KH M. Saleh Ibrahim adalah Ketua Muhammadiyah Jatim selama dua periode, 1959-1962 dan 1962-1965. Salah satu prestasi monumentalnya adalah ikut merumuskan Kepribadian Muhammadiyah yang kemudian disahkan dalam Muktamar ke-35, 1962.
***
Nama tokoh ini memang tidak sepopuler K.H. Faqih Usman. Tapi perannya tidak bisa dianggap enteng. M. Saleh Ibrahim, begitu Namanya, salah seorang anggota tim perumus Kepribadian Muhammadiyah, utusan Jawa Timur.
Kelahiran naskah ‘penyelamat’ Muhammadiyah dari rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI) ini memang tidak lepas dari gonjang-ganjing perpolitikan nasional. Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), yang di dalamnya terdapat Muhammadiyah sebagai anggota istimewa, sedang berada diambang pembubaran.
Pada zaman itu, Muhammadiyah dan Masyumi memang sulit dibedakan, terkait dengan banyaknya warga Persyarikatan yang aktif di Masyumi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh PKI dengan menghembuskan isu bahwa Muhammadiyah identik dengan Masyumi. Yang otomatis harus dilarang seiring dengan pelarangan Masyumi oleh Presiden Soekarno.
Di tengah kegalauan, Pimpinan Pusat pada Ramadhan 1381 H menggelar kursus pimpinan di Madrasah Mu’allimin Yogyakarta. Kursus ini diikuti Pimpinan Muhammadiyah seluruh Indonesia, Salah satu pematerinya, K.H. Faqih Usman menyampaikan materi berjudul ‘Apakah Muhammadiyah itu?’
Oleh Pimpinan Pusat, materi itu ditindaklanjuti dengan memusyawarahkan bersama Pimpinan Muhammadiyah Jatim yang diwakili H.M. Saleh Ibrahim, Jawa Tengah (R. Darsono), dan Jawa Barat (H. Adang Afandi).
Sesudah itu disempurnakan oleh suatu Tim yang antara lain terdiri dari K.H. Faqih Usman sebagai Ketua. Dibantu oleh Prof. Farid Makruf, H. Djarnawi Hadikusumo, M. Djindar Tamimy, HAMKA, R. Muhammad Wardan Diponingrat, dan M. Saleh Ibrahim. Hasil rumusan tim ini ini dibahas dalam sidang tanwir tanggal 25-28 Agustus 1962, dan disahkan dalam Muktamar ke-35 (14-18 November 1962).
Bagi Saleh Ibrahim, tentu bukan amanat yang mudah untuk terlibat dalam tim tersebut. Infra struktur transportasi yang belum memadai pada 1960-an membuat perjalanan Surabaya-Yogyakarta tidaklah senyaman sekarang. “Bisa dikatakan setiap pekan Bapak selalu pergi ke Yogyakarta menggunakan kereta api,” cerita sang anak, Makhsusiyah.
Perihal penunjukan Saleh, tentu tidak sembarangan. Selain aktif sebagai anggota Konstituante mewakili Masyumi Jatim yang bergaul dengan banyak pihak, Saleh juga termasuk tokoh Muhammadiyah ‘kawakan’. Dia merupakan salah satu kader yang mendapat gemblengan langsung dari K.H. Mas Mansur.
Ketika Mas Mansur mendirikan sebuah ikatan kader tangguh yang siap menjadi pelopor dan tulang punggung gerakan Muhammadiyah, yang dikenal dengan “Wali 20”, salah satu anggotanya adalah M. Saleh Ibrahim.
Ia bersama Wondowijoyo, Wondoamiseno, Moh. Suwardhie, H. Moh. Urip, Jaminah, Ciptorejo, H. A. Rahman Usman, dan Ajarsunyoto, menjadi tulang punggung kaum muda Muhammadiyah Surabaya.
Dalam usia mudanya, dia telah ikut mengelola dan mengasuh Panti Asuhan Anak Yatim (PAY) yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Ketika terjadi agresi Belanda I dan II, dia ‘memindahkan’ panti tersebut ke Blitar karena dipaksa menjadi pengungsi. Di Blitar, panti itu bergabung dengan PAY Blitar pimpinan Khusairi.
PAY itu dikembalikan ke Surabaya dan berfungsi kembali setelah ada pengakuan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia (1949). Bertepatan pada Milad ke-40 Muhammadiyah, 18 November 1952, secara resmi dimulai pembangunan gedung Anak Yatim yang berlokasi di Kampung Carikan Surabaya. Lokasi itu sekarang bernama Jalan Gresikan 59, yang pada saat itu mengasuh 10 orang.
selanjutnya halaman 02





0 Tanggapan
Empty Comments