Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Kader untuk Kader, Tanpa Saling Curiga

Iklan Landscape Smamda
Dari Kader untuk Kader, Tanpa Saling Curiga
Oleh : Muhsin MK Pegiat Sosial dan Aktivis Muhammadiyah

Kiai Haji Ahmad Dahlan melahirkan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah, sosial, dan juga pendidikan.

Sebelumnya, beliau telah cukup lama belajar dan bergaul dengan berbagai organisasi serta berbagai grup dan lapisan sosial yang berbeda pada zamannya.

Ahmad Dahlan menjadi anggota Budi Oetomo (BO) dan juga masuk Jamiatul Khair, organisasi para habaib.

Beliau juga seorang habaib keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau juga menjadi penasihat Syarikat Islam (SI) di zaman HOS. Cokroaminoto, hingga SI berubah menjadi PSII.

Dari keterlibatan dan pergaulan yang luas ini, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta pada 12 November 1912.

Beliau menjadikan persyarikatan benar-benar sebagai gerakan dakwah.

Sebab, dakwah itu bersifat inklusif, tidak eksklusif, dan merangkul seluruh manusia (QS. An-Nahl: 125).

Dakwah Inklusif 

Hal ini berbeda dengan politik dan ekonomi yang mengenal lawan dan kawan.

Perbedaan partai berarti lawan, sedangkan perbedaan bisnis berarti pesaing.

Mereka bisa saling menikam dari belakang karena bersentuhan dengan dunia, takhta, dan harta.

Dalam dakwah, kita tidak mengenal siapa lawan siapa kawan.

Semua objek dan mitra dakwah adalah kawan serta saudara seperjuangan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dalam politik dan ekonomi tidak ada teman abadi, karena yang abadi hanyalah kepentingan.

Sebaliknya, dalam dakwah semua teman adalah abadi, dan dakwah Islam Muhammadiyah mengajak semua orang agar masuk surga (QS. Al-Baqarah: 221).

Karena itu, Muhammadiyah memandang setiap muslim sebagai saudara, walaupun bukan warga dan anggotanya.

Persyarikatan membangun masjid bukan semata-mata untuk anggotanya saja.

Masjid tersebut berguna untuk semua umat Islam dan masyarakat umum, hanya saja persyarikatan mengatur pengelolaan dan ibadahnya.

Muhammadiyah menyediakan sekolah, pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi atau universitas untuk seluruh masyarakat.

Semua itu bukan hanya untuk anggota-anggotanya saja.

SMPM 5 Pucang SBY

Keluarga muslim dan keluarga non-muslim pun bisa masuk ke lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Begitu pula Rumah Sakit Muhammadiyah yang melayani semua lapisan dan golongan masyarakat, bukan hanya anggotanya.

Rumah sakit tersebut melayani semua orang, termasuk para wisatawan mancanegara seperti aksi RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Juni 2026.

Itulah hakikat dakwah yang tidak membeda-bedakan objeknya.

Giat persyarikatan tidak mengenal diskriminasi sama sekali.

Sejak zaman KH. Ahmad Dahlan hingga zaman baru saat ini, semua amal usaha berbagai bidang Muhammadiyah bersikap inklusif dan terbuka untuk umum, termasuk media massanya.

Karakter Berbaik Sangka 

Apalagi Muhammadiyah menanamkan jiwa husnuzan (berbaik sangka) dan berbaik hati pada kadernya.

Mereka menjauhi sifat sebaliknya, yaitu suuzan (berburuk sangka) dan berburuk hati.

Sebab itu, Muhammadiyah tidak akan menaruh curiga pada orang lain, apalagi pada kadernya sendiri, dan mengharapkan hal serupa pada sesama kader.

Adab dan pendidikan ini yang membuat Muhammadiyah dapat menyesuaikan diri dalam setiap zaman dan perkembangan dunia.

Sebab itulah persyarikatan tetap maju dan berkembang dengan baik karena memiliki karakteristik abadi yang berterima di segala zaman.

Karakteristik itu berupa sifat inklusif dan berbaik sangka, bukan eksklusif dan berburuk sangka.

Sikap selalu berbaik sangka dan tanpa curiga ini mendorong Muhammadiyah untuk bekerja sama dengan berbagai golongan di Indonesia dan dunia.

Mereka menjalin kerja sama dakwah, pendidikan, sosial, kesehatan, dan kemanusiaan dengan lembaga-lembaga nasional dan internasional.

Wajar jika kepercayaan dunia kepada Muhammadiyah semakin mengalami kemajuan dan peningkatan.

Apresiasi ini datang baik dari dunia Islam maupun belahan dunia lainnya.

Kehadiran persyarikatan di luar negeri makin bertambah luas seiring berdirinya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM).

Begitu pula berdirinya berbagai amal usaha Muhammadiyah di luar negeri, seperti di Mesir, Australia, Malaysia, dan Spanyol.

Semua ini semakin memperjelas kedudukan persyarikatan sebagai organisasi inklusif, husnuzan, dan modern, yang menjadi bagian dari sikap serta kepribadian kader dan warganya.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/07/2026 12:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu