Bertahun-tahun mengikuti berbagai perlombaan tanpa sekalipun merasakan gelar juara tidak membuat Muhammad Alfian Sholihul Yusuf menyerah. Siswa kelas XII Arabic Tahfidz Class Program (ATCP) Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) Paciran itu justru terus mencoba. Dari lomba tingkat kota hingga nasional, dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya.
Hasilnya memang belum datang. Sampai akhirnya, kesempatan itu tiba di Muhammadiyah Education Award (MEA) 2026 di Malang, Sabtu (8/8/2026). Alfian berhasil meraih Silver Medal dalam ISMU Fil Arabiyah.
Bagi Alfian, medali perak itu bukan sekadar penghargaan. Ada perjalanan panjang dan kegagalan berulang yang mengantarnya sampai ke podium.
“Bertahun-tahun berjuang di berbagai perlombaan dari tingkat SD sampai saat ini, dari tingkat kota sampai nasional, belum pernah merasakan juara. Banyak doa yang saya panjatkan dan kerasnya perjuangan yang saya lakukan. Alhamdulillah, hari ini saya bisa merasakan juara,” ungkapnya.
Pengalaman kalah dalam berbagai kompetisi menjadi bagian dari perjalanan Alfian sejak sekolah dasar. Setiap kali mengikuti perlombaan, dia tentu berharap membawa pulang prestasi. Namun, kenyataan tidak selalu sesuai harapan.
Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru membuatnya belajar untuk kembali mencoba.
Bagi Alfian, usaha memang penting. Tetapi usaha manusia bukan satu-satunya penentu hasil. Ada doa dan kehendak Allah yang diyakininya menentukan kapan sebuah perjuangan berbuah.
Keyakinan itu salah satunya tumbuh dari pemahamannya terhadap Surah Ali Imran ayat 140. Ayat tersebut mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan dapat bergantian dalam kehidupan manusia.
Pemahaman itu membuat Alfian tidak melihat kegagalan sebagai akhir perjalanan.
“Saya termotivasi dari Surah Ali Imran ayat 140, bahwa kemenangan itu bukanlah mutlak dari usaha keras, tetapi juga atas kehendak Allah. Sehingga saya yakin pasti akan ada waktunya untuk bisa juara atas doa dan usaha yang saya lakukan,” tuturnya.
Medali Perak yang Punya Cerita
Karena itu, ketika namanya akhirnya tercatat sebagai peraih Silver Medal ME Awards 2026, kebahagiaan Alfian tidak berhenti pada medali yang diterimanya.
Ada kepuasan setelah melewati proses panjang. Ada rasa syukur setelah berkali-kali menghadapi kegagalan.
Dan ada keyakinan bahwa usaha yang dilakukan dengan sabar tidak pernah benar-benar sia-sia.
Prestasi Alfian sekaligus menjadi pesan bagi siswa Mamsaka lainnya. Dalam sebuah kompetisi, kemenangan memang menjadi tujuan. Namun, proses untuk mencapainya juga menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Tidak semua usaha langsung menghasilkan juara. Tidak semua latihan segera berbuah medali. Ada kalanya seseorang harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan hasil yang diharapkan.
Perjalanan Alfian menunjukkan hal itu. Dia baru merasakan juara setelah bertahun-tahun mengikuti perlombaan. Justru karena itulah, Silver Medal ME Awards 2026 memiliki arti lebih dari sekadar pencapaian kompetisi.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kegagalan tidak selalu berarti jalan buntu. Bisa jadi, ia sedang menjadi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.
Bagi Mamsaka, capaian Alfian juga menjadi dorongan untuk terus mengembangkan potensi siswa melalui Arabic Tahfidz Class Program (ATCP), sekaligus membangun budaya belajar dan berkompetisi yang tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga membentuk ketekunan, kesabaran, dan mental pantang menyerah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments