hari lagi pelaksanaan lempar jumrah yang harus dijalani sebelum kembali ke Makkah.
Sebelum kembali ke tenda, jamaah menyempatkan diri mengabadikan momen kebersamaan di depan kompleks Jamarat.
Barisan disusun rapi dengan latar belakang bangunan Jamarat. Beberapa kali kamera diangkat untuk mengambil gambar rombongan yang tampak bahagia setelah menyelesaikan rangkaian ibadah hari itu.
Senyum terpancar dari wajah para jamaah yang berhasil menjalani lontar jumrah dengan lebih nyaman dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Semua terekam dalam foto.
Semua hadir dalam bingkai.
Kecuali satu orang.
Sang fotografer yang sibuk mengatur posisi dan mengabadikan momen itu justru tidak ikut masuk ke dalam foto. Namun bagi dirinya, kenangan perjalanan spiritual bersama jamaah KBIHU Jabal Nur tetap tersimpan, meski tanpa wajah sendiri dalam bingkai yang dihasilkan.





0 Tanggapan
Empty Comments