Perubahan zaman tidak hanya membawa kemudahan. Di balik derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, ada ancaman yang perlahan dapat menggerus ketahanan iman.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kes, menyebut sedikitnya empat “virus zaman” yang perlu diwaspadai warga Muhammadiyah. Virus itu adalah virus akidah, informasi, individualisme, dan kegelisahan.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo di Masjid Machfud, Ahad (9/8/2026).
Menurut Mundzakir, tantangan kehidupan modern tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Sebagian justru masuk perlahan melalui pola pikir, kebiasaan, konsumsi informasi, hingga perubahan cara seseorang berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
“Imunisasi iman” karena itu, menurut dia, menjadi penting agar warga Muhammadiyah memiliki daya tahan spiritual dalam menghadapi perubahan zaman.
Virus Akidah
Mundzakir mengingatkan bahwa persoalan akidah masih menjadi tantangan. dia menyinggung praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat yang dinilainya dapat menggerogoti kemurnian iman.
Selain itu, ia menyebut munculnya berbagai pandangan yang menjauhkan manusia dari Tuhan, seperti ateisme dan agnostisisme. Ada pula pandangan yang menyamakan seluruh agama sebagai kebenaran yang sama.
“Virus akidah masih ada. Kita mengenal penyakit TBC, yaitu tahayul, bid’ah, dan khurafat. Penyakit ini bisa menggerogoti iman,” ujarnya.
Bagi warga Muhammadiyah, tantangan tersebut menuntut penguatan pemahaman keislaman, bukan sekadar pengetahuan agama, tetapi juga pengamalan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Virus Informasi
Ancaman kedia adalah virus informasi. Perkembangan teknologi membuat manusia dapat mengakses informasi hampir tanpa batas.
Namun, derasnya informasi juga membawa konsekuensi ketika penggunaan gawai tidak lagi terkendali.
Mundakir menyoroti kebiasaan masyarakat menggunakan gawai dalam waktu yang panjang. Menurut dia, penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk aktivitas ibadah.
“Efek gawai sangat besar. Masyarakat sudah ketagihan game. Selain itu berpengaruh dalam aktivitas ibadah, termasuk salat yang terlambat. Meskipun tentu ada juga nilai positifnya,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang dikendalikan manusia, bukan sebaliknya.
Persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang memegang gawai, tetapi bagaimana teknologi mulai mengambil ruang yang semestinya digunakan untuk beribadah, berinteraksi, belajar, dan membangun kehidupan sosial.
Virus Individualisme
Ancaman berikutnya adalah individualisme. Mundzakir melihat kecenderungan sebagian orang semakin nyaman hidup sendiri dan menjauh dari komunitas. Bahkan, aktivitas bersama dan organisasi mulai dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu kenyamanan pribadi.
Padahal, kehidupan berjamaah dan berorganisasi merupakan bagian penting dalam tradisi Muhammadiyah.
Jika kecenderungan individualisme dibiarkan, menurut dia, seseorang bukan hanya kehilangan interaksi sosial, tetapi juga dapat kehilangan ruang untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
Karena itu, warga Muhammadiyah perlu terus menjaga budaya berjamaah, bermasyarakat, dan berorganisasi.
Virus Kegelisahan
Virus keempat adalah kegelisahan. Mundzakir menyebut kecemasan telah menjadi persoalan yang meluas di berbagai belahan dunia.
Dia mengutip data yang disebutnya berasal dari WHO bahwa satu dari tujuh orang di dunia mengalami gangguan mental.
“Banyak masyarakat mudah cemas dan sulit mengontrol kemauan,” ujarnya.
Kegelisahan, menurut dia, tidak cukup dihadapi dengan kemampuan material. Manusia juga membutuhkan kekuatan spiritual agar memiliki ketenangan dan kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan kehidupan.
PHIWM sebagai Imunisasi
Di tengah empat tantangan tersebut, Mundzakir menawarkan satu ikhtiar yang sebenarnya telah dimiliki warga Muhammadiyah: Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Dia menegaskan, PHIWM tidak cukup hanya menjadi buku yang tersimpan di rak. Nilai-nilai di dalamnya harus dibaca, dipahami, dan diamalkan.
“Sesungguhnya warga Muhammadiyah sudah memiliki imun untuk mengatasi virus kehidupan, yaitu membaca buku PHIWM. Tidak sekadar dibaca, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam kajian tersebut, Mundzakir tidak hanya menjelaskan gagasannya. Ia juga membagikan 100 buku PHIWM kepada peserta.
Mundakir menyarankan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mendorong anggotanya untuk memiliki dan mempelajari PHIWM.
Dengan demikian, PHIWM tidak berhenti sebagai dokumen pedoman organisasi. Buku tersebut diharapkan menjadi panduan praktis bagi warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan di tengah perubahan zaman.
Pesannya sederhana: zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi daya tahan iman tidak boleh ikut melemah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments