Malam Melekan atau Saharul Layal dalam Gelar Budaya dan Melekan IKPI Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan menjadi lebih unik dan antik.
Tak hanya musik tradisional jidor, ada juga toples antik berisi makanan klasik yang menjadi perhatian.
Pemandangan itu terjadi di Tribun Barat Lapangan Basket depan kantor MA Al-Ishlah, Kamis (24/9/2026) malam.
Di atas karpet hijau tempat para kiai dan tamu agung duduk lesehan, berjajar empat toples kaca besar yang kini sudah langka.
Seperti terlihat dalam foto, toples-toples itu dihias kertas layangan warna-warni hijau dan kuning, mirip suasana riyayan tempo dulu.
Di dalamnya berisi jajanan-jajanan jadul yang kini jarang ditemui anak zaman now.
Ikhwanus Syarif membawa toples besar terbuat dari kaca, wadah jajanan kering khas lebaran yang pernah tenar di era 1980an. Kini barang itu menjadi antik dan jarang ada, tergantikan model plastik yang lebih baru.
Abdul Kholiq Imron menyumbangkan makanan jadul untuk isi toples tersebut berupa jagung dan kacang digoreng pasir, makanan ringan anti kolesterol nan sehat itu disuguhkan untuk tamu agung, Pengasuh Ponpes Al-Ishlah, Kades dan dewan guru di lingkungan Ponpes Al-Ishlah.
Sementara Sriwelas mengisi jajanan kering tempo dulu yang kini tak diendus oleh anak zaman now; rengginang, kemplang, gadung, kerupuk puli, sateler dan mandala.
Selain itu, ada juga polo pendem yang didatangkan dari Karangwungulor Laren. Vivid Rohmaniyah menyumbangkan tales, singkong, kacang tanah, waluh kuning, dan jagung.
Sriwelas, selaku panitia konsumsi pun mempercantik toples antik dengan kertas layangan warna-warni. Membuat suasana melekan terasa seperti lebaran di masa kecil.
“Gelar Budaya adalah melestarikan tradisi yang pernah ada dan sekarang jadi lebih menarik” jelas Sriwelas.
Perpaduan irama jidor, suasana melekan, dan toples antik berisi jajanan kampung ini menjadi bukti bahwa perayaan 40 tahun Al-Ishlah bukan hanya menjaga musik tradisi, tapi juga menjaga rasa dan memori kuliner kampung yang hampir punah.





0 Tanggapan
Empty Comments