Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berhijrah, Memperbaiki, dan Membangun Peradaban

Iklan Landscape Smamda
Berhijrah, Memperbaiki, dan Membangun Peradaban
Oleh : Muhammad Wahid,S.Pd.I.,Gr.,M.Pd Mudir Ma'had Al Muttaqin Blimbing

Tanggal 1 Muharram 1448 Hijriyah bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Islam. Momentum ini menghadirkan lembaran baru yang sarat makna, pelajaran sejarah, dan panggilan suci untuk melakukan perubahan.

Muharram mengingatkan kembali peristiwa agung Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Perjalanan tersebut bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari keadaan lemah, tertekan, dan terbelah menuju keadaan yang kuat, berdaulat, dan beradab.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, tahun baru Hijriyah menjadi momentum untuk merenung dan mengevaluasi diri. Momen ini juga menjadi kesempatan menyusun tekad baru agar menjadi pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang lebih baik, bermartabat, serta diberkahi Allah SWT.

Hijrah: Inti Makna Tahun Baru Islam

Hijrah menjadi jiwa utama dari kalender Hijriyah. Jika melihat sejarah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berhijrah bukan karena keinginan pribadi.

Hijrah menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan iman, menyebarkan kebenaran, dan membangun peradaban berdasarkan wahyu Ilahi. Di tengah tekanan, ancaman, dan kesulitan, mereka berani bergerak demi meraih ridha Allah.

Makna hijrah tersebut tetap relevan hingga tahun 1448 H. Bahwa Hijrah tidak hanya berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Hijrah hari ini berarti berpindah dari sifat buruk menuju sifat baik. Hijrah juga berarti berpindah dari ketidaktahuan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persatuan, serta dari kemunduran menuju kemajuan.

Tahun Baru Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh berhenti memperbaiki diri. Kalender Hijriyah mengingatkan bahwa perubahan merupakan sunnatullah dan perbaikan menjadi kewajiban orang beriman.

Merenungi Kaleidoskop Dunia Islam

Ketika melihat dunia Islam di awal tahun 1448 H, kita menemukan gambaran yang penuh warna sekaligus tantangan. Dunia Islam seperti kaleidoskop yang menampilkan keragaman suku, budaya, bahasa, dan tradisi.

Lebih dari 1,9 miliar umat Islam tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka memiliki perbedaan latar belakang, tetapi tetap bersatu dalam ikatan syahadat yang sama.

Keberagaman tersebut merupakan rahmat Allah dan kekayaan peradaban yang luar biasa. Namun, dunia Islam juga menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.

Di satu sisi, umat Islam menunjukkan kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan seni. Semangat kebangkitan terus tumbuh di berbagai wilayah.

Di sisi lain, sebagian umat Islam masih menghadapi konflik, ketimpangan ekonomi, keterbelakangan pendidikan, serta kesalahpahaman dalam memahami agama. Tantangan globalisasi juga mengancam nilai moral, akhlak, dan rasa persaudaraan manusia.

Refleksi tahun baru Hijriyah mengajarkan bahwa dunia Islam adalah satu tubuh besar. Jika satu bagian mengalami kesulitan, bagian lain harus ikut merasakan kepedihan tersebut.

Karena itu, tahun 1448 H harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah. Kemajuan dunia Islam tidak dapat diraih secara sendiri-sendiri, tetapi melalui kerja sama dan saling menguatkan.

Memperbaiki Diri Sendiri: Awal Segala Perubahan

Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil. Perubahan paling mendasar berasal dari perbaikan diri sendiri.

Kita tidak mungkin mengubah keluarga, masyarakat, atau negara jika belum mampu memperbaiki diri. Inilah refleksi utama pada 1 Muharram 1448 H.

Pertanyaan penting yang harus kita renungkan adalah: apa yang telah saya perbaiki dari diri saya? Apa yang akan saya ubah di tahun yang baru ini?

SMPM 5 Pucang SBY

Perbaikan diri mencakup seluruh aspek kehidupan.

Pertama, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Kita perlu meningkatkan kualitas ibadah dan menghadirkan kesadaran hati dalam setiap amal.

Mari meningkatkan shalat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan menjadikan hidup sesuai tuntunan syariat. Kita berhijrah dari ibadah yang sekadar rutinitas menuju ibadah penuh keikhlasan.

Kedua, memperbaiki akhlak dan perilaku.
Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Pada tahun 1448 H, mari meninggalkan kesombongan, iri hati, kebohongan, dan perilaku yang menyakiti orang lain. Mari menanamkan kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan kasih sayang.

Ketiga, memperbaiki ilmu dan potensi diri.
Islam memuliakan ilmu dan mendorong umatnya terus belajar.

Umat Islam yang maju adalah umat yang cerdas, berilmu, dan produktif. Kita harus mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai agama.

Setiap kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran. Lembaran baru tahun 1448 H harus kita isi dengan kehidupan yang lebih bermanfaat dan lebih dekat kepada Allah.

Memperbaiki Keluarga: Pondasi Peradaban

Setelah memperbaiki diri, tanggung jawab berikutnya adalah keluarga. Keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi setiap manusia.

Keluarga yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik. Sebaliknya, keluarga yang rapuh dapat memunculkan persoalan dalam kehidupan sosial.

Saat ini keluarga menghadapi berbagai tantangan. Kesibukan orang tua, pengaruh teknologi, budaya asing, serta berkurangnya komunikasi dapat melemahkan hubungan keluarga.

Refleksi awal tahun baru ini perlu mengajak kita bertanya: apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang damai, penuh kasih sayang, dan bernilai agama?

Memperbaiki keluarga berarti menjalankan peran masing-masing.

  • Suami atau ayah harus menjadi pemimpin yang bijaksana, pelindung, penafkah, dan teladan bagi keluarga.
  • Istri atau ibu menjadi pendamping yang setia, pengelola rumah tangga, serta pendidik utama karakter anak.
  • Anak-anak harus berbakti, menghormati orang tua, belajar dengan sungguh-sungguh, dan menjadi kebanggaan keluarga.

Mari membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Keluarga yang menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan Allah SWT.

Mulailah dengan memperbanyak komunikasi, mengurangi konflik, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah, serta menanamkan nilai agama sejak dini.

Karena masa depan peradaban Islam berada di tangan generasi yang kita didik hari ini.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 16/06/2026 10:54
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu