Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyelamatkan Karakter Anak Perspektif Islam

Iklan Landscape Smamda
Menyelamatkan Karakter Anak Perspektif Islam
Oleh : Nashrul Mu'minin, S.Pd, C.PW Konten Writer di Yogyakarta

Anak-anak Indonesia sedang tumbuh dalam sebuah zaman yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka hidup di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia digital.

Dahulu rumah menjadi tempat pertama pembentukan karakter, sekolah menjadi ruang belajar utama, dan lingkungan sekitar menjadi arena bersosialisasi.

Kini seluruh ruang tersebut telah melebur dengan ruang digital yang tidak mengenal batas waktu maupun tempat.

Seorang anak dapat belajar, tertawa, menangis, bahkan mengalami kekerasan psikologis tanpa harus keluar dari kamar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan anak pada abad ke-21 bukan hanya persoalan kurikulum atau kualitas sekolah.

Tantangan sesungguhnya menyangkut siapa yang sebenarnya membentuk kepribadian anak-anak setiap hari.

Persoalan yang paling mengkhawatirkan adalah bergesernya otoritas pendidikan dari keluarga kepada algoritma media sosial.

Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar telepon pintar. Sementara itu, waktu berdialog dengan orang tua semakin sedikit.

Dalam kondisi demikian, anak-anak tidak lagi memperoleh nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan keluarga.

Mereka justru menyerap nilai-nilai tersebut melalui konten yang muncul di beranda media sosial.

Ancaman Cyberbullying Anak Digital

Algoritma tidak pernah mempertimbangkan benar atau salah, baik atau buruk. Sistem ini hanya mengejar perhatian pengguna demi keuntungan metrik semata.

Akibatnya, anak-anak sangat rentan menyerap perilaku konsumtif, kekerasan verbal, budaya membandingkan diri, hingga normalisasi perilaku yang bertentangan dengan nilai moral.

Fenomena tersebut melahirkan berbagai persoalan psikologis yang semakin nyata.

Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya kecemasan sosial (social anxiety), rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO), depresi, dan kesepian.

Dampak buruk lainnya meliputi rendahnya harga diri (low self-esteem) hingga kecanduan digital (digital addiction).

Anak tidak lagi merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Setiap hari mereka membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial.

Lebih jauh lagi, fenomena perundungan (bullying) telah berubah menjadi cyberbullying yang mendatangkan dampak jauh lebih berat. Dahulu ejekan akan berhenti ketika anak pulang sekolah.

Kini penghinaan dapat berlangsung selama dua puluh empat jam melalui komentar, pesan pribadi, maupun unggahan media sosial. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam hitungan minggu.

Namun, luka psikologis akibat penghinaan terus-menerus dapat membekas hingga manusia menginjak usia dewasa. Banyak anak memilih diam karena takut mendapat cap sebagai sosok yang lemah.

Padahal, mereka sedang mengalami tekanan mental yang sangat serius di dalam kesunyiannya. Di sisi lain, keluarga juga menghadapi tantangan kehidupan yang tidak ringan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kesibukan ekonomi membuat banyak orang tua memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mendengarkan cerita anak. Tidak sedikit orang tua menggantikan kehadiran emosional mereka dengan memberikan gawai agar anak tenang.

Padahal anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan biaya sekolah. Mereka juga membutuhkan perhatian, pelukan, dialog, serta rasa aman yang tulus.

Fondasi Keluarga Menurut Al-Qur’an 

Hubungan emosional yang hangat merupakan fondasi utama kesehatan mental seorang anak. Ketika hubungan tersebut renggang, dunia digital yang belum tentu memberikan nilai-benar akan mengisi ruang kosong itu.

Islam sejak awal telah menempatkan pendidikan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan manusia.

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Luqman mendidik anaknya melalui dialog yang penuh kasih sayang, bukan melalui ancaman atau kekerasan.

Allah Swt. berfirman: “Ya bunayya la tusyrik billah, innas-syirka lazhulmun ‘azhim.” Artinya: “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Panggilan “Ya Bunayya” (wahai anakku yang tercinta) menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam selalu dimulai dengan kelembutan, kedekatan emosional, dan kasih sayang.

Nilai psikologis dalam ayat ini menekankan pentingnya secure attachment, yaitu ikatan emosional yang aman antara orang tua dan anak.

Ikatan yang aman tersebut menjadi dasar utama perkembangan kepribadian anak yang sehat. Rasulullah saw. juga menegaskan nilai kasih sayang ini dalam hadis yang sangat terkenal.

Beliau bersabda: “Laisa minna man lam yarham shoghirona wa yuwaqqir kabirona.” Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak menghormati orang yang lebih tua.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang bukan sekadar sikap pribadi, melainkan identitas utama seorang Muslim.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih akan belajar menghargai dirinya sendiri, memiliki empati, serta mampu membangun hubungan sosial yang sehat.

Sebaliknya, anak yang kerap menerima kekerasan verbal maupun emosional lebih rentan mengalami gangguan psikologis.

Mereka juga berpotensi besar mengulangi pola kekerasan tersebut kepada orang lain pada masa depan.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab menjaga keluarganya dari kerusakan moral.

Allah Swt. berfirman: “Ya ayyuhalladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naro.” Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Umat Islam tidak boleh memaknai ayat ini sebatas kewajiban mengajarkan ibadah ritual saja. Pemimpin keluarga wajib menjaga kesehatan moral, mental, dan spiritual seluruh anggota keluarga.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu