“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal [8]: 60).
Ayat tersebut bukan sekadar memerintahkan umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan fisik, tetapi juga menjadi landasan penting dalam membangun kekuatan sumber daya manusia melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.
Kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh sejarah besarnya, melainkan juga oleh kemampuannya melahirkan generasi penerus yang berilmu, berakhlak, tangguh, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Tapak Suci sebagai Gerakan Kaderisasi Muhammadiyah
Dalam konteks itulah Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) hadir sebagai salah satu instrumen kaderisasi Muhammadiyah yang unik dan strategis.
Pendekar Besar M. Barie Irsyad bersama para tokoh lainnya mendirikan Tapak Suci pada 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta sebagai lebih dari sekadar perguruan pencak silat.
Tapak Suci merupakan gerakan dakwah yang membina manusia secara utuh: jasmani yang kuat, akal yang cerdas, dan ruhani yang kokoh.
Sebagai organisasi otonom (Ortom) ketujuh Muhammadiyah, Tapak Suci melengkapi peran kaderisasi yang telah dijalankan oleh ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Hizbul Wathan (HW).
Masing-masing memiliki ruang pengabdian yang berbeda, namun seluruhnya bermuara pada tujuan yang sama, yaitu membangun kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa.
Keunikan Tapak Suci terletak pada model kaderisasinya yang berlangsung tanpa henti.
Tapak Suci membina anggotanya lintas usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga para senior.
Kaderisasi juga berlangsung lintas jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak mengenal batas usia. Pembentukan karakter merupakan proses sepanjang hayat.
Tidak hanya itu, Tapak Suci juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Beragam latar belakang sosial, tradisi, dan lingkungan pendidikan bertemu dalam semangat persaudaraan tanpa sekat.
Bahkan dalam perkembangan internasasionalnya, Tapak Suci hadir di berbagai negara, seperti Belanda, Jerman, dan sejumlah negara lainnya.
Kehadiran anggota yang berasal dari berbagai latar belakang agama menunjukkan bahwa nilai-nilai sportivitas, kedisiplinan, kemanusiaan, dan persaudaraan bersifat universal.
Pada saat yang sama, Tapak Suci tetap menjaga identitasnya sebagai organisasi dakwah Muhammadiyah yang berlandaskan ajaran Islam. Keragaman profesi para anggotanya pun menjadi bukti bahwa Tapak Suci mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Petani, pedagang, buruh, guru, dosen, aparatur sipil negara, anggota TNI dan Polri, hingga para profesional berkumpul dalam satu ikatan persaudaraan.
Mereka dipersatukan bukan oleh status sosial, tetapi oleh semangat untuk terus belajar, berlatih, dan mengabdi.
Sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Tapak Suci menjadikan firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125 sebagai pedoman pembinaan. Tapak Suci mengajak kepada jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.
Karena itu, latihan Tapak Suci sesungguhnya bukan hanya menempa keterampilan bela diri, melainkan juga membangun karakter, disiplin, tanggung jawab, serta kepemimpinan.
Muktamar XVI dan Estafet Kepemimpinan Berkemajuan
Memasuki usia ke-63 tahun, Tapak Suci akan menyelenggarakan Muktamar XVI pada 6–9 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang dengan tema “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia.”
Tema tersebut menggambarkan tekad untuk tetap berpijak pada nilai-nilai luhur warisan para pendiri.
Pada saat yang sama, tema tersebut juga mencerminkan kesiapan Tapak Suci menjawab tantangan global melalui inovasi, profesionalisme, dan penguatan tata kelola organisasi.
Muktamar bukan sekadar forum memilih pemimpin, melainkan momentum memperkuat estafet kaderisasi.
Kepemimpinan yang lahir diharapkan mencerminkan falsafah Jawa yang sarat makna, yakni Pinter, Bener, Kober, dan Seger.
Pinter, berarti memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, berpikir visioner, bijaksana, serta mampu membaca perubahan zaman.
Dalam perspektif Islam, sifat ini sejalan dengan fathanah.
Bener, berarti menjunjung tinggi kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan keberanian menegakkan kebenaran.
Kepemimpinan yang benar akan melahirkan kepercayaan dan keteladanan.
Kober, berarti memiliki dedikasi tinggi serta rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta demi kemajuan organisasi dan kemaslahatan umat.
Seorang pemimpin tidak sekadar menikmati jabatan, tetapi hadir sebagai pelayan bagi anggotanya.
Seger, berarti sehat jasmani dan rohani sehingga mampu menjalankan amanah dengan penuh semangat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun keduanya memiliki kebaikan.
Kaderisasi tidak pernah dan tidak boleh mengenal kata selesai. Selama masih ada generasi yang harus dibimbing, nilai yang harus diwariskan, dan peradaban yang harus dibangun, selama itu pula kaderisasi harus terus berjalan.
Inilah makna “Kaderisasi Tiada Henti“. Makna tersebut terwujud dalam upaya membangun manusia yang kuat fisiknya, luhur akhlaknya, cerdas pikirannya, serta luas pengabdiannya.
Selamat bermuktamar kepada seluruh keluarga besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Semoga Muktamar XVI melahirkan kepemimpinan yang amanah dan visioner.
Lebih dari itu, juga melahirkan pemimpin yang mampu membawa Tapak Suci semakin modern, mandiri, mendunia, sekaligus tetap menjadi kawah candradimuka lahirnya kader-kader terbaik Muhammadiyah, umat, dan bangsa.
Bravo Tapak Suci. Berprestasi, Berakhlak, Mendunia.





0 Tanggapan
Empty Comments