Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muktamar ke-35 NU dan Harapan Umat

Iklan Landscape Smamda
Muktamar ke-35 NU dan Harapan Umat
Muktamar ke-35 NU dan Harapan Umat
Oleh : Prof. Imam Robandi Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (2010-2015, 2015-2020) dan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP. Muhammadiyah (2010-2015)

Saat saya membersamai Metrans RI di Kampung Domande Papua Selatan, tiba-tiba saya diingatkan oleh murid saya yang warga nahdliyin bahwa dia dan kawan-kawan sedang sibuk menjadi penyambut para peserta dan penggembira Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Wow, ini kesempatan emas untuk saya bersilaturahim ke sana, kata saya, mumpung muktamarnya di Jombang, dekat dengan Surabaya.

Perjalanan terbang dari Merauke menuju Manggarai Barat di NTT, dan berakhir di Bandar Halim Perdanakusuma, saya manfaatkan untuk membuat sedikit catatan tentang NU dan keumatan.

Merasakan Muktamar NU dan Kebahagiaan

Tengah hari saya mendarat di Juanda, dan dua jam kemudian saya langsung menuju ke Jombang dan langsung membawa tiga mahasiswa pascasarjana ITS pergi sore itu untuk ikut merasakan kebahagiaan bersama warga nahdliyin di lokasi muktamar.

Murid saya, Dr. Ajiatmo, adalah kader NU, yang sore itu menemani saya. Saya mempunyai banyak murid kader-kader NU yang sekarang sudah ikut sibuk mengurus umat.

Era 90-an saya sudah berkhidmat di Universitas Darul ‘Ulum Jombang, mungkin sekarang mereka sudah menyebar di seluruh penjuru Tanah Air untuk mengawal umat di akar rumput.

Pondok Pesantren Tambakberas malam itu sangat meriah dan ribuan orang berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia.

Rumah-rumah warga dijadikan posko-posko PCNU dan para penggembira. Saya sempat masuk ke gang-gang dan juga jalan kecil perumahan, semua penuh mobil berderet-deret dan banyak papan nama delegasi yang tercetak dalam baligo, poster-poster, dan juga spanduk.

Berjalan kaki mengitari pondok Tambakberas sambil menikmati pemandangan kegembiraan umat dengan wajah bahagia. Lorong-lorong kecil dibanjiri manusia dan umpel-umpelan berjalan kaki.

Kanan-kiri banyak sekali kedai yang berisi berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga.

Muktamar ke-35 NU dan Harapan Umat
Bersama para tokoh NU di Pondok Pesantren Tambakberas. Foto: Dok/Pri

Semua laris manis, apa saja yang dijual di situ langsung habis terbeli, dan mereka terlihat sangat berbahagia.

Saya juga larut dalam situasi itu dan benar-benar ikut merasakan kebahagiaan yang tidak mudah untuk ditulis dengan paragraf berjumlah berapa pun.

Berbahagialah Indonesia yang mempunyai dua organisasi keagamaan besar penyangga bangsa, NU dan Muhammadiyah.

NU berlambang bumi dan Muhammadiyah berlambang matahari. Bumi dan matahari yang satu makna, yaitu saling berbagi tugas kebangsaan dalam banyak peran yang saling melengkapi.

NU didirikan tahun 1926 dan Muhammadiyah didirikan tahun 1912, dan semua sudah berumur lebih dari satu abad, sudah senior, dan sudah menjadi kakak beradik kadang sinarawedi, yang saling mengisi sejarah perjalanan kehidupan bangsa ini.

Nahdlatul Ulama (NU) telah memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 1926, NU telah berkembang bukan sekadar hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang berkontribusi pada pengembangan bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan kehidupan berbangsa.

Dengan jutaan anggota dan pengikut, NU memikul tanggung jawab besar dalam membantu Indonesia menuju Indonesia emas tahun 2045.

Muktamar ke-35 NU menjadi momen penting untuk mengevaluasi perjalanannya, memperkuat kelembagaan, mempererat ukhuwah, dan merumuskan strategi masa depan yang cemerlang.

Muktamar NU di Jombang ini merupakan kesempatan untuk membahas persoalan yang lebih luas dan berkontribusi lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa dan tetap menjaga identitas keagamaan, sosial, dan budaya bangsa.

Tantangan Masa Depan dan Potensi Umat

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi NU adalah pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Perekonomian Indonesia di masa depan akan semakin bergantung pada pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan inovasi.

NU memiliki jaring pendidikan yang luas dan terus berkembang. Pesantren dan sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan NU sudah mulai memadukan pendidikan agama, sains, teknologi, matematika, bahasa, kewirausahaan, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis, sehingga tidak heran jika telah muncul banyak kader-kader NU yang pandai berdiskusi dan sangat literatif.

Generasi muda NU tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi secara perlahan harus bergeser untuk menjadi pencipta, peneliti, wirausahawan, insinyur, pendidik, dan pemimpin. Ini menuntut investasi guru, pendidik, dan dosen.

Institusi pendidikan yang unggul tidak dapat dibangun tanpa sistem pendidikan yang unggul. Di sini NU memerlukan program jangka panjang untuk pelatihan guru berkelanjutan, pengembangan kepemimpinan, penelitian top tiers, kerja sama internasional, dan modernisasi teknologi yang harus dilaksanakan segera dan bertahap secara merata di seluruh Tanah Air.

Ketimpangan ekonomi tetap menjadi tantangan besar yang lain untuk Indonesia, dan sini NU harus terus mengambil peran penting, terutama untuk masyarakat pedesaan yang masih sangat tertinggal.

Sebagian besar warga NU tinggal di pedesaan dan bergantung pada sektor pertanian, peternakan, usaha kecil, pekerjaan sektor informal, dan usaha mikro yang lain.

SMPM 5 Pucang SBY

NU dapat memberikan kontribusi signifikan dengan memperkuat pengembangan ekonomi berbasis komunitas.

Koperasi, keuangan syariah, keuangan mikro, modernisasi pertanian, perdagangan digital, pelatihan keterampilan, dan program kewirausahaan dapat membuka peluang-peluang baru.

Tantangan terbesar adalah peralihan dari pendekatan yang berorientasi pada bantuan amal menuju pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, mandiri, dan profesional.

Membantu masyarakat bertahan hidup di tengah kemiskinan memang penting, tetapi membimbing mereka untuk mengembangkan aset yang lebih produktif dan usaha yang berkelanjutan adalah jauh lebih diperlukan.

Oleh karena itu, lembaga-lembaga ekonomi NU memerlukan pengelolaan yang sistematik profesional. Niat baik yang dibarengi dengan tata kelola yang baik, akuntabilitas keuangan, keahlian bisnis, dan hasil yang terukur akan melahirkan tatanan masyarakat yang unggul dan organisasi yang menyejahterakan.

Muktamar ke-35 NU dan Harapan Umat
Foto: Dok/Pri

Menyongsong Era Digital

Revolusi digital sedang mengubah masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Kecerdasan Artifisial (KA), perangkat lunak, media sosial, perdagangan digital, pendidikan jarak jauh berbasis sinyal, dan layanan keuangan digital secara pesat telah mengubah cara orang bekerja dan berkomunikasi manusia di bumi dan NU tidak dapat berdiam diri di luar era transformasi ini.

Teknologi digital termasuk KA menghadirkan peluang besar untuk memperluas dalam pengembangan dakwah, pendidikan, penelitian, usaha, pemerintahan, dan rekayasa sosial.

NU dapat mengembangkan platform pembelajaran digital, sumber daya pesantren, aplikasi pendidikan dan juga kesehatan, perpustakaan digital, serta platform untuk usaha kecil dan menengah dan juga untuk berdakwah internasional.

NU yang berbasis keagamaan memegang peran penting dalam mendorong pembentukan manusia digital yang beretika.

Lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikannya dapat membantu masyarakat Indonesia mengembangkan kemampuan untuk umat dapat membedakan antara pengetahuan yang produktif yang bernilai positif dan muatan-muatan negatif yang destruktif.

NU yang di Tengah dan Harapan Setelah Muktamar

NU telah mengedepankan pendekatan keagamaan yang menekankan moderasi, toleransi, harmoni sosial, dan penghormatan terhadap masyarakat Indonesia yang majemuk. Artinya bahwa NU sangat berpengalaman dalam berdiri di titik tengah, atau ‘ngemong sana, ngemong sini’, ‘mikul duwur mendhem jero’.

Peran ini menjadi semakin penting di era media sosial yang serba bebas dan persaingan ideologi global yang semakin tidak terkendalikan. Identitas keagamaan dapat dimanfaatkan secara positif untuk memperkuat moralitas dan solidaritas, tetapi juga sebaliknya dapat dimanipulasi untuk memicu perpecahan dengan membawa kepentingan masing-masing.

NU menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisinya yang sudah kokoh sambil merespons berbagai penafsiran baru dan kebutuhan generasi muda masa kini NU.

Kaum muda membutuhkan pendidikan agama yang memiliki landasan intelektual kuat, relevan dengan persoalan kontemporer, dan mampu berinteraksi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang tumbuh dengan sangat cepat.

Moderasi beragama tidak diartikan sebagai upaya menghindari pertanyaan-pertanyaan sulit dan bersifat doktrin dan dogma, tetapi terus mendorong komponen bangsa ini untuk menyikapi perbedaan melalui pendekatan berbasis pengetahuan, dialog, saling memahami, dan saling menghormati.

Hubungan NU dengan dunia politik senantiasa menjadi isu penting dan terkadang sensitif, apalagi belakangan ini. Wajar jika anggota NU memiliki kecenderungan politik yang beragam, dan banyak tokoh NU yang telah berkecimpung dalam kancah politik Indonesia di berbagai tingkat.

Tantangan utamanya adalah menjaga independensi organisasi dengan tetap memberikan ruang gerak untuk anggotanya secara individu untuk berpartisipasi dalam politik yang demokratis dan saling mengayomi.

Kekuatan utama NU adalah pada bidang sosial, keagamaan, pendidikan, dan budaya yang menjadi sangat krusial. NU dapat berkontribusi dalam perumusan kebijakan nasional tanpa harus bergantung secara berlebihan pada partai politik atau tokoh politik tertentu.

NU tetapi harus menjaga jarak secara proporsional yang seimbang dengan dunia politik praktis, agar warga NU tetap dapat menikmati kehidupannya yang tanpa harus terseret ke sana ke mari.

Di mana pun posisinya, NU dengan independensinya tetap dapat menyuarakan pandangannya dengan lebih kredibel untuk memperjuangkan kepentingan umat dalam keadilan sosial, demokrasi, pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan kepentingan masyarakat umum.

Muktamar ke-35 NU dipandang sebagai bagian dari perjalanan panjang, dan bukan sebagai titik akhir. Tolok ukur sesungguhnya dari sebuah muktamar adalah kualitas perjalanan yang akan terjadi setelah gelaran muktamar selesai dengan kehidupan masyarakat harmoni yang tata titi tentrem kerta raharja, dan saya sangat percaya warga NU menahu sekali tentang ini.

Partisipasi konstruktif dalam pembangunan nasional adalah juga di pundak NU, dan NU memiliki peluang yang sangat besar untuk memberikan kontribusi ini.

Oleh karena itu, tantangan terbesar NU adalah bukan sekadar membesarkan NU, tetapi bagaimana membawa NU menjadi institusi yang lebih bermakna dalam melayani masyarakat dan memperkuat Indonesia menjadi negara besar yang bermartabat di muka bumi yang rakyatnya makmur dan berkeadilan, dan terbebas dari berbagai tradisi korup. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 29/08/2026 15:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu