Mengukur panjang benda ternyata tidak selalu menghasilkan bilangan yang sama. Pengalaman inilah yang menjadi pintu masuk pembelajaran matematika tentang satuan tak baku di kelas 2 Bumblebee, SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Selasa (13/10/2026).
Melalui kegiatan langsung atau hands-on activity, anak-anak mengukur benda di sekitar kelas, membandingkan hasilnya, lalu mencari alasan di balik perbedaan yang mereka temukan.
Pembelajaran dalam kegiatan Lesson Study ini melibatkan tim guru matematika sebanyak 4 orang. Perhatian diarahkan pada proses anak-anak membangun pemahaman: bagaimana mereka memilih satuan, melakukan pengukuran, mencatat hasil, dan menjelaskan perbedaan ukuran dengan teman.
Tali rafia, klip warna-warni, depa, langkah, dan jengkal menjadi alat sekaligus satuan yang digunakan dalam eksplorasi. Almari, rak mini library, meja, dan papan tulis pun berubah menjadi objek penyelidikan matematika. “Anak-anak belajar bahwa panjang benda dapat dinyatakan melalui banyaknya satuan yang digunakan untuk mengukurnya,” ujar Nurul Mahmudiyah SPd, guru Matematika yang sedang buka kelas.
Bagian menarik muncul ketika mereka membandingkan hasil pengukuran. Benda yang diukur sama, tetapi bilangan yang diperoleh bisa berbeda. Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan penting: mengapa hasil pengukuranku tidak sama dengan hasil pengukuran temanku?
Melalui perbandingan itu, anak-anak menemukan bahwa ukuran anggota tubuh setiap orang tidak selalu sama. Jengkal yang lebih lebar membutuhkan lebih sedikit pengulangan untuk mengukur meja.
Sebaliknya, jengkal yang lebih kecil perlu digunakan lebih banyak kali. Begitu pula dengan depa dan langkah: perbedaan panjang satuan dapat menghasilkan bilangan pengukuran yang berbeda, meskipun panjang bendanya tetap.
Temuan tersebut membantu anak-anak memahami bahwa bilangan hasil pengukuran yang lebih besar belum tentu menunjukkan benda yang lebih panjang.
“Ketika satuan yang digunakan berbeda, hasilnya tidak dapat langsung dibandingkan hanya berdasarkan bilangannya. Mereka perlu memperhatikan satuan dan ukuran satuan tersebut,” jelas Nurul Mahmudiyah.
Cara Berpikir Siswa
Penggunaan tali rafia dan klip warna-warni juga membuka pembahasan tentang pentingnya keseragaman satuan. Potongan rafia yang berbeda panjang dapat menghasilkan hitungan berbeda. Pada klip, yang perlu diperhatikan adalah kesamaan panjangnya, bukan warnanya. Klip dengan panjang yang sama dapat menjadi satuan yang konsisten meskipun warnanya beragam.
Anak-anak juga diajak mencermati cara mengukur. Satuan perlu diletakkan berurutan dari titik awal yang sama, tanpa celah dan tanpa saling bertumpuk. Langkah yang kadang panjang dan kadang pendek, atau susunan klip yang renggang, dapat membuat hasil pengukuran berubah. Dengan demikian, perbedaan hasil menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali proses pengukuran.
Bagi tim guru matematika, kegiatan ini memberikan ruang untuk mengamati cara berpikir siswa.
“Hasil yang berbeda tidak berhenti sebagai jawaban benar atau salah, tetapi menjadi bahan untuk menelusuri pemahaman anak tentang hubungan antara panjang benda, ukuran satuan, dan banyaknya satuan,” ungkap Prima Ari Rosyida SPd, salah satu tim guru Matematika yang menjadi observer.
Melalui pembelajaran ini, kelas 2 Bumblebee belajar lebih dari sekadar menghitung jengkal atau menyusun klip. Mereka berlatih mengamati, membandingkan, mengajukan pertanyaan, dan menjelaskan alasan berdasarkan pengalaman langsung. Dari benda-benda sederhana di kelas, anak-anak menemukan gagasan penting: agar hasil pengukuran dapat dibandingkan secara adil, satuan dan cara mengukurnya perlu konsisten. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments