Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Moh Mudzakkir, S.Sos, MA, Ph.D. menegaskan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama dalam menentukan masa depan bangsa. Bangsa yang gagal membangun pendidikan akan menghadapi kesulitan dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Pesan tersebut disampaikan Moh. Mudzakkir dalam orasi ilmiah pada Wisuda IV Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan (ITBADLA).
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan gelar akademik. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, karakter kuat, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, kampus, ijazah, atau gelar. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. Kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dihasilkan melalui sistem pendidikannya,” tegasnya.
Muzzakkir menyampaikan, lulusan perguruan tinggi harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat. Ada empat kemampuan penting yang perlu dikembangkan, yakni keterampilan komunikasi, pembangunan karakter, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis.
Pertama, kemampuan komunikasi atau communication skills. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas, mendengarkan pendapat orang lain, membangun kerja sama, dan menyelesaikan perbedaan secara bijaksana.
Kedua, pembangunan karakter. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan integritas, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan etos kerja.
“Karakter merupakan fondasi yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan ilmunya. Kecerdasan tanpa integritas dapat disalahgunakan. Keterampilan tanpa tanggung jawab dapat merugikan orang lain,” ujarnya.
Ketiga, literasi digital. Di tengah perkembangan teknologi, lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga cakap memilah informasi, memeriksa kebenaran sumber, menjaga keamanan data, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Keempat, kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif, analitis, dan solutif. Perguruan tinggi, lanjutnya, harus menghasilkan lulusan yang tidak sekadar menghafal pengetahuan, tetapi mampu memahami persoalan dan menemukan solusi.
“Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghafal pengetahuan, tetapi juga orang yang mampu memahami persoalan dan menemukan jalan keluar,” ungkapnya.
Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Mudzakkir juga mengingatkan pentingnya membangun semangat belajar sepanjang hayat atau lifelong learning. Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan baru untuk mengamalkan ilmu dan terus mengembangkan diri.
Ia menekankan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat menuntut setiap orang untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
“Bagi seorang guru atau dosen, berhenti belajar merupakan pertanda bahwa ia mulai tertinggal dari perkembangan zaman. Seorang pendidik tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperolehnya bertahun-tahun lalu,” tutur wakil sekretaris PWM Jawa Timur ini
Karena itu, para pendidik perlu terus membaca, meneliti, berdiskusi, memperbarui metode pembelajaran, dan terbuka terhadap gagasan baru. Demikian pula para wisudawan, mereka harus terus belajar melalui buku, pelatihan, diskusi, serta pengalaman di tengah masyarakat.
Mudzakir mengingatkan bahwa gelar akademik merupakan pengakuan atas proses pendidikan yang telah ditempuh. Namun, kualitas lulusan sesungguhnya akan diuji ketika mereka memasuki dunia kerja, membangun usaha, mengembangkan profesi, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Ijazah menandai selesainya satu jenjang pendidikan, tetapi tidak pernah menandai berakhirnya kewajiban untuk belajar,” tegasnya.
Pentingnya Modal Sosial dan Pengabdian
Selain kompetensi pribadi, Mudzakir menyoroti pentingnya modal sosial, yakni kemampuan membangun hubungan, kepercayaan, jejaring, dan kerja sama dengan orang lain.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuannya bekerja sama, menjaga kepercayaan, dan membangun hubungan yang baik.
Ia mengajak para wisudawan untuk memelihara silaturahmi dengan sesama alumni, dosen, teman seperjuangan, dan masyarakat luas. Jejaring yang dibangun hendaknya berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan memberikan manfaat bagi banyak pihak.
Sebagai lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah, para wisudawan juga diharapkan mampu menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang dapat saya peroleh dari masyarakat?’, tetapi juga bertanya, ‘Apa yang dapat saya berikan kepada masyarakat?” pesannya.
Ia berharap alumni ITBADLA mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Lamongan, serta Indonesia secara keseluruhan.
Apresiasi Kemajuan ITBADLA
Dalam kesempatan tersebut, Mudzakir menyampaikan apresiasi dan tahnia atas kemajuan yang telah dicapai ITB Ahmad Dahlan Lamongan. Ia menilai perkembangan perguruan tinggi membutuhkan kerja keras, kepemimpinan, kolaborasi, dan komitmen seluruh sivitas akademika untuk menjaga kualitas pendidikan.
Ia berharap ITBADLA terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat budaya penelitian, mengembangkan pengabdian kepada masyarakat, serta memperluas kerja sama dengan berbagai pihak.
Menurutnya, perguruan tinggi harus senantiasa hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
Secara khusus, Mudzakkir menyampaikan terima kasih kepada para orang tua dan wali wisudawan yang telah memberikan kepercayaan kepada ITBADLA untuk mendidik putra-putri mereka.
“Kepercayaan tersebut merupakan amanah yang sangat berharga. Di balik setiap wisudawan yang berdiri hari ini, ada doa, pengorbanan, kerja keras, dan harapan orang tua yang mungkin tidak seluruhnya dapat diungkapkan dengan kata-kata,” ungkapnya.
Ia berharap kepercayaan tersebut dijawab dengan peningkatan mutu pendidikan dan lahirnya lulusan yang siap menghadapi tantangan kehidupan.
Menutup orasi ilmiahnya, Mudzakkir berpesan agar para wisudawan terus belajar, menjaga integritas, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
“Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses. Bercita-citalah menjadi orang sukses yang membawa manfaat. Jangan hanya ingin memperoleh pekerjaan yang baik, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang mampu menciptakan peluang dan membuka jalan bagi orang lain,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments