Pernahkah kita melakukan kesalahan, lalu berjanji tidak akan mengulanginya? Namun, beberapa waktu kemudian, kita kembali jatuh pada kesalahan yang sama. Hati menyesal. Lisan memohon ampun. Tetapi, langkah kembali tergelincir.
Rasa bersalah pun datang. Kita mulai bertanya kepada diri sendiri: masih pantaskah aku memohon ampun kepada Allah? Dosaku terlalu banyak. Kesalahanku terus berulang. Jangan-jangan Allah sudah tidak mau menerima tobatku.
Jangan biarkan pikiran itu membuat kita menjauh dari Allah. Justru ketika menyadari banyaknya dosa, saat itulah kita perlu semakin mendekat kepada-Nya.
Allah tidak pernah menutup pintu tobat bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin kembali.
Saat kita lalai, Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Saat kita bermaksiat, jantung masih berdetak dan udara masih memenuhi paru-paru. Bahkan ketika kita berkali-kali melakukan kesalahan, kesempatan untuk bertobat masih terbuka selama ajal belum tiba.
Betapa luas rahmat Allah. Betapa besar kasih sayang-Nya kepada manusia yang sering lupa, lalai, dan terjerumus dalam dosa.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Ayat ini merupakan bagian dari Surah az-Zumar ayat 53. Allah melanjutkan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pesan ini begitu kuat. Sebesar apa pun dosa yang pernah kita lakukan, jangan sampai kita merasa tidak memiliki jalan pulang. Rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa yang kita sesali.
Namun, jangan pula salah memahami kasih sayang Allah. Luasnya ampunan bukan alasan untuk sengaja mengulang maksiat. Kesempatan hidup bukan izin untuk terus berbuat dosa. Sebaliknya, kesempatan itu adalah panggilan agar kita segera kembali.
Jangan mengukur keridaan Allah hanya dari panjangnya umur dan banyaknya nikmat.
Ada orang yang hidup berkecukupan, tetapi lupa bersyukur. Hartanya bertambah, tetapi ketaatannya berkurang. Usianya terus berjalan, tetapi waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengejar dunia. Ia mengira semuanya baik-baik saja karena hidupnya terasa lancar.
Padahal, nikmat yang terus mengalir seharusnya membuat kita semakin bersyukur dan mendekat kepada Allah. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya kesempatan hidup ketika kesempatan itu hampir habis.
Ketika Sebuah Kesalahan Menjadi Jalan Pulang
Bayangkan seorang ayah yang pulang bekerja menjelang malam. Di perjalanan, ia menerima telepon dari anaknya. Sang anak mengingatkan bahwa ia sudah berjanji menghadiri acara sekolah, tetapi kembali terlambat karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan.
Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya telah tidur. Di meja makan, masih tersisa makanan yang disiapkan keluarga. Ia duduk terdiam. Bukan karena tidak mampu membeli makanan yang lebih baik, melainkan karena menyadari ada sesuatu yang tidak bisa diganti dengan uang: waktu bersama orang-orang yang dicintainya.
Malam itu ia berjanji akan berubah. Esoknya, ia mulai mengatur waktu dan berusaha menepati janji. Ia mungkin belum langsung sempurna. Bisa jadi suatu saat ia kembali lalai. Namun, setiap kali menyadari kesalahannya, ia belajar memperbaiki diri.
Begitulah semestinya kita menyikapi dosa. Penyesalan bukan tempat untuk berlama-lama meratapi diri. Penyesalan harus menjadi titik awal perubahan.
Ketika menyadari telah menyakiti orang lain, mintalah maaf dan perbaiki kesalahan. Ketika terbiasa meninggalkan salat, mulailah menjaga salat lima waktu. Ketika lisan sering melukai, belajarlah menahan kata-kata. Ketika terjerat kebiasaan buruk, jauhi lingkungan dan pemicu yang membuat kita kembali terjatuh.
Bertobat bukan sekadar ucapan istigfar. Tobat adalah keberanian mengakui kesalahan, menghentikan dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika dosa berkaitan dengan hak orang lain, kita juga perlu berusaha mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf dengan cara yang tepat.
Perubahan mungkin tidak selalu mudah. Ada kebiasaan yang telah mengakar. Ada godaan yang terus datang. Ada pula kelemahan diri yang membuat seseorang kembali tergelincir.
Namun, terjatuh bukan alasan untuk berhenti berusaha. Jika kembali melakukan kesalahan, segera bertobat lagi dengan sungguh-sungguh. Jangan merencanakan maksiat sambil mengandalkan ampunan Allah. Datanglah kepada-Nya dengan penyesalan yang jujur dan tekad untuk memperbaiki diri.
Jangan Menunggu Hati Menjadi Mati
Salah satu bahaya dosa bukan hanya kesalahan yang kita lakukan, melainkan ketika hati mulai terbiasa dengannya. Pada awalnya, kita merasa gelisah setelah berbuat dosa. Lama-kelamaan, kegelisahan itu menghilang. Kita tidak lagi merasa bersalah. Bahkan, kita mulai mencari pembenaran.
Karena itu, jangan abaikan suara hati yang mengajak kita kembali. Rasa menyesal bisa menjadi awal yang baik jika mendorong kita untuk berubah.
Allah berfirman dalam lanjutan Surah az-Zumar ayat 54:
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kesempatan tidak berlangsung selamanya. Kita tidak mengetahui kapan ajal menjemput. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa esok pagi kita masih memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan hari ini.
Jangan menunggu sakit untuk belajar bersyukur atas kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti kehadiran orang-orang tercinta. Jangan menunggu usia senja untuk mulai mendekat kepada Allah.
Jika hari ini hati tergerak untuk bertobat, jangan menundanya. Jika ada salat yang selama ini diabaikan, mulailah menjaganya. Jika ada kebiasaan buruk yang ingin ditinggalkan, ambillah langkah nyata. Jika ada hak orang lain yang belum ditunaikan, berusahalah menyelesaikannya.
Tidak harus menunggu menjadi manusia sempurna untuk memulai kebaikan. Kita kembali kepada Allah justru karena menyadari bahwa diri ini penuh kekurangan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hidup juga tentang siapa yang mau mengakui kesalahannya, memperbaiki diri, dan terus berjuang di jalan yang diridai Allah.
Jangan biarkan dosa membuat kita putus asa. Jangan pula biarkan luasnya ampunan membuat kita menunda tobat.
Selama kesempatan masih ada, pintu itu masih terbuka. Kembalilah kepada Allah dengan hati yang tulus. Sebab, kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan yang masih tersisa.
Jangan menunggu esok untuk mulai bertobat. Bisa jadi, kesempatan terbaik itu adalah hari ini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments