Limbah selama ini identik dengan pencemaran lingkungan dan biaya pengelolaan yang tidak sedikit. Namun, pandangan tersebut berubah bagi anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah Pecinta Alam (IRMAPALA) SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang setelah mengikuti peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (13/6/2026).
Mengusung tema “Mengubah Beban Menjadi Berkah: Standarisasi Teknologi Air Limbah Sebagai Mesin Baru Nilai Ekonomi Karbon”, kegiatan ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, praktisi lingkungan, komunitas, hingga pelajar.
Melalui forum tersebut, para peserta diajak memahami bahwa pengelolaan air limbah tidak hanya berfungsi menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga memiliki potensi menciptakan nilai ekonomi melalui pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi terbarukan.
Bagi para pelajar, tema yang diangkat menjadi perspektif baru dalam memahami isu lingkungan. Selama ini limbah lebih sering dikaitkan dengan pencemaran dan kewajiban pengelolaan. Namun melalui berbagai paparan dan diskusi, peserta diperkenalkan pada teknologi yang mampu mengubah limbah menjadi sumber energi sekaligus peluang ekonomi.
Pemahaman tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap perubahan iklim dan upaya menekan emisi gas rumah kaca. Sektor pengelolaan limbah kini dipandang sebagai salah satu bidang yang memiliki potensi besar untuk mendukung target pengurangan emisi sekaligus menghasilkan nilai ekonomi melalui mekanisme karbon.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Arif Budianto, menilai keikutsertaan siswa dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga yang dapat memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Dalam forum itu mereka mendapatkan kesempatan yang baik untuk memperluas wawasan mengenai tantangan dan solusi lingkungan. Kami berharap mereka dapat menjadi bagian dari perubahan yang membawa semangat pelestarian lingkungan di sekolah maupun masyarakat,” ujarnya.
Menurut Arif, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas. Para siswa juga perlu mendapatkan pengalaman langsung untuk berinteraksi dengan praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan agar memahami bagaimana persoalan lingkungan ditangani dalam praktik nyata.
Salah satu peserta kegiatan, Ibrahim Saleh, yang juga Ketua IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai manfaat ekonomi dari pengelolaan limbah.
Sebelumnya, ia memandang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) hanya sebagai fasilitas pendukung yang membutuhkan biaya operasional dan perawatan cukup besar. Namun setelah mengikuti forum tersebut, ia memahami bahwa sistem pengolahan limbah dapat memberikan manfaat yang jauh lebih luas.
“Selama ini kita sering menganggap IPAL hanya sebagai beban ekonomi. Padahal, jika teknologinya dikelola dengan baik, sistem tersebut dapat menghasilkan keuntungan ekonomi melalui pemanfaatan gas metana dan mekanisme ekonomi karbon,” kata Ibrahim.
Menurutnya, gas metana yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah memiliki potensi dimanfaatkan sebagai sumber energi. Selain membantu mengurangi pencemaran, pemanfaatan gas tersebut juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon yang memiliki nilai dalam skema perdagangan karbon.
Ibrahim juga menyoroti pentingnya standarisasi teknologi dalam pengelolaan limbah. Menurutnya, manfaat lingkungan dan ekonomi yang dihasilkan tidak akan optimal tanpa sistem pengukuran, pencatatan, dan pelaporan yang memenuhi standar.
“Teknologi yang digunakan harus terstandar dan didukung data yang terukur. Dengan begitu, manfaat pengurangan emisi yang dihasilkan dapat diakui dan berpotensi memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.
Selain mengikuti sesi materi, para siswa juga terlibat dalam diskusi mengenai inovasi teknologi pengolahan air limbah, strategi pengurangan emisi karbon, serta peran generasi muda dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, sektor usaha, hingga masyarakat.
Bagi IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, keikutsertaan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengalaman yang memperkaya wawasan sekaligus memperkuat komitmen untuk terus menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk mendorong berbagai inisiatif pelestarian lingkungan, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Lebih dari sekadar memahami persoalan pencemaran, para siswa juga diajak melihat bahwa tantangan lingkungan dapat melahirkan berbagai peluang inovasi. Dengan dukungan teknologi, pengetahuan, dan pengelolaan yang tepat, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai beban dapat berubah menjadi sumber manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Salam Lestari!





0 Tanggapan
Empty Comments