Suasana Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai wilayah Indonesia. Nuansa merah putih juga hadir di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar. Memanfaatkan momentum tersebut, kegiatan Motivasi Islami yang rutin digelar setiap Kamis selepas salat Zuhur berjemaah pada Agustus ini mengangkat tema perjuangan para pahlawan nasional dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada Kamis (7/8/2026), kegiatan Motivasi Islami mengangkat tema “Kekuatan Jimat Panglima Jenderal Sudirman” yang disampaikan oleh drh. Sri Widodo, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar. Kegiatan berlangsung di Masjid Al-Istiqomah LPKA Kelas I Blitar dan diikuti sekitar 100 anak didik pemasyarakatan (Adikpas) serta karyawan LPKA Kelas I Blitar.
Salah seorang pegawai LPKA Blitar, Sugeng Budianto, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa kegiatan Motivasi Islami selepas salat Zuhur berjemaah yang disampaikan Sri Widodo dikemas melalui kisah-kisah yang dipadukan dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menurutnya, pendekatan tersebut lebih mudah diterima dan dipahami oleh Adikpas sehingga pesan keislaman yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Motivasi Islami ba’da salat Zuhur berjemaah yang disampaikan oleh Ketua LDK PDM Kota Blitar ini dikemas dengan menyampaikan kisah nyata dipadu dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih bisa diterima dan mudah dipahami oleh Adikpas sehingga akan mudah dilaksanakan. Tetapi bila menyampaikan apa adanya, misalnya tauhid dan ibadah, akan sulit diterima bahkan diabaikan oleh Adikpas,” ujarnya.
Setelah salat Zuhur berjemaah, Sri Widodo menyampaikan materi dengan mengawali kajian melalui QS Al-Baqarah ayat 153 yang mengajarkan pentingnya kesabaran dan salat sebagai sarana memohon pertolongan Allah.
“Allah memerintahkan kepada kita bila mempunyai masalah apa pun untuk memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, Sri Widodo mengisahkan keteladanan Jenderal Sudirman yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan Hizbul Wathan. Ia menjelaskan bahwa istilah “jimat” yang digunakan dalam kajian tersebut bukanlah benda keramat atau benda yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.
Menurut Sri Widodo, kekuatan yang dimaksud justru merupakan nilai-nilai keimanan dan keteguhan spiritual yang menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai keadaan.
“Jimat Jenderal Sudirman bukanlah berwujud keris atau benda keramat lain yang dianggap mempunyai kekuatan. Hal tersebut termasuk musyrik dan dilarang oleh agama Islam. Sebagai seorang tokoh Muhammadiyah yang memerangi TBC (takhayul, bidah, dan khurafat), Sang Jenderal yang juga tokoh Hizbul Wathan tidak akan menggunakan jimat semacam itu, tetapi mengandalkan kekuatan tauhid yang murni, yaitu menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah,” terangnya.
Dalam kisah yang disampaikan, Sri Widodo juga menceritakan bagaimana Jenderal Sudirman dan pasukannya menghadapi situasi sulit selama perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia menggambarkan ketenangan dan keteguhan mereka dalam menghadapi ancaman dengan memperbanyak zikir dan memohon pertolongan kepada Allah.
Tiga “Jimat” Jenderal Sudirman
Sri Widodo kemudian menjelaskan tiga hal yang disebutnya sebagai “jimat” Jenderal Sudirman, yakni menjaga wudu, salat pada awal waktu, serta mencintai masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih.
Pertama, selalu menjaga wudu. Menurut Sri Widodo, wudu merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Bersuci menjadi syarat sah salat dan dapat menjadi pembiasaan untuk menjaga kebersihan lahir dan batin.
Ia juga mengaitkannya dengan kisah Bilal bin Rabah yang dikenal memiliki kebiasaan menjaga wudu dan melaksanakan salat sunah setelah berwudu.
Kedua, salat pada awal waktu. Sri Widodo menjelaskan bahwa salat merupakan bentuk hubungan seorang hamba dengan Allah. Menjaga salat tepat waktu juga melatih kedisiplinan dan ketundukan kepada Allah.
Ia kembali mengingatkan pesan QS Al-Baqarah ayat 153 bahwa kesabaran dan salat merupakan sarana memohon pertolongan Allah ketika menghadapi persoalan.
Ketiga, mencintai masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih. Menurut Sri Widodo, kecintaan kepada sesama dapat diwujudkan melalui kepedulian dan kesediaan berbagi.
Dalam kisah perjuangan Jenderal Sudirman yang disampaikannya, semangat tersebut digambarkan melalui kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan selama masa gerilya.
Pada akhir kajian, Sri Widodo mengajak para Adikpas untuk menjadikan tiga nilai tersebut sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan. Menjaga wudu dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan hati, salat sebagai bentuk hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), sedangkan kepedulian kepada sesama menjadi wujud hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas).
“Kalau ketiga jimat tersebut bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaallah akan menjadi kekuatan untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat,” pesannya.
Melalui Motivasi Islami tersebut, para Adikpas tidak hanya mendapatkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga diajak mengambil nilai-nilai keteladanan dari kisah perjuangan. Kesabaran, kedisiplinan dalam beribadah, keteguhan tauhid, serta kepedulian kepada sesama menjadi pesan utama yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments