Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

M. Saleh Ibrahim, Ketua Muhammadiyah Jatim yang Ikut Rumuskan Kepribadian Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
M. Saleh Ibrahim, Ketua Muhammadiyah Jatim yang Ikut Rumuskan Kepribadian Muhammadiyah
M. Saleh Ibrahim, Ketua Muhammadiyah Jawa Timur, 1959-1965 (Foto: Dok/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS

Selain dikenal organisatoris, Saleh Ibrahim juga dikenal ulama. Ia pernah “nyantri” di sebuah pesantren di Surabaya, dan rajin membaca berbagai buku. Ditambah lagi suaranya yang cukup keras dan jernih, membuatnya menjadi juru dakwah yang banyak digemari umat.

Dalam catatan Ketua PDM Gresik 1960-1995, alm. H Amanullah Adnan, Saleh Ibrahim adalah seorang juru dakwah yang cukup lihai. Dalam pengajian pada 1 April 1955, Saleh Ibrahim secara lugas menjelaskan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang ‘hukum mengimani Nabi sesudah Nabi Muhammad saw’.

Saleh Ibrahim ternyata juga punya cara unik saat berangkat mengisi pengajian. Pada zamannya tersebut, berbagai daerah yang tidak dilewati jalur kereta api, mengandalkan becak. Meski pernah menjadi anggota Konstituante, ia tetap tidak bisa membeli kendaraan bermotor, sehingga becaklah yang dijadikan ‘kendaraan dinas’ ke mana pun pergi.

Saleh biasanya naik becak dengan jarak tempuh sejauh tukang becaknya tersebut kuat mengayuh. Jika belum sampai, transit di adalah warung kopi. Setelah sama-sama minum, barulah Saleh berganti becak dan akan rehat di warung kopi, begitu seterusnya hingga sampai tujuan.

Anak dari Ibrahim yang lahir pada 1901 di Kampung Tembok Sayuran – sekitar Jl Tidar, Surabaya –, menjalani masa kecilnya sebagai yatim piatu dan ikut pamannya. Untuk mengisi perut, dia bekerja sebagai penjual bunga Tanjung pada pagi hari. Kondisi perekonomiannya mulai membaik saat menjadi penjahit konveksi, dibantu sang isteri: Siti Asyiyah sebagai pedagang konveksi yang lihai.

Di masa pra kemerdekaan, Saleh sekeluarga merasakan hidup sebagai pengungsi. Berangkat dari rumah, sekeluarga dan semua anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah (yang sekarang di Jl. Gresikan) berjalan kaki ke stasiun Waru (Sidoarjo) untuk naik kereta api. Setelah melewati Bangil dan Malang, mereka berhenti di Blitar dan pantinya bergabung dengan PAY Blitar pimpinan Khusairi.

Setelah itu berpindah ke Madiun, kemudian ke Blitar lagi, dan terakhir ke Bojonegoro. Sebagai salah satu pejabat di Penerangan Umum, Saleh serombongan saat di Bojonegoro bisa menginap di rumah Ketua Penerangan Umum. “Tidak tahunya, setelah pemberontakan PKI 1965 bisa dipadamkan, ternyata orang yang ditempati tersebut adalah orang PKI,” cerita Makhsusiyah yang juga Ketua PW NA Jatim periode pertama.

Pada akhir 1949, Saleh kembali ke Surabaya lagi. Berbeda dengan jalur pengungsian yang dilakukan dengan naik kereta api, perjalanan Bojonegoro-Surabaya ditempuh dengan jalan kaki. Ketika pagi menjelang, mereka mulai berjalan kaki, dan akan berhenti pada saat matahari mulai terbenam, dan beristirahat di rumah kepala desa. Rutinitas itu terus dijalaninya setiap hari hingga akhirnya sampai di Surabaya.

Sesampai di Surabaya, ia sempat aktif beberapa tahun sebagai pegawai Penerangan Umum Jatim dengan Ketua S.U. Bayasut. Tapi mulai kurang cocok dengan pekerjaannya, lalu oleh Ketua Kantor Penerangan Agama – sekarang Kementerian Agama –, Jatim, K.H. Misbach, Saleh diajak pindah ke Kantornya tersebut.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebagai Ketua Muhammadiyah tingkat Jatim, rumah Saleh juga menjadi kantor Persyarikatan. Selain sebagai tempat rapat, juga menjadi tempat menginap para tokoh luar daerah. “Bapak selalu mengatakan bahwa apa yang kami lakukan tersebut merupakan salah satu bentuk perjuangan,” kenang Makhsusiyah tentang cara Saleh memotivasi anak-anaknya.

Dalam keluarga, setelah Maghrib Saleh selalu mengajari anak-anaknya mengaji. Yang paling ditakuti para anaknya dalam momen ini adalah jika bapaknya sampai ber-dehem, karena hal itu juga menunjukkan ada kesalahan dari bacaan anaknya. “Jika bapak sudah ber-dehem dua kali, kami pun sudah pada menangis de ngan sendirinya,” tambah Makhsusiyah.

Pernikahannya dengan Siti Asyiyah dikaruniai delapan anak, yaitu Siti Umiyah, Hidayatullah, Misdaroyah, Fuad Azizi, Makhsusiyah, Mudariyah, Nihayatul Hanum, serta Suyoso Rifqi. Semangat Saleh dalam ber-Muhammadiyah diwariskan kepada anak-anaknya. Selain Makhsusiyah, Hidayatullah dikenal sebagai “tokoh” Hizbul Wathan, dan menantunya, Abdillah pernah menjadi Ketua PDM Surabaya. Saleh Ibrahim meninggal pada Jum’at, 1 Juli 1966, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal 1386 Hijriah.

***

Tentang biografi Ketua PWM Jatim periode awal juga bisa dilihat dalam tulisan PWMU.CO. Di antaranya adalah Ketua PWM 1950-1953, 1953-1956, serta 1956-1959, KH Abdulhadi: 6 Fakta Ketua Pertama PWM Jatim.

Juga Ketua PWM terlama di Jatim, KH M. Anwar Zain. Biografi Ketua PWM 1968-1971, 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985, dan 1985-1990, diturunkan dalam 3 tulisan berseri: KH M. Anwar Zain: Milik Muhammadiyah dan Umat Islam (1), kemudian KH M. Anwar Zain: Milik Muhammadiyah dan Umat Islam (2), serta KH M. Anwar Zain: Milik Muhammadiyah dan Umat Islam (Selesai).

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 22/05/2026 07:53
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡