Semut hanya binatang yang tubuhnya kecil, namun memiliki kekuatan jaringan yang besar. Mereka senantiasa hidup bersama jika sudah mencapai tujuan dan menikmatinya bersama-sama.
Tidak dinikmati sendiri-sendiri seperti yang dilakukan oleh sebagian manusia dalam aktivitas kerjanya.
Hewan semut termasuk yang dimuliakan oleh Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam Al Qur’an dimasukkan sebagai salah satu surat, An Naml (semut). Dalam hadits disebutkan, termasuk hewan yang harus dilindungi.
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad”. (HR. Abu Daud no. 5267 dan Ibnu Majah no. 3224).
Koordinasi Semut yang Solid
Bila memperhatikan hidup dan kehidupan semut, yang pertama kali di dapatkan pelajaran darinya adalah tentang jaringan organisasi dan koordinasinya.
Mereka benar-benar disiplin, tertib, teratur, kompak, solid, kerja-sama, saling bantu melindungi, satu komando, disiplin dan efektif efesien. (QS. An Naml:18).
Pertama, satu komando. Diperintah agar mereka masuk sarang, maka semua semut mematuhi komando tersebut.
Semua bergerak dan bekerja serempak. Mereka masuk ke dalam sarangnya masing- masing. Ini berkaitan dengan ketaatan pada pemimpin, satu komando.
Ketaatan ini juga perlu menjadi pelajaran dan diamalkan oleh manusia. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla menegaskan, “Hai orang- orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An Nisa :59).
Kedua, koordinasi yang solid.
Koordinasi adalah suatu proses pengaturan organisasi agar berjalan selaras dan tidak saling bertentangan antara anggota yang satu dengan lainnya dalam rangka mencapai tujuan. Semut koordinasinya benar- benar solid.
Belajar dari itu manusia juga diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al Anfal:46).
Ketiga, bekerja secara tertib teratur.
Semut dalam beraktivitas dan bekerja selalu tertib dan teratur. Bila mereka menuju suatu tempat berjalan dengan tertib dan teratur, sambil berbaris rapih. Demikian pula dalam membawa makanan dan berbaris masuk ke dalam lubang dan sarangnya..
Manusia juga diajarkan demikian oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(QS.Ash Shaff: 4).
Keempat, kompak bekerja sama. Semut dalam setiap keadaan selalu kompak dan bekerja-sama.
Mereka membawa makanan yang tidak bisa dibawa sendiri atau lebih besar dari tubuhnya akan diangkat dan diangkut bersama sama dan dengan cara kerja sama yang baik.
Bila ada yang mengganggu wilayah, sarang dan tempat perlintasannya, maka mereka dengan kompak akan berusaha untuk menghindari dan menyelamatkan diri mereka.
Namun jika terpaksa, maka semut akan melawan dengan cara menggigit siapapun yang mengganggunya tanpa pandang bulu. Seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seekor semut menggigit seorang nabi…”.(HR. Muslim no 2441).
Kelima, disiplin. Organisasi dan koordinasi semut benar- benar baik dan disiplin.
Saat semut diperintahkan masuk ke dalam sarangnya, serta merta mereka dengan penuh disiplin segera masuk ke dalam sarangnya tanpa bertanya lebih dahulu.
Semut juga disiplin dalam bekerja, bergotong royong, beraktivitas, membawa dan menyimpan makanan ke dalam sarangnya.
Mereka pun disiplin dalam berbaris, berjalan dan berlari. Begitu disiplin ditegakkan pada saat mereka menuju tempat makanan, mengangkat dan mengangkut makanan untuk disimpan di dalam sarang.
Bahkan mereka pun disiplin dalam bertasbih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka bertasbih sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“…Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu, lalu kamu membakar satu umat yang bertasbih (kepada Allah)? Mengapa kamu tidak membunuh seekor semut saja?'” (HR. Muslim No. 2241).
Semut yang menggigit itu saja yang boleh dibunuh. Sementara koloni dan sarangnya tidak boleh di rusak. Apalagi dirusaknya dengan cara dibakar.
Selain itu sarangnya dilarang disiram dengan air seni, seperti saat buang air kecil. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kencing di lubang tanah.” (HR. Abu Dawud no. 27, An-Nasa’i no. 34).
Disiplin yang dilakukan oleh semut ini menjadi pelajaran bagi manusia dalam bekerja, sesuai perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Amalan (pekerjaan) yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu (istiqamah dan disiplin) walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim).
Keenam, bekerja efektif efesien.Tidak ada semut yang berpangku tangan dalam berorganisasi, berkoordinasi dan bekerja.
Mereka bergotong royong, bekerja keras dan serius. Berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Mereka melakukan kerja benar-benar secara efektif dan efesien.
Semua makanan yang ditemuinya diangkat dan diangkut dengan cepat, tidak sampai satu hari selesai.
Tidak ada makanan atau benda yang dibawanya di tinggal di tengah jalan. Semua mereka usahakan dalam waktu yang cepat dapat dimasukkan dan di simpan dalam sarangnya.





0 Tanggapan
Empty Comments