Muhammad saw tumbuh dalam pelukan lima perempuan mulia. Mereka bukan hanya menyusui dan mengasuh, tetapi juga memberikan cinta, perlindungan, dan kasih sayang pada masa-masa awal kehidupan manusia termulia itu.
Kehidupan Rasulullah saw sejak kecil tidak berjalan dalam kemudahan. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir. Ketika Muhammad saw baru berusia sekitar enam tahun, ibunya, Aminah binti Wahab, juga berpulang.
Kehilangan datang begitu dini. Namun, di tengah perjalanan hidup yang penuh kehilangan itu, Allah SWTmenghadirkan perempuan-perempuan yang menjadi bagian penting dalam masa kecil dan pertumbuhan Rasulullah saw.
Ada yang melahirkannya. Ada yang menyusuinya. Ada yang mengasuhnya. Ada pula yang merawatnya seperti anak sendiri.
Mereka adalah lima perempuan yang dalam berbagai fase kehidupan menjadi sosok “ibunda” bagi Rasulullah saw.
1. Aminah Binti Wahab
Aminah binti Wahab adalah perempuan terhormat dari Bani Zuhrah. Ia adalah istri Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibu kandung Rasulullah saw.
Namun, kebahagiaan Aminah sebagai seorang ibu tidak berlangsung panjang. Abdullah wafat ketika Aminah sedang mengandung Muhammad ﷺ. Maka, Rasulullah saw lahir dalam keadaan yatim.
Menurut tradisi masyarakat Quraisy kala itu, bayi-bayi biasanya diserahkan kepada perempuan pedalaman untuk disusui dan diasuh. Muhammad ﷺ pun kemudian diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah.
Setelah beberapa tahun, Muhammad saw kembali kepada ibunya. Akan tetapi, kebersamaan itu kembali berakhir dengan perpisahan.
Ketika Muhammad saw berusia sekitar enam tahun, Aminah membawanya berkunjung ke Yatsrib. Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Aminah jatuh sakit dan wafat di Abwa.
Muhammad saw kecil pun kehilangan ibunya.
Sejak saat itu, kehidupan beliau semakin dekat dengan sosok-sosok pengasuh yang Allah SWT hadirkan untuk menjaganya.
2. Tsuwaibah Al-Aslamiyah
Tsuwaibah adalah perempuan yang pernah menjadi budak Abu Lahab. Ia mendapat kehormatan menyusui Rasulullah saw sebelum beliau diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah.
Masa menyusuinya memang tidak panjang. Namun, jasa Tsuwaibah tetap dikenang Rasulullah saw.
Beliau memperlakukannya dengan penuh penghormatan dan kasih sayang. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw senantiasa menjalin hubungan baik dengannya dan memberikan hadiah kepadanya.
Tsuwaibah juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ. Karena hubungan persusuan itu, Hamzah kemudian menjadi saudara sepersusuan Nabi saw.
Kisah Tsuwaibah menunjukkan bahwa kebaikan yang diberikan kepada seorang anak tidak pernah menjadi sesuatu yang sia-sia.
Boleh jadi seseorang hanya hadir sebentar dalam hidup kita. Tetapi kasih sayangnya bisa tinggal jauh lebih lama.
3. Barakah Binti Tsa’labah (Ummu Aiman)
Namanya Barakah binti Tsa’labah. Ia lebih dikenal dengan nama Ummu Aiman.
Ummu Aiman merupakan sosok yang sangat dekat dengan kehidupan Rasulullah saw sejak masa kanak-kanak. Ia semula berada dalam keluarga Abdul Muthalib dan kemudian menjadi bagian dari keluarga Abdullah.
Setelah Aminah wafat, Ummu Aiman tetap mendampingi Muhammad saw kecil. Ia ikut mengantarkan beliau kepada kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian mendampingi beliau setelah berada dalam asuhan Abu Thalib.
Ia bukan ibu yang melahirkan Muhammad saw. Namun, ia hadir ketika Muhammad saw membutuhkan seseorang yang menjaga, menemani, dan mencintainya.
Karena kedekatan itulah, Rasulullah saw sangat memuliakannya.
Ummu Aiman kemudian menjadi salah seorang perempuan yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Ia juga menjadi ibu Usamah bin Zaid, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah saw.
Dari sosok Ummu Aiman kita belajar bahwa menjadi “ibu” tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah.
Kadang-kadang, seorang ibu adalah mereka yang tetap tinggal ketika orang lain pergi.
4. Halimah As-Sa’diyah
Halimah as-Sa’diyah berasal dari Bani Sa’ad. Ia datang ke Makkah bersama para perempuan dari kabilahnya untuk mencari bayi yang dapat disusui.
Ketika itu, Muhammad saw masih bayi.
Pada awalnya, Halimah tidak langsung memilih beliau. Namun, akhirnya Muhammad saw berada dalam asuhannya.
Sejak itulah, kehidupan keluarga Halimah disebut dipenuhi keberkahan. Hewan ternaknya menghasilkan susu lebih banyak. Keadaan perjalanan pulang yang sebelumnya serba terbatas terasa berubah.
Kehadiran bayi Muhammad saw menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi keluarga Halimah.
Muhammad saw kemudian tumbuh di lingkungan Bani Sa’ad selama beberapa tahun.
Di sanalah beliau menikmati kehidupan pedesaan, belajar bahasa Arab yang fasih, dan tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk Makkah.
Dalam sirah juga dikenal peristiwa pembelahan dada Muhammad saw ketika masih kecil. Peristiwa itu menjadi salah satu episode penting dalam kehidupan awal Rasulullah saw.
Ketika tiba waktunya mengembalikan Muhammad saw kepada Aminah, Halimah merasa berat hati.
Hubungan mereka bukan lagi sekadar hubungan antara ibu susuan dan anak susuan. Ada cinta yang telah tumbuh di antara keduanya.
Kelak, Rasulullah saw tetap mengenang Halimah dengan penuh penghormatan.
Itulah salah satu keindahan akhlak beliau: tidak melupakan orang-orang yang pernah berbuat baik, bahkan ketika kebaikan itu diberikan puluhan tahun sebelumnya.
5. Fatimah Binti Asad
Fatimah binti Asad adalah istri Abu Thalib, paman Rasulullah saw yang mengasuh beliau setelah Abdul Muthalib wafat.
Muhammad saw tinggal di rumah Abu Thalib dan Fatimah binti Asad.
Di rumah itulah, Fatimah memperlakukan Muhammad saw dengan kasih sayang.
Ia bukan ibu kandung beliau. Namun, perhatian dan pengorbanannya membuat Rasulullah saw memiliki kedekatan khusus dengannya.
Fatimah binti Asad juga merupakan ibu dari Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib, dua sosok penting dalam sejarah Islam.
Ketika Fatimah binti Asad wafat, Rasulullah saw menunjukkan betapa besar penghormatan beliau kepadanya.
Beliau menangisinya dan memberikan perhatian khusus dalam pemakaman perempuan yang telah merawatnya itu.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw bahkan turun ke liang lahadnya sebelum jenazah dimakamkan.
Kehidupan Fatimah binti Asad menjadi bukti bahwa kasih sayang tidak selalu lahir dari ikatan darah.
Lima Perempuan, Satu Pelajaran Besar
Jika direnungkan, masa kecil Rasulullah saw sebenarnya penuh dengan perpisahan.
Ayah beliau telah tiada sebelum kelahiran. Ibu kandungnya wafat ketika beliau masih sangat kecil. Namun, Allah SWT tidak membiarkan beliau berjalan sendirian.
Ada Aminah yang melahirkan dan mencintainya. Ada Tsuwaibah yang menyusuinya. Ada Halimah yang merawatnya di Bani Sa’ad. Ada Ummu Aiman yang setia mendampinginya. Dan ada Fatimah binti Asad yang membuka rumahnya untuk beliau.
Mereka hadir dalam fase kehidupan yang berbeda. Mereka memberikan bentuk cinta yang berbeda. Tetapi semuanya meninggalkan jejak.
Dari kisah mereka, kita belajar bahwa membesarkan seorang manusia tidak selalu membutuhkan hubungan darah. Yang dibutuhkan adalah kehadiran, ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang.
Dan mungkin inilah salah satu pesan paling dalam dari masa kecil Rasulullah saw.
Allah SWT dapat menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan manusia yang tidak pernah kita duga.
Ketika satu pintu kehilangan tertutup, Allah SWT bisa membuka pintu kasih sayang melalui orang lain.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan kecil kepada seorang anak. Sebab, boleh jadi pelukan, perhatian, makanan, nasihat, atau kesediaan menemani yang kita berikan hari ini sedang ikut membentuk seseorang yang kelak menjadi manusia besar.
Sebagaimana Rasulullah saw tumbuh melalui kasih sayang banyak perempuan mulia, setiap anak pun membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa dicintai, dijaga, dan diterima.
Catatan: Disarikan dari buku Biografi 35 Shahabiyah Nabi ﷺ karya Syaikh Mahmud Al-Mishri.





0 Tanggapan
Empty Comments