Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gagal Tawaf Ifadah, Tapi Allah Masih Memberi Kesempatan

Iklan Landscape Smamda
Gagal Tawaf Ifadah, Tapi Allah Masih Memberi Kesempatan
Penulis (paling kanan) usai melaksanakan tawaf ifadah, Ahad (31/5/2026). (Moh. Ernam)
pwmu.co -

Sepulang dari Armuzna, seluruh jamaah KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo memasuki masa pemulihan fisik. Setelah menjalani rangkaian ibadah yang menguras tenaga di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, fokus utama jamaah saat itu adalah beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh.

Salah satu agenda penting yang masih menanti adalah Tawaf Ifadah, rukun haji yang menjadi bagian utama penyempurna ibadah haji. Pelaksanaannya dijadwalkan pada 15 Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Sebenarnya, banyak jamaah, termasuk penulis, ingin segera menuntaskan ibadah tersebut. Sebab setelah Tawaf Ifadah selesai, praktis seluruh rangkaian ibadah haji telah sempurna dilaksanakan.

Namun kondisi fisik ternyata tidak selalu sejalan dengan keinginan.

Sejak sore hari, tubuh mulai terasa tidak nyaman. Badan meriang, tenggorokan terasa sakit, dan kepala sedikit pusing.

Meski demikian, persiapan keberangkatan tetap dilakukan. Pakaian ihram sudah dikenakan, tas kecil telah disiapkan, termasuk beberapa botol kosong untuk membawa pulang air zamzam.

Saat turun ke lobi hotel, jamaah mendapat informasi bahwa keberangkatan yang semula dijadwalkan pukul 21.00 waktu Arab Saudi diundur menjadi pukul 23.00.

Kesempatan itu dimanfaatkan untuk kembali ke kamar dan beristirahat sejenak.

Sebelum naik ke kamar, penulis sempat memeriksakan diri kepada dokter kloter. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi demam ringan.

“Sebaiknya istirahat dulu, Pak. Kondisinya sedang demam ringan,” saran dokter.

Beberapa obat diberikan, termasuk obat penurun panas, obat batuk, dan obat tenggorokan. Salah satunya memiliki efek samping yang cukup kuat, yakni menyebabkan kantuk.

Meski demikian, tekad untuk tetap mengikuti Tawaf Ifadah masih sangat kuat.

“Nanti jam sebelas malam saya bangun dan tetap ikut Tawaf Ifadah,” pikir penulis saat itu.

Namun manusia hanya bisa berencana.

Allah SWT yang menentukan.

Setelah meminum obat dan berbaring sejenak, penulis langsung tertidur pulas.

Sangat pulas.

Ketika terbangun, jarum jam telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Dengan panik, penulis segera turun menuju lobi hotel.

Namun suasana sudah sepi.

Tidak ada lagi jamaah yang menunggu.

Rombongan telah berangkat menuju Masjidil Haram.

Saat itu hanya ada satu kesimpulan yang bisa diterima.

Tawaf Ifadah malam itu gagal diikuti.

Tidak ada pilihan selain kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat.

Keesokan paginya, satu per satu jamaah mulai kembali ke hotel dengan wajah lega dan bahagia setelah menuntaskan Tawaf Ifadah.

“Pak Ernam ikut Tawaf Ifadah tadi malam?” tanya beberapa jamaah.

Penulis hanya tersenyum.

“Insyaallah nanti malam,” jawabnya.

Meski ada rasa kecewa, penulis meyakini bahwa jika Allah belum mengizinkan malam itu, maka pasti masih ada kesempatan lain yang telah dipersiapkan.

Keyakinan tersebut ternyata benar.

Tak lama kemudian, pembimbing ibadah kloter mengirimkan daftar jamaah yang belum melaksanakan Tawaf Ifadah.

Penulis langsung memasukkan nama ke dalam daftar tersebut.

SMPM 5 Pucang SBY

Jumlahnya tidak banyak. Sebagian besar jamaah telah menuntaskan rangkaian ibadah tersebut. Hanya tersisa beberapa orang, termasuk beberapa jamaah perempuan yang masih memiliki uzur syar’i.

Pembimbing ibadah kemudian menghubungi penulis untuk memastikan kondisinya.

Akhirnya disepakati bahwa akan diberangkatkan rombongan kecil khusus pada malam berikutnya untuk melaksanakan Tawaf Ifadah.

Kesempatan kedua itu akhirnya datang.

Selepas salat Isya, penulis kembali bersiap.

Meski sebenarnya tidak diwajibkan mengenakan pakaian ihram saat Tawaf Ifadah, penulis memilih tetap memakainya untuk menghadirkan suasana ibadah yang lebih khusyuk.

Sekitar pukul 21.00 waktu Arab Saudi, rombongan kecil yang terdiri atas lima jamaah, seorang pembimbing ibadah, dan seorang perawat kloter berangkat menuju Masjidil Haram.

Perjalanan malam itu terasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih santai.

Dan lebih personal.

Sesampainya di kawasan Masjidil Haram, rombongan sempat mencari jalur menuju pelataran Ka’bah sebelum akhirnya masuk melalui pintu King Abdul Aziz.

Ketika Ka’bah kembali terlihat di depan mata, rasa syukur langsung memenuhi hati.

Malam itu area tawaf cukup padat. Karena itu rombongan tidak memaksakan diri mendekat ke bangunan Ka’bah.

Yang dicari bukanlah posisi paling dekat, melainkan kekhusyukan dalam beribadah.

Tujuh putaran tawaf berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar 45 menit.

Setelah itu, rombongan melaksanakan salat sunnah dan meminum air zamzam sebelum melanjutkan sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah.

Tanpa direncanakan, jalur yang dipilih membawa rombongan ke area sa’i lantai dua yang relatif lebih lengang sehingga ibadah dapat dilakukan dengan lebih nyaman.

Langkah demi langkah dilalui hingga tujuh kali perjalanan antara Shafa dan Marwah berhasil diselesaikan.

Ketika seluruh rangkaian selesai, waktu telah menunjukkan sekitar pukul 01.00 dini hari.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, penulis tiba kembali di hotel.

Batuk memang masih tersisa.

Tenggorokan belum sepenuhnya pulih.

Namun hati terasa sangat tenang.

Sebab malam itu Allah SWT telah memberikan kesempatan kedua untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji.

Kesempatan yang sempat terasa hampir hilang.

Dengan selesainya Tawaf Ifadah dan sa’i, seluruh rangkaian ibadah haji akhirnya tuntas dilaksanakan.

Di tengah keheningan malam Kota Makkah, penulis hanya mampu memanjatkan doa:

“Ya Allah, terimalah amal ibadah kami. Berkahilah hidup kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Dan undanglah kami kembali menjadi tamu-Mu untuk menunaikan haji dan umrah di masa yang akan datang.”

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/06/2026 09:30
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu