Salat adalah sebaik-baik amalan setelah dua kalimat syahadat. Salat bukan sekadar rutinitas harian, bukan pula hanya gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Salat adalah penentu arah hidup seorang hamba. Dari salat, seseorang belajar disiplin, ketundukan, keikhlasan, dan kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Salat jelek bisa merusak semua amal ibadah.
Ada hadis muttafaqun ‘alaih sebagai berikut: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, amalan apakah yang paling afdhal?”
Beliau menjawab: “Salat pada waktunya.”
Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”
Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.”
Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?”
Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85)
Betapa agung kedudukan salat. Bahkan sebelum berbicara tentang jihad dan amal besar lainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terlebih dahulu menyebut salat tepat waktu.
Coba kita renungkan kehidupan sehari-hari. Banyak orang begitu disiplin menjaga urusan dunia. Alarm dipasang agar tidak terlambat bekerja.
Jadwal rapat dicatat rapi. Janji dengan atasan dijaga sepenuh hati. Ketika ada penerbangan pukul lima pagi, seseorang rela bangun pukul dua dini hari agar tidak tertinggal pesawat.
Namun ironisnya, sebagian orang justru mudah menunda salat. Azan berkumandang, tetapi masih sibuk dengan telepon genggam.
Waktu salat berlalu karena asyik menonton video, bermain gim, atau mengobrol tanpa manfaat. Seakan urusan dunia jauh lebih penting daripada panggilan Allah Azza wa Jalla.
Padahal, shalat lima waktu adalah sarana Allah membersihkan dosa-dosa kita.
Rasulullah ahallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?”
Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.”
Beliau bersabda: “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Bayangkan seseorang yang setiap hari bekerja di tempat penuh debu dan lumpur. Tubuhnya kotor, bajunya penuh noda, wajahnya kusam karena panas dan peluh. Lalu ia mandi lima kali sehari dengan air yang bersih dan segar. Tentu tubuhnya akan kembali bersih.
Begitulah manusia dengan dosa-dosanya. Setiap hari mata melihat yang haram, lisan kadang menyakiti orang lain, hati dipenuhi iri dan prasangka, telinga mendengar hal yang sia-sia.
Tanpa disadari, dosa kecil terus menumpuk. Maka Allah memberikan hadiah besar berupa shalat lima waktu untuk membersihkan jiwa kita berulang-ulang setiap hari.
Salat juga merupakan cahaya di dunia dan akhirat. Rasulullah ahallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari Kiamat.”
“Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan.”
“Pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad 2:169, dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Lihatlah kehidupan orang-orang yang menjaga salat dengan baik. Meski hidup sederhana, hati mereka sering kali lebih tenang.
Ketika menghadapi masalah, mereka tidak mudah putus asa. Saat diuji kesulitan ekonomi, mereka tetap memiliki harapan kepada Allah. Salat menjadi tempat bersandar dan tempat mengadu.
Sebaliknya, ada orang yang hidup bergelimang harta tetapi hatinya gelisah. Rumah mewah tidak membuatnya tenang. Kendaraan mahal tidak menghilangkan kecemasan.
Jabatan tinggi tidak menjamin ketenteraman. Salah satu sebabnya karena hubungan dengan Allah mulai renggang. Salat hanya menjadi formalitas, bahkan kadang ditinggalkan.
Tentu kita tidak ingin pahala puasa, haji, sedekah, dan amal ibadah lainnya menjadi ringan timbangannya atau bahkan sia-sia hanya karena salat kita buruk.
Mengapa? Karena semua amal ibadah sangat bergantung pada kualitas salat kita.
Dalam hadis disebutkan: “Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1358)
Betapa banyak orang bersungguh-sungguh mengejar amal besar. Ada yang rajin bersedekah, aktif dalam kegiatan sosial, bahkan berangkat haji dan umrah berkali-kali. Semua itu tentu mulia. Namun jangan sampai fondasi utamanya justru rapuh.
Ibarat seseorang membangun rumah yang megah dengan dinding marmer dan atap mahal, tetapi pondasinya retak. Lambat laun rumah itu akan roboh. Begitu pula amal ibadah tanpa salat yang baik.
Ada pula orang yang terlihat sangat sibuk bekerja dari pagi hingga malam. Ketika ditanya mengapa jarang salat berjamaah, jawabannya karena mencari nafkah untuk keluarga.
Padahal keberkahan rezeki justru datang dari ketaatan kepada Allah. Tidak sedikit orang yang penghasilannya sederhana tetapi hidupnya penuh keberkahan karena menjaga salat.
Sebaliknya, ada yang hartanya melimpah tetapi keluarganya dipenuhi pertengkaran, anak-anak sulit diatur, hati tidak tenang, dan hidup terasa sempit. Sebab keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya uang, tetapi dari kedekatan kepada Allah.
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika baik shalatnya, maka beruntung dan selamat. Jika tidak, maka kebalikannya yaitu rugi dan rugi.” (Syarah Riyadhush Shalihin 5/103)
Karena itu, jangan pernah meremehkan kualitas salat. Jangan terburu-buru. Jangan hanya menggugurkan kewajiban. Hadirkan hati ketika berdiri di hadapan Allah. Resapi bacaan demi bacaan. Sadari bahwa setiap sujud adalah momen seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya.
Salah satu cara memperbaiki kualitas salat adalah dengan memperbanyak shalat sunnah. Shalat sunnah menjadi penambal kekurangan shalat wajib kita.
Betapa banyak shalat wajib yang kurang khusyuk. Pikiran melayang ke pekerjaan, bisnis, tugas kantor, atau masalah rumah tangga. Kadang tubuh berada di masjid, tetapi hati sibuk memikirkan dunia.
Karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan shalat-shalat sunnah agar kekurangan tersebut dapat disempurnakan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang lalai atau kurang dalam menunaikan ibadah wajib, hendaknya ia bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah sunah.” (Jami’ul Masa-il 4/109)
Mulailah perlahan. Jaga qabliyah dan ba’diyah. Biasakan salat dhuha walau hanya dua rakaat. Bangun malam meski sebentar untuk tahajud. Sedikit tetapi istiqamah lebih baik daripada banyak namun terputus.
Sering kali perubahan besar dalam hidup justru dimulai dari perbaikan salat. Hati yang dulunya keras menjadi lembut.
Rumah tangga yang sering bertengkar mulai dipenuhi ketenangan. Anak-anak menjadi lebih mudah diarahkan. Rezeki terasa lebih berkah. Semua karena hubungan seorang hamba dengan Allah mulai diperbaiki. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments