Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memetik Pelajaran Berorganisasi, Koordinasi, dan Komunikasi Efektif dari Semut

Iklan Landscape Smamda
Memetik Pelajaran Berorganisasi, Koordinasi, dan Komunikasi Efektif dari Semut
Semut hanya binatang yang tubuhnya kecil, namun memiliki kekuatan jaringan yang besar. Foto: Juliocb/pixabay.

Kepada manusia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bekerja secara efektif efisien: “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya secara itqan (profesional, efektif efisien, konsisten, dan selesai dengan baik).” (HR. Baihaqi).

Komunikasi Cepat dan Efektif

Semut memiliki sistem komunikasi yang khas, canggih, cepat dan efektif.Diantara mereka saling memberi tahu dan berkomunikasi dengan baik.

Sesama mereka dengan cepat menyampaikan informasi bila ada bahaya atau masalah apapun yang akan mereka hadapi. (QS. An Naml:18).

Dalam dunia ilmu pengetahuan hewan (biologi), semut berkomunikasi melalui tiga media atau alat.

Pertama dan utamanya menggunakan cairan kimia (feromon atau sinyal kimia).

Semut mengeluarkan zat kimia khusus melalui kelenjar di tubuhnya. Setiap koloni atau kelompok semut memiliki “kosakata” feromon yang berbeda (hingga 20 jenis) untuk menyampaikan pesan tertentu.

Seperti tentang petunjuk arah ke sumber makanan, penanda wilayah, atau sinyal bahaya.

Pada saat semut menemukan makanan, mereka akan meneteskan feromon di sepanjang jalan kembali ke sarang sehingga semut lain bisa mengikuti barisan tersebut.

Baik pada saat mereka menuju makanan dan kembalinya ke sarang. Cairan kimia ini bukti bahwa semut dan hewan lainnya diciptakan dari 50-90 persen air. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla:

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan diatas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An Nur:45).

Kedua, antena dan sentuhan

Selain cairan kimia, semut dapat saling berkomunikasi karena memiliki antena berlekuk di kepalanya. Dua antena di kepalanya itu berfungsi sebagai alat pencium, pengecap, pendeteksi dan peraba.

Karena itu saat semut saling bertemu dan berhubungan, mereka saling menyentuhkan antena atau kaki depan (foreleq) satu sama lain.

Dengan cara itu mereka saling berkomunikasi dan mengenali anggota koloni yang sama atau bertukar informasi langsung. (QS. An Naml:18, An Nur:45).

Ketiga, getaran dan suara.

Semut tidak memiliki telinga ataupun pita suara seperti manusia. Namun mereka merasakan getaran suara yang merambat melalui tanah menggunakan reseptor khusus di kaki, dada, dan antena mereka. Namun demikian sesama mereka bisa bicara dan bersuara, termasuk bertasbih. (QS.Al Isra:44)
Beberapa jenis semut juga bisa mengeluarkan suara peringatan darurat dengan cara menggosokkan bagian tubuhnya (stridulasi). Karena itu manusia juga perlu memiliki alat peringatan darurat seperti sirene dan lain-lain. (QS. Al Baqarah:173).

Komunikasi efektif dengan 5 S

Komunikasi semut dengan sesamanya yang efektif juga tidak terlepas dari 5 S, yakni: Silaturrahim, sapa, salam, senyum dan sopan-santun. Silaturrahim semut luar biasa sekali sehingga hubungan persaudaraan mereka begitu kuatnya.

Silaturrahim ini bagi manusia diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983).

SMPM 5 Pucang SBY

Saling sapa atau tegur sapa sesama semut juga luar biasa. Setiap kali mereka bertemu tetap saling bertegur sapa dengan sesamanya. Hal ini juga menjadi contoh yang baik bagi manusia yang cenderung abai dan lupa atau tidak sama sekali.

Sebab dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diingatkan, “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.

Ketika keduanya bertemu, yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang paling dahulu memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari no. 6237 dan Muslim no. 2560).

Memberi dan menjawab salam juga biasa dilakukan oleh semut, hanya bentuk salamnya tidak ada yang tahu. Namun karena mereka senantiasa bertasbih tentu mereka saling bersalam dan bersalaman sebagai bagian dari tasbih mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Memberi salam dan menjawabnya disertai dengan berjabat tangan bagi manusia diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Jika seorang mukmin bertemu dengan mukmin yang lain, ia memberi salam padanya, lalu meraih tangannya untuk bersalaman, maka berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/59).

Senyum dan wajah berseri-seri juga ditunjukkan oleh semut pada saat diantara mereka saling bertemu di jalan, bahkan setiap kali mereka berjumpa. Sepertinya bagi mereka, tidak ada waktu yang terlewatkan untuk saling sapa, salam dan senyum.

Kepada manusia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan tentang keharusan menunjukkan senyum dan wajah berseri-seri ini, sebagaimana sabdanya,

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi no. 1956).

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim no. 2626).

Sopan santun juga ditunjukkan oleh semut pada saat mereka saling bertemu, sebagaimana ditunjukkan di antaranya: berhenti berjalan sebelum mereka bersalaman; mereka tidak memalingkan muka, dan mereka saat itu berjalan sederhana dan perlahan-lahan.

Bersopan santun bagi manusia telah diajarkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu…”. (QS. Luqman:18-19).

Beberapa pelajaran yang ditunjukkan oleh semut, berkaitan dengan cara berorganisasi, berkoordinasi dan berkomunikasi efektif ini telah jelas dan terang langsung tersurat disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla berikut ini:

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang- sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.'” (QS. An- Naml: 18).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 13/10/2026 01:45
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu