Mahasiswa Semester 5 Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengikuti praktik lapangan pengamatan rukyatul hilal bersama guru dan siswa Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, Paciran, Lamongan, Ahad (11/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Poskal (Planetarium Observatorium Astronomi Karangasem Lamongan) ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami proses pengamatan hilal dan penerapan teori Ilmu Falak di lapangan.
Para peserta tiba di lokasi pada pukul 16.10 WIB. Sepuluh menit kemudian, peserta mulai mempersiapkan dan memasang alat serta bahan praktikum.
Persiapan Rukyatul Hilal
Persiapan dilakukan dengan menentukan arah mata angin menggunakan benang, kemudian menggunakan busur derajat untuk membantu menentukan arah pengamatan dan menandai azimut Matahari serta Bulan.
Setelah seluruh alat terpasang dengan benar, peserta beristirahat sejenak sembari menunggu waktu pengamatan.
Pada pukul 17.03 WIB, para siswa kembali berkumpul di titik praktikum. Dosen Ilmu Falak HKI Umsura, Bahrul Ulum MPd bersama Maslahul Falah SAg.
Salah satu praktisi di Poskal, memberikan penjelasan mengenai proses rukyatul hilal, cara mengetahui garis ufuk, serta faktor-faktor yang memengaruhi keterlihatan objek langit.
Ulum menjelaskan bahwa, kondisi langit yang tidak berawan belum tentu membuat pengamatan berlangsung optimal.
Kelembapan udara yang tinggi juga dapat mengurangi kejernihan pandangan, terutama ketika pengamat berusaha mengidentifikasi batas antara laut dan ufuk.
“Ini tidak ada awan, melainkan kelembapan udara yang tinggi sangat memengaruhi. Yang pertama, mendung atau awan; yang kedua, kelembapan udara sangat tinggi” jelasnya.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa pengamatan hilal tidak hanya bergantung pada kesiapan alat dan ketepatan arah, tetapi juga pada kondisi atmosfer di sekitar lokasi pengamatan.
Menguji Ketepatan Perhitungan melalui Pengamatan
Pada pukul 17.20 WIB, peserta kembali memusatkan perhatian pada arah yang telah ditandai sebagai persiapan menjelang waktu pengamatan. Peserta diarahkan untuk tetap memperhatikan azimut dan mengikuti perkembangan waktu agar proses pengamatan berlangsung sesuai dengan prosedur yang telah dijelaskan.
Maslahul Falah SAg. menjelaskan bahwa rukyatul hilal, tidak sekadar menjadi aktivitas mengamati fenomena langit. Tetapi juga memberikan kesempatan untuk membandingkan hasil perhitungan astronomi dengan fenomena yang diamati secara langsung.
“Fungsi rukyatul hilal atau kita sering menyebut Observasi Hilal Edukatif, kita bisa menyaksikan terbenamnya Matahari. Dan kita sekaligus bisa menguji sejauh mana kemampuan kita menghitung, presisi atau tidaknya sesuai hitungan” ungkap Maslahul Falah.
Ia juga menjelaskan bahwa apabila terdapat perbedaan antara perkiraan perhitungan dan hasil pengamatan, evaluasi perlu dilakukan terhadap perhitungan yang digunakan.
Dengan demikian, peserta dapat belajar memahami pentingnya ketelitian dalam perhitungan astronomi sekaligus menyaksikan fenomena Matahari terbenam.
Manfaatkan Teknologi di Tengah Kendala Pengamatan
Sekitar pukul 17.25 WIB, peserta menghadapi kendala dalam pengamatan visual akibat kondisi atmosfer yang kurang mendukung.
Tingginya kelembapan udara dan berkurangnya kejernihan pandangan di sekitar ufuk barat menyulitkan peserta untuk mengamati objek langit secara optimal.
Sebagai alternatif pembelajaran, para siswa memanfaatkan teknologi melalui aplikasi astronomi pada telepon pintar, salah satunya Stellarium.
Aplikasi ini membantu pengguna mengenali posisi benda-benda langit berdasarkan pengaturan waktu dan lokasi. Melalui aplikasi tersebut, peserta dapat mempelajari perkiraan posisi benda langit meskipun pengamatan secara langsung mengalami hambatan.
Dalam proses praktikum, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya menjaga ketepatan arah berdasarkan azimut hilal.
Pengamat tidak cukup hanya mengandalkan perkiraan arah, tetapi perlu mengikuti arah pengamatan dan waktu yang telah ditentukan hingga proses pengamatan selesai.
Kegiatan pengamatan dan pembelajaran berlangsung hingga sekitar pukul 17.49 WIB. Meskipun kondisi cuaca menjadi kendala, praktikum tetap memberikan pengalaman kepada mahasiswa mengenai tahapan persiapan, penentuan azimut, penggunaan alat bantu, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran astronomi.
Melalui praktik lapangan ini, mahasiswa HKI UM Surabaya diharapkan mampu menghubungkan teori Ilmu Falak yang dipelajari di perkuliahan dengan penerapannya di lapangan.
Kegiatan tersebut sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa bahwa rukyatul hilal memerlukan ketelitian perhitungan, ketepatan arah dan waktu, serta pertimbangan terhadap kondisi atmosfer.
Praktik di Poskal Karangasem Lamongan ini menjadi pengalaman pembelajaran yang mempertemukan teori dan praktik.
Sekaligus memperkenalkan kepada mahasiswa pentingnya observasi sebagai bagian dari kajian Ilmu Falak.





0 Tanggapan
Empty Comments